Selasa, 2009 Januari 13

Di Balik Nobel Fisika 2008

(Sempat dikirim berturutt ke Kompas, Republika dan Media Indonesia

tapi lewat alias tidak dimuat)

Oleh : Agus Purwanto,D.Sc


“Akhir yang manis dari penantian panjang”, ungkap penulis ketika mengetahui nama-nama penerima nobel fisika 2008. Betapa tidak, tahun 1998 sebelum kembali ke tanah air LT Handoko sejawat penulis di Universitas Hiroshima bercerita bahwa komunitas fisika teori Jepang berharap Maskawa mendapat nobel fisika. 
Sebenarnya, tidak ada ahli fisika di dunia yang bekerja dengan misi khusus mendapat nobel, tidak terkecuali Yoichiro Nambu, Makoto Kobayashi dan Toshihide Maskawa. Mereka bekerja karena mencintai pekerjaannya, mencintai ilmu. Tetapi dalam perkembangannya ada alasan yang membuat komunitas fisika teori Jepang berharap nobel bagi sejawat senegara mereka. 
Nobel fisika 2008 berbeda dari nobel fisika 1979 yang juga diberikan kepada tiga ahli fisika teori yaitu Abdus Salam, Sheldon Glashow dan Steven Weinberg. Ketiga fisikawan ini berasal dari negara berbeda, Salam dari Pakistan dan tinggal di Itali sedangkan dua lainnya dari Amerika tetapi mendapatkan nobel fisika untuk satu teori yang sama yaitu teori unifikasi gaya elektrolemah. Teori ini sekarang sering disebut sebagai teori Glashow-Salam-Weinberg.
Sebaliknya Nambu, Kobayashi dan Maskawa berasal dari satu negara tetapi mendapatkan nobel untuk dua teori berbeda. Nambu yang kelahiran Tokyo 1921 dan mendapatkan gelar dotornya di Universitas Tokyo tahun 1952 serta menjadi profesor di Universitas Chicago sejak 1958 dianugerahi nobel karena gagasan perusakan simetri spontannya (sponatenous symmetry breaking, SSB) dalam model sigma. 
Gagasan ini dimuat dalam prosiding konferensi internasional kesepuluh fisika energi tinggi di Jenewa tahun 1960. Satu tahun kemudian Jeffrey Goldstone dari Amerika menulis generalisasi SSB untuk fermion di jurnal Nuovo Cimento. Hasil sampingnya berupa boson takbermassa. Di buku-buku teks SSB kadang diidentifikasi dengan dua nama Nambu-Goldstone tetapi lebih sering hanya satu nama yaitu Goldstone dengan sebutan teorema Golsdtone. 
Gagasan Goldstone disempurnakan Peter Higgs tahun 1964 dengan mekanisme pembangkitan massa Higgs yang terkenal dalam fisika partikel modern. Mekanisme terakhir ini memberi bonus partikel Higgs yang menjadi perburuan di Large Hadron Collider (LHC). Dengan demikian, jika SSB mendapatkan nobel maka yang seharusnya menerima adalah trio Nambu, Goldstone dan Higgs.
Kobayashi dan Maskawa (KM) mendapatkan penghargaan karena ide mereka yang dipublikasi di jurnal Progress of Theoretical Physics tahun 1973 dengan judul CP violation in the renormalizable theory of weak interaction. KM mengintrodusir matriks bauran dimensi tiga yang memuat dua hal baru. Pertama, kuark generasi ketiga bottom dan top, kedua, fasa CP (charge conjugation dan parity). Fasa dan simpangan CP merupakan salah satu syarat terjadinya alam semesta saat ini yang asimetri dari kondisi awal simetri.
