Selasa, 20 Mei 2008

Dua Mercusuar, ITB dan ITS

SURYA, 7 Juli 2003
Oleh: Agus Purwanto*)

Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali tampil sebagai perguruan tinggi
terdepan dengan membuka program studi baru, sosioteknologi. Dari sisi
istilah, secara sederhana bidang ini dapat diduga sebagai perpaduan bidang
sosial dan eksakta yakni sains dan engineering. Demikianlah kenyataannya
seperti diuraikan lebih lanjut oleh Redi Panuju (RP) (Surya, 29/5/2003)
perihal mata kuliah yang ditawarkannya.

RP di bagian awal artikelnya juga mengutip pernyataan Krisnayana Yahya
pemerhati pendidikan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Menurut
Krisna, pemikiran untuk membuka jurusan sosial di ITS sudah puluhan
tahun lalu tetapi sampai saat ini tetap dicuekin. Kutipan yang hanya satu
baris tersebut menarik untuk dibahas lebih lanjut. Mengapa atau faktor-
faktor apa yang menyebabkan pencuekan tersebut.

Serupa Tapi Tak Sama

ITB dan ITS adalah dua dari sekitar 70 PTN yang tidak berbendera
universitas tetapi institut teknologi. Persamaan keduanya hanya sebatas
permukaan yang artifisial. Misalnya, keduanya sama-sama menjadi
perguruan tinggi (PT) favorit lulusan SMU. Lulusan keduanya sampai
beberapa tahun silam bergelar insinyur, gelar impian para bocah.
Persamaan lain yang juga berlaku untuk PT besar kita, adalah sama-sama
jago kandang.

Perbedaan keduanya cukup signifikan. Atmosfer akademik dua institut ini
sangat berbeda. Civitas akademika ITB terbiasa atau mempunyai tradisi
melakukan petualangan intelektual, berfikir besar dan global atau dalam
bahasa jatim berfikir ndhakik-ndhakik. Sementara insan ITS sangat
pragmatis.

Out put dari tradisi di atas banyak alumni ITB yang menonjol di luar
bidang formalnya ketika studi. Presiden pertama Sukarno dan dalang
Sutejo Jiwo adalah alumni sipil, sedangkan penyair Nirwan Dewanto
adalah alumni teknik geodesi. Ekonom Umar Juoro dan Rizal Ramli
keduanya alumni fisika. Dari kalangan pengusaha terdapat nama Aburizal
Bakri dan Fadel Muhammad. Dalam panggung politik kekinian ITB juga
memasok beberapa nama seperti Heri Akhmadi, Laksamana Sukardi,
Pramono Anung, Hatta Rajasa dan capres Adi Sasono yang juga mantan
ketua ICMI.

Fenomena di atas dapat diartikan bahwa “lintas disiplin” sudah dijalankan
secara informal. Sehingga langkah rektor Kusmayanto Kadiman membuka
jurusan sosioteknologi dapat dipandang sebagai kristalisasi dari proses
yang telah berlangsung lama ini. Di ITS diskursus lintas disiplin
eksakta-sosial tidak berkembang dan ada kesan bahwa PTN ini hanya
melahirkan teknisi.

Perbedaan keduanya juga dapat dijelaskan dari latar belakang
sosial-relijius tempat keduanya berada. Bandung adalah tempat kelahiran
organisasi Persatuan Islam (Persis) yang dikenal sangat rasional dan
mempunyai tradisi debat yang kuat. Kampus dan masjid di Bandung
bersinergi dan mengukuhkan rasionalitas. Penerbit Pustaka Salman-ITB
banyak menerbitkan buku keagamaan dari para pemikir muslim
kontemporer semisal Fazlur Rahman. Demikian pula penerbit Mizan milik
Haidar Bagir yang alumni teknik industri ITB, banyak menerbitkan buku
filsafat keagamaan.

ITS berada di kota industri dan kota pelabuhan sehingga kecenderungan
pragmatis merupakan keniscayaan. Selain itu Surabaya notabene kota
tempat kelahiran organisasi besar Nahdhatul Ulama (NU) yang terkenal
dengan trademark tasawwuf dan kelompok tarekatnya. Di hari Kamis
malam, misalnya, mahasiswa melakukan praktek ritual “ala NU” di
musholla-musholla kampus. Sampai enam tahun lalu mahasiswa yang
membaca buku terbitan Mizan Bandung masih dianggap aneh.