Konfirmasi kuark top di CDF Fermilab tahun 1998 membangkitkan harapan nobel bagi KM. Konfirmasi simpangan CP melalui B-factory di akselerator linier Stanford (SLAC-B) dan Belle di pusat riset fisika energi tinggi (KEK) Tsukuba tahun 2001 meneguhkan harapan ini. 
Tahun 1963, Nicola Cabibbo dari Itali menulis matriks bauran dua dimensi di Physical Review Letter (PRL). Dengan demikian, matriks KM dapat dipandang sebagai perluasan dari matriks Cabibbo sehingga sampai sekarang matriks ini disebut matriks CKM (Cabibbo-Kobayashi-Maskawa). Karenanya, nobel mestinya tidak hanya diberikan kepada KM melainkan juga Cabibbo.
Nobel fisika tahun ini juga menyisakan sisi lain yang menarik bagi orang Indonesia. Setelah peraih nobel fisika 2008 diumumkan, ahli fisika teori Dr Laksana Tri Handoko mendapat email dengan bunyi,” Thank you for the works contributed to the establishing the theory...” dari koleganya di Jepang. Handoko memang mempunyai hubungan personal yang kuat khususnya dengan Kobayashi sebagai host-profesor ketika berada di KEK Tsukuba antara tahun 1996-1997.
Ungkapan terimakasih tersebut terkait dengan riset Handoko dan koleganya dari Jepang, Jerman, Korsel dan Kanada pada kurun 1995-2002 yang mengkaji perusakan simetri global pada materi nuklir meson B. Kuark b berada di alam dalam bentuk materi nuklir meson B. Karenanya eksperimen untuk membuktikan teori ini selalu melibatkan meson B dan peluruhannya. Kalkulasi teori terkait dengan aneka mode peluruhan dan hasil akhirnya ini banyak dilakukan oleh Handoko. 
Ada beberapa ilmuwan Indonesia yang turut berperan pada proses pembuktian eksperimental yang menjadi kunci penentu anugerah nobel untuk KM. Pada eksperimen pencarian kuark top misalnya, salah seorang anggota kolaborasi D-zero (D0) adalah van de Brink mahasiswa Indonesia alumni jurusan fisika UI.
Eksperimen yang lebih penting dan merupakan kunci utama konfirmasi kebenaran teori KM adalah B-factory. Selama ini ada dua fasilitas eksperimen utama yang bersaing ketat yaitu eksperimen BaBar di SLAC Stanford dan Belle di KEK Tsukuba. Di dalam kolaborasi BaBar terdapat dua ilmuwan Indonesia, Romulus Godang dan Rahmat. 
Romulus yang asisten profesor di Universitas South Alabama dan alumni jurusan fisika USU bergabung sejak awal dimulainya kolaborasi BaBar sampai sekarang. Rahmat yang menyelesaikan program doktoralnya di University of Oregon melanjutkan program post-doctoral di Universitas Mississippi juga masih aktif di eksperimen BaBar. Demikian pula Haryo Sumowidagdo, alumni jurusan fisika UI, sampai saat ini masih bergabung di eksperimen D0.
Maskawa barangkali sosok yang paling unik dari trio peraih nobel fisika tahun ini. Penulis pernah dua kali bertemu Profesor Maskawa, tahun 1999 di universitas Hiroshima dan tahun 2001 di Yukawa Institue for Theoretical Physics (YITP) universitas Kyoto institusi tempat Maskawa. Ada hal yang tidak dapat penulis lupakan dari kedua pertemuan tersebut. 
Ketika di universitas Hiroshima seorang teman membisiki penulis bahwa Maskawa tidak dapat berbicara dengan bahasa Inggris sehingga bila mau bicara dengannya harus dengan bahasa Jepang. Hal yang sama juga terjadi ketika di YITP, host-profesor penulis di sana berbisik sama. ”Shinjirarenai (tidak dapat dipercaya)”, demikian reaksi dalam hati ketika dibisiki untuk pertama kalinya.  
Dari kisah di depan, ada dua pelajaran yang dapat diambil oleh fisikawan dan ilmuwan Indonesia umumnya. Pertama, gagasan Nambu maupun KM yang akhirnya mendapatkan nobel dimuat di prosiding dan jurnal dengan impact factor atau peringkat tidak tinggi. Reputasi ilmuwan secara umum ditentukan oleh jumlah publikasi dan peringkat jurnalnya. Hitoshi Murayama dari University of California Berkeley dan Ernest Ma dari University of California Riverside, misalnya, selalu berusaha menulis tema terdepan dan mempublikasikannya di PRL yang berimpact factor paling tinggi di antara jurnal fisika.  
Semangat seperti Murayama maupun Ma sangat positip tetapi sangat sulit bagi ilmuwan di negara berkembang seperti Indonesia yang mempunyai aneka keterbatasan. Beberapa senior kita tidak mau publikasi bila tidak di jurnal papan atas dan akhirnya memang tidak mempunyai publikasi atau karya satu pun sampai masa pensiunnya. Semangat umum ilmuwan Jepang patut ditiru, publikasikan hasil riset di jurnal internasional apapun. Kita tidak perlu menghakimi karya sendiri tetapi biarkan orang lain menilainya. Bagi kita yang terpenting adalah berkarya dan berkarya.
Kedua, kolaborasi akan menutupi kekurangan dan kelemahan individual para ilmuwan. Di Indonesia, ilmuwan khususnya fisikawan teori jumlahnya baru belasan. Mereka tidak boleh lagi bangga dengan institusi sendiri maupun almamater tetapi tanpa karya, tanpa publikasi. Sekarang banyak universitas kita yang mengakselerasi lahirnya guru-guru besar baru untuk meningkatkan status universitas. Sayangnya, dari setiap pengukuhan dapat dilihat bahwa guru-guru besar ini umumnya tidak mempunyai publikasi internasional kecuali di saat menempuh program doktoralnya di luar negeri. 
Kondisi paradoks tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi. Salah satu contoh kolaborasi adalah Indonesia Center for Theoretical dan Mathematical Physics (ICTMP) yang melibatkan beberapa ahli fisika teori dalam dan luar ITB. Upaya ini memberi hasil dengan mulai munculnya hasil-hasil riset mereka di beberapa jurnal internasional. Jumlah ahli fisika teori Indonesia sekarang belum berubah secara signifikan dibanding tiga puluh tahun lalu. Tetapi kolaborasi telah membedakan dua generasi ini, publikasi menandai generasi yang belakangan.
Nobel bukanlah tujuan utama, yang lebih penting adalah tumbuhnya sikap dan tradisi ilmiah. Penyelesaian berbagai masalah akan jauh lebih efektif bila berdasar pemahaman sains dan tidak sekedar mengandalkan common sense. Di antara negara dengan jumlah penduduk terbesar seperti Cina, India, Amerika dan Indonesia hanya negeri kita yang belum menguasai ilmu pengetahuan. Padahal tanpa ilmu pengetahuan teoritis maupun praktis kita tidak akan mampu mengelola sumber daya alam yang melimpah yang pada gilirannya kita menjadi bangsa yang bergantung pada bangsa lain.