Cita Manusia Modern

Penjelasan dinamika ITB juga dapat ditemukan di buku Integralisme,
rekonstruksi Filsafat Islam-nya Armahedi Mahzar, cendekiawan yang juga
staf pengajar jurusan fisika ITB. Institut yang berada di kawasan jalan
Ganesha Bandung ini adalah warisan Belanda, salah satu misionaris
modernisasi. Alam bawah sadar manusia modern memuat elemen segitiga
seni-teknologi-sains.

Secara sederhana, sains adalah internalisasi fakta eksternal ke dalam jiwa,
sebaliknya seni merupakan eksternalisasi (ungkapan) dari jiwa manusia.
Sains dan seni membentuk dua kutub yang terpisah dan penengah
keduanya adalah teknologi yang merupakan eksternalisasi (realisasi
terapan) dari ilmu (setelah internalisasi). Tetapi posisi teknologi tidak tepat
di tengah antara sains-seni, karena tujuan teknologi berbeda dari sains-seni.
Tujuan teknologi pemenuhan kepuasan material sedangkan sains-seni
pemenuhan kepuasan batiniah. Karena itu teknologi tidak membentuk
garis lurus sains-teknologi-seni tetapi membangun segitiga dengan tiga
kutub sains-teknologi-sains.

Segitiga tersebut dipandang sebagai segitiga cita masyarakat modern.
Artinya, segitiga ini eksis di dalam jiwa manusia modern. Kesetimbangan
berarti pemenuhan atas ketiganya secara proporsional. Segitiga cita
manusia modern ini terekspresi di dalam institusi pendidikan ITB dengan
tiga macam fakultasnya yaitu MIPA, teknik, serta seni rupa dan disain.
Keterbatasan ketiganya melahirkan segitiga pasangan yaitu segitiga
filsafat-etika-mistik dan membangun prisma cita manusia modern. Secara
implisit disebutkan alam bawah sadar insan ITB memuat prisma ini. Dan
kenyataan ini diekspresikan dalam bentuk kebijakan membuka jurusan
sosioteknologi oleh rektor Kusmayanto.

Tanpa Peran Cendekiawan

ITS bukan saja tidak mempunyai bidang seni, jurusan biologi juga baru
dibuka. Beberapa bulan lalu salah seorang petinggi institut ini melontar
pernyataan untuk menutup MIPA yang –menurutnya- tidak produktif dan
tidak dibutuhkan (Surya, 26/2/2003). Dus, pengabaian usulan membuka
jurusan sosial adalah kewajaran belaka. Di kawasan kampus Sukolilo ini
juga mudah ditemukan spanduk-spanduk besar berisi daftar calon dekan
dan pejabat kampus lainnya yang sebenarnya cukup menggelikan. Betapa
tidak, untuk PT yang mengklaim sebagai mercusuar Indonesia Timur
ternyata tidak mempunyai isu besar dan masih berkutat pada isu
ecek-ecek.

Melihat kenyataan seperti ini mengingatkan kita pada buku Intelektual
Masyarakat Berkembang-nya Syed Hussein Alatas. Suatu negeri yang para
cendekiawannya tidak berfungsi akan diliputi kegelapan. Masyarakatnya
hidup tanpa kepemimpinan dalam dunia berfikir, tanpa ide-ide, kehilangan
tingkat kesadaran dan wawasan tertentu atas berbagai pokok masalah.
Kehidupan diwarnai bebalisme kaum pandir. Bebal merupakan sikap yang
tidak menghormati ilmu pengetahuan, tidak rasional dan ditandai oleh
tidak adanya kehalusan pekerti.

Kaum pandir seringkali bertindak otoriter, tidak reflektif, tidak
mendasarkan pada eksperimen, dan tidak merasa malu atas kesalahan
akibat kebodohannya. Kaum ini juga tidak takut dengan kekurangan
intelektualnya. Mereka akan memandang pendidikan sebagai sarana
peningkatan pengetahuan atau latihan untuk suatu profesi. Akibatnya
pendidikan tidak ditujukan untuk menghasilkan manusia baru ataupun
restrukturasi mental. Universitas didirikan tanpa semangat intelektual
yang pada gilirannya modernisasi tidak menjadi sarana perubahan yang
mengubah ahlak masyarakat. Bisa jadi prosedur ilmiah berhasil
dimasukkan tetapi tanpa pandangan ilmiahnya.