Balik Sukses Olimpiade

Republika, Sabtu, 5 Mei 2007

Agus Purwanto*)

Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) meraih dua emas, tiga perak dan dua perunggu di Asian Physics Olympiad (APhO) ke-8 di Shanghai China 22-28 April 2007. Hasil ini, menjadikan Indonesia sebagai satu dari empat negara yang mampu menyabet emas APhO, sekaligus menempel ketat China. Meskipun demikian, olimpiade fisika dan cabang ilmu lainnya tetap perlu dikritik. 
Yohanes Surya (YS) sang arsitek TOFI seperti berhasil memecah kebekuan pendidikan Indonesia. Mulanya ia bina siswa-siswi yang disiapkan dalam ajang International Physics Olympiad (IPhO) dengan biaya sendiri. Upaya ini membuahkan hasil yakni diraihnya medali perunggu, perak dan emas. YS dengan TOFInya membuat kejutan lebih lanjut dengan ungkapan provokatifnya “The First Step to Noble Prize”.  
Orang Indonesia seperti terhipnotis. Akibatnya, penyelenggaraan IPhO ke-33 di Denpasar tahun 2002 konon menjadi IPhO paling istimewa dan mewah. Selain diselenggarakan di hotel bintang lima juga dibuka oleh Presiden Megawati. Demikian pula APhO ke-6 2004 di Pekanbaru yang dibuka menteri kesra Jusuf Kalla. Bandingkan dengan pembukaan APhO ke-8 yang hanya dibuka oleh YS sebagai presiden APhO dan dihadiri wakil walikota Shanghai (Kompas, 23/4/2007). 
Tahun lalu Pesiden SBY menyambut para siswa TOFI bak pahlawan. YS dipilih sebagai wakil ahli pendidikan yang mendapat kesempatan bertemu presiden Bush yang berkunjung ke Indonesia.
Desakralisasi Olimpiade
Kini kita dilanda demam olimpiade. Sejak tahun 2004, di beberapa propinsi diadakan pelatihan guru-guru untuk mempersiapkan siswa-siswi ke aneka olimpiade. Aneka kompetisi tingkat SD sampai SMU dinamai olimpiade. Ada olimpiade fisika, olimpiade matematik, kimia, biologi, komputer, ekonomi bahkan di lingkungan Muhammadiyah ada olimpiade al-Islam.
Dari sekian banyak olimpiade ilmu barangkali olimpiade fisika yang terkesan paling wah. Begitu mendengar, si fulan meraih medali IPhO maka kita membayangkan sosok jenius mirip Newton, Einstein atau Hawking. Atau terbayang orang nyentrik yang berkutat di laboratorium dan sedang membuat formula bom atom Hiroshima yang dahsyat itu.
Masyarakat cukup silau dan bangga dengan prestasi siswa-siswi SMU Indonesia di ajang IPhO dan APhO. Kesan wah bahkan sakral terhadap TOFI tidak terlalu salah. YS berulang-ulang menyatakan bahwa soal IPhO dan APhO setara dengan soal doktor. Pertanyaannya, bagaimana mungkin mereka dapat mengatasi soal-soal sulit tersebut? Sedemikian hebatnya sekolah-sekolah kita?
Siswa yang lolos seleksi sampai tingkat propinsi dikamp dan dididik khusus fisika selama beberapa bulan oleh para doktor fisika. TOFI tahun ini, misalnya, telah dikamp di Karawachi sejak September 2006. YS yang pernah menulis buku “Mekanika Tanpa Kalkulus” menyatakan siswa SLTP yang ingin lolos masuk TOFI harus tamat kalkulus yakni limit, diferensial dan integral sehingga saat SMU bisa konsentrasi belajar fisika.
Kesan sakral akan berkurang bila kita tahu garis besar pelaksanaan IPhO dan APhO. Sebelum diujikan, soal dan solusinya didiskusikan dengan semua pembimbing dan soal bisa mengalami modifikasi. Pada tahap ini dibahas dan disepakati pula skor nilai setiap nomor dan setiap tahap jawaban. Untuk menghindari kebocoran panitia melakukan pengamanan dan aturan ekstra ketat. 
Soal yang telah disepakati dan diterjemahkan ke dalam bahasa ibu setiap negara peserta diujikan. Waktu ujian teori dan eksperimen masing-masing lima jam pada hari yang berbeda. Selanjutnya adalah tahap penilaian jawaban. Penilaian dilakukan oleh juri dan masing-masing pembina. Copy nilai versi pembina dan juri ditukar dan dibandingkan.
Tahap berikutnya adalah moderasi, yakni penyesuaian bila terjadi perbedaan antara nilai dari juri dan pembimbing. Bila nilai juri lebih besar dari pembimbing bisa dipastikan tidak ada protes. Sebaliknya bila nilai juri lebih kecil apalagi cukup besar selisihnya maka akan terjadi perdebatan dan tawar-menawar nilai yang cukup alot dan seru antara pembina dan juri. Pada IPhO 2002 ada seorang ibu pembina yang tidak dapat menahan tangis lantaran gagal memperjuangkan kenaikan nilai siswanya. Dus, peran dan kejelian pembina sangat menentukan.
Tahap akhir adalah penentuan peraihan medali emas, perak, perunggu dan kehormatan yang ditentukan sesuai selang nilai tertentu. Karena itu, peraih medali emas olimpiade bisa cukup banyak dan semua anggota tim suatu negara tertentu bias mendapat emas. 
Menertawakan Diri Sendiri
Secara umum, siswa yang masuk TOFI memang siswa yang cemerlang dan kita bangga atas prestasi mereka. Tetapi benarkah pemerintah mengalokasikan dana 100 milyar untuk keberangkan tim A (belum tim B) ke Shanghai (Kompas, 20/4/2007)?. Untuk apa saja uang ini? Bukankah jumlah itu bisa untuk melahirkan sedikitnya 200 doktor baru di luar negeri ketimbang delapan doktor produk TOFI? Sekarang ini banyak doktor kita yang membagi waktu sebulan menjadi dua pekan di tanah air dan dua pekan di Malaysia. Sebabnya selain untuk menutupi kebutuhan ekonomi juga mendapat fasilitas riset yang memadai di sana.
Apa yang ingin kita capai dengan aneka olimpiade? Jelas, sukses aneka olimpiade internasional atau pun nasional sama sekali tidak mewakili sukses pendidikan kita. Sukses di APhO hanya memperlihatkan bahwa sebenarnya kita mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan negara manapun termasuk negara maju. Kenyataan ini juga bisa dilihat dari prestasi mahasiswa Indonesia di luar negeri. Tetapi sistem di dalam negeri membuat semua potensi tersebut sulit berkembang dan tumbuh menjulang. 
Ketika presiden dan para petinggi lainnya menyambut dan memberi ucapan selamat misalnya kepada TOFI sejatinya mereka sedang menertawakan diri sendiri. Mereka seolah sedang mengucapkan “Selamat, kalian jadi juara karena telah menabrak sistem yang telah kita buat”. 
Betapa tidak, emas IPhO atau APhO diperoleh oleh siswa yang meninggalkan program normal sekolah untuk dilatih bukan oleh guru sendiri tetapi para doktor fisika sekitar enam bulan di Karawachi. Singkatnya, mereka menjadi juara karena keistimewaan sistem dan dispensasi yang mereka dapatkan. Anggota TOFI yang sekarang kelas tiga SMU mendapat dispensasi pelaksanaan UN dan baru menjalani UN 14-16 Mei 2007.
Sekarang ada Olimpiade Sains Nasional yang diselenggarakan setiap tahun. Strategi guru, sekolah dan diam-diam sepakati diknas lokal untuk melatih para atlet dan mendulang sebanyak mungkin medali adalah kebijakan dispensasi. Artinya, siswa diperkenankan dilatih pelajaran tertentu dan meninggalkan aneka pelajaran lainnya tetapi nantinya tetap naik kelas atau lulus sebagaimana siswa-siswa lainnya. Tanpa jaminan seperti ini hampir dapat dipastikan tidak ada siswa yang mau mengikuti olimpiade. 
Bila demikian untuk apa medali APhO dan IPhO bila harus menyimpang dan menggunakan dana sangat besar? Akankah prestasi APhO menjadi sekedar penghibur diri dari kemiskinan prestasi? Kita tidak ingin IPhO dan sejenisnya menjadi lahan baru penghamburan uang negara. APhO dan IPhO diikuti berbagai negara termasuk negara maju, tetapi menariknya Jepang belum pernah berpartisipasi sebagai peserta. 