Pembukaan bidang interdisiplin memerlukan pemahaman dan kesadaran
yang memadai. Terlebih bila bidang tersebut seolah tak berkaitan seperti
rekayasa material (benda mati), biologi yang berlahan mahluk hidup dan
sosial dengan wilayah sosio-kultural. Kehadiran para generalis dan
cendekiawan sangat dibutuhkan guna melakukan penyadaran dan
pencerahan. Inilah tugas berat kaum intelektual. Selain mereka minoritas,
jenis dan hasil kerjanya juga sulit diukur, serta cenderung menentang arus.
Ini berbeda dari wilayah dan hasil kerja dokter dan teknisi misalnya,
akibatnya mereka tidak mendapatkan apresiasi yang layak dari
masyarakat.

Mengingat tugas mereka dalam proses penyadaran dan pencerahan maka
kehadirannya merupakan keharusan. Jalan untuk membuktikan
kepentingan mereka adalah dengan menulis, memberi ceramah dan
melakukan pertemuan kelompok kecil dengan cara tidak menentang para
spesialis. Mereka yang di PT secara sadar harus membangkitkan semangat
intelektual di kalangan mahasiswa.

Three In One

Kini dunia pendidikan kita bukan saja tertinggal dari Malaysia yang di
tahun 70-an berguru kepada kita. Malaysia telah cukup jauh meninggalkan
kita. Vietnam yang sampai tahun 70-an masih disibukkan oleh perang
melawan Amerika juga mulai meninggalkan kita. Dus sebenarnya ITB yang
tampak progresif, tampil terdepan dan beberapa kali masuk sebagai PT top
Asia versi Asia Week sebenarnya juga jauh dari kondisi ideal PT dan masih
memerlukan pencerahan.

Memperhatikan kondisi di atas tidak salah bila PT dan seluruh komponen
bangsa lainnya menerapkan formula three in one yakni bekerja lebih lama,
lebih keras dan lebih cerdas untuk negeri yang kita cintai ini. Hanya
dengan formula ini proses metamorfosis universitas menjadi museum ilmu
usang serta kecenderungan menjadi bangsa kuli, bangsa tanpa harga diri
dapat dicegah.

Masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat workaholic atau gila kerja.
Anak-anak SD berangkat sekolah sekitar jam 07.15 dan baru pulang jam
tiga sore. Universitasnya “buka” 24 jam sehari dan laboratoriumnya tetap
bahkan lebih semarak ketika musim liburan. Perpustakaan universitas
sering buka di hari Minggu. Durasi kerja lama ini telah membuahkan
kemajuan yang luar biasa. Jepang, negeri yang tidak punya sumberdaya
alam berarti berhasil menjadi negara superpower dalam ekonomi.
Apakah mendapat inspirasi dari sana, rektor baru ITS membuat gebrakan
berupa pemberlakuan durasi kerja lebih lama, antara pukul 08.00 sampai
20.00. Gebrakan yang perlu disambut positip oleh seluruh civitas
akademika ITS walau kini masih diberlakukan di jajaran pureknya.

Langkah kedua adalah bekerja lebih keras sehingga durasi kerja yang
panjang tidak bermuara pada kemubadziran dan sekedar memindahkan
lokasi bersantai-ria. Langkah ketiga adalah bekerja lebih cerdas. Surya
(23/5/2003) melaporkan keluhan mantan PR IV bahwa ITS mengalami
krisis guru besar akibat kurangnya penelitian. Para doktor tersita pada
pengajaran dan ngantor di luar. Gejala umum yang juga menyebabkan
universitas tumbuh tanpa semangat pencerahan dan pembebasan.

*) Pekerja di LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS.
 

1 komentar:

Agus mengatakan...

alhamdulillah mantan rektor ITS pak NUH bisa jadi menteri, dua periode lagi. ini akan membuka jalan bagi almunii ITS yang lain untuk jadi menteri ...syaratnya harus bisa ngaji bro, ndalil pakek ayat alquran dan hadits yang faseh