Pemilu ITS dan Kepemimpinan Riset

Surya, Senin 16 Oktober 2006

Agus Purwanto*)


ITS kembali menyelenggarakan pemilihan rektor periode 2007-2011. Tujuh dari 57 staf dosen yang memenuhi persyaratan administratif maju sebagai calon rektor (carek). Doktor berpangkat lektor kepala dan pernah jadi pejabat jurusan atau guru besar adalah syarat minimum carek. Ada beberapa catatan yang perlu diberikan di sekitar kepemimpinan ITS dan dunia akademik secara umum.
Sejak 2003 ITS dipimpin oleh orang-orang muda. Dari empat petinggi, rektor dan tiga pembantunya hanya pembantu rektor bidang akademik yang berusia di atas 50 lainnya 40 tahun awal. Para pimpinan baru ITS bagai berlomba mewujudkan adagium life begins at fourty. Hasilnya, beberapa fasilitas olah raga, gedung, taman dan jalan baru dibangun. ITS jadi tampak tidak kumuh. 
Obsesi pimpinan ITS yang menyolok adalah membuat ITS dikenal lebih luas termasuk oleh komunitas internasional. Sebagai realisasi, rektor sering muncul dalam wawancara di media cetak, bahkan suatu waktu muncul di radio BBC. Dosen yang menulis di media massa atau jurnal internasional diberi insentif. Tokoh bisnis Hermawan Kertajaya diundang sebagai narasumber dalam diskusi umum bertema ITS Menuju Perguruan Tinggi KelasInternasional. 
Dalam setiap peringatan dies natalis, ITS mengundang orang-orang terkenal seperti Emha Ainun Najib, Thontowi Yahya dan Ki Anom Suroto. Bahkan, dies juga pernah diisi istighotsah yang dikemas dalam tema dzikir ketentraman dan diikuti ribuan jamaah dari luar ITS.
Masih dalam upaya opini building. Tahun lalu, rektor ITS maju dalam pemilihan Ketua ICMI pusat. Rektor juga aktif melakukan lobi. Hasilnya ITS mendapat jatah mahasiswa asing dan mahasiswa titipan serta ada staf ITS yang menjadi sekretaris atase kebudayan di salah satu negara di Eropa. Untuk mendapatkan dana tambahan, ITS juga menerima mahasiswa baru melalui jalur kemitraan.
Mahasiswa didorong dan difasilitasi untuk tampil dalam berbagai lomba ilmiah nasional maupun internasional. Robotika dan kapal menjadi andalan ITS. Untuk memacu aktivitas ini terkadang pembantu rektor bahkan rektor sendiri menemani mahasiswa misalnya selama lomba robotika. 
Meskipun demikian, keberhasilan tersebut tetap mendapat kritik seperti yang muncul ketika temu kenal carek. Pembangunan fasilitas pendukung memang sangat mengesankan tetapi sayang mahasiswa harus selalu antri beberapa praktikum karena fasilitas laboratorium yang sangat terbatas. Mahasiswa baru menjalani praktikum yang tidak sesuai dengan materi kuliah yang sedang dijalani. Sebabnya sederhana, tidak ada anggaran bagi penyediaan peralatan laboratorium yang semestinya. 
Agenda Mendatang
Masalah yang belum teratasi adalah jumlah mata kuliah pilihan yang terlalu banyak dan menejemen ruang kuliah. Mata kuliah terlalu banyak disebabkan tidak dimungkinkannya mahasiswa mengambil mata kuliah pilihan di jurusan lain. Padahal pola kuliah lintas jurusan ini sudah lazim misalnya di ITB juga di luar negeri. 
Akibat jumlah besar ini, selain kesulitan mendapat ruang kuliah, beban mengajar seorang dosen menjadi terlalu besar yang berakibat mengurangi perannya yang lebih serius yakni riset. Sebagai contoh, penulis semester ini harus mengampu 15 SKS sedangkan yunior yang baru selesai program master mendapat 12 SKS. 
Ruang kuliah juga menjadi persoalan di ITS. Para dosen cukup sulit mendapatkan ruang bila ingin memberi kuliah atau ujian tambahan yang di luar jadwal resmi meski banyak ruang kosong. Padahal ketika penulis masih mahasiswa S1 dan 3 tahun menjadi asisten kuliah tidak pernah menemui kesulitan bila hendak memberi kuliah asistensi. 
Persoalan yang tidak kalah serius adalah dipertahankannya pandangan lama bahwa FMIPA didirikan untuk melayani jurusan teknik. Pandangan ini bermuara pada ketidakadilan dan eksploitasi ITS kepada FMIPA. 
Selama ini FMIPA diminta menangani perkuliahan program D3 di beberapa jurusan di fakultas teknik padahal program tersebut adalah program lokal jurusan bersangkutan. Kerja dapat tapi rewardnya tidak memadai, konon katanya karena memang bagian dari tugas layanan FMIPA. 
Demikian pula terhadap operasionalisasi program kemitraan yang bahan bakunya cukup parah. Dosen-dosen FMIPA harus bekerja ekstra keras untuk membantu program kemitraan. Bila tidak, separoh lebih mahasiswa baru ITS bisa rontok sebagai mahasiswa di tahun pertama, atau setidaknya tiga per empat mahasiswa baru harus tidak lulus fisika dan matematika dasar. Falsafah melayani jurusan teknik sudah tidak sesuai dengan zeitgeist (semangat jaman) yakni kesetaraan dan interdependensi. 
Pimpinan baru ITS harus mampu mengatasi masalah-masalah tersebut agar perkuliahan menjadi efektif. Bila tidak, international recognition akan menjadi jauh panggang dari api. 
Kepemimpinan Riset
Menurut penulis, ITS telah salah kaprah ketika mengundang Hermawan Kertajaya untuk memberi resep agar ITS menjadi PT level internasional. ITS adalah lembaga pendidikan tinggi dan idealnya juga (harus) lembaga riset. Karena itu, international recognition otomatis terpenuhi jika dan hanya jika ITS mempunyai produk orisinil dari riset yang dapat muncul dalam dua bentuk yaitu patent atau publikasi di jurnal internasional.
Apa yang dilakukan pimpinan ITS selama ini termasuk partisipasi dalam lomba robot internasional hanyalah sarana antara dan bukan hal yang utama serta fundamental dari dunia riset. Ujung tombak lembaga riset adalah laboratorium. Karena itu, untuk melangkah dan mencapai level internasional pimpinan ITS harus mengajak bicara para ketua laboratorium. Apa rencana setiap laboratorium dan apa masalahnya.
Lebih lanjut, ukuran keberhasilan para staf khususnya yang sudah doktor atau guru besar juga dua hal tersebut, bukan jabatan struktural. Posisi sekretaris dan ketua jurusan, dekan, rektor dan para pembantunya ke depan harus dipegang oleh orang tua yang peak performance sudah klimaks alias produktivitas risetnya sudah turun. Kisaran usia untuk pejabat struktural idealnya adalah di atas 50 tahun. Staf di bawah usia itu harus diberi kesempatan dan difasilitasi untuk riset sampai menghasilkan karya-karya orisinil. 
Ada pengalaman menarik di sekitar kepemimpinan riset ini. Tahun 1997 saat penulis masuk universitas Hiroshima (UH) Profesor Taizo Muta (TM) sedang menjadi dekan Graduate School of Science UH. Setiap mahasiswa fisika yang menekuni Kromodinamika Kuantum tahu nama TM dari publikasinya tentang skema renormalisasi medan di tahun 1978. Tetapi sejak jadi dekan TM sering dirasani karena kurang produktif, kualitas publikasi dan tidak pernah berkumpul dengan komunitas sebidang.
Rasan-rasan minor menguat menjelang TM pensiun dan maju sebagai carek UH tahun 2000. Padahal saat itu, TM merupakan professor di UH yang publikasinya paling banyak dikutip yakni sampai 904 kali. TM menjadi rektor UH pada tahun 2001 di usia 65 tahun yakni menjelang masa pensiunnya dan terpilih untuk kedua kalinya pada tahun 2004. 
Pelajaran yang bisa diambil dari cerita TM yang sempat satu tahun menjadi supervisor penulis adalah TM maju menjadi birokrat setelah merasa tidak produktif dalam riset. 
Saat penulis berkunjung ke UH sebagai Visiting Profesor Pebruari-Maret lalu TM bercerita bahwa misinya kini adalah menjadikan UH terkenal. TM menolak saya undang sebagai pembicara dalam lokakarya fisika teori yang akan diadakan tahun depan di ITS dengan alasan sudah tidak berkecimpung di fisika. Artinya, ia tahu diri. 
Bagi para carek ITS, selamat berkompetisi untuk menjadi rektor. Kini saatnya memikirkan, mengatur dan melengkapi hal-hal yang substansial bagi tradisi ilmiah dan aktivitas riset. Mahasiswa sudah membayar mahal, mereka punya hak untuk mendapat pelayanan pendidikan yang benar dan memadai. 
Para staf muda yang masih produktif dalam riset juga harus didukung dan difasilitasi. Jangan biarkan mereka mati muda sebagai ilmuwan, dan jangan beri peluang untuk berfikir hijrah ke negeri tetangga seperti Malaysia karena di sana difasilitasi penuh. Merekalah yang akan menghasilkan publikasi atau patent yang selanjutnya membuat ITS diakui eksistensinya oleh komunitas ilmiah internasional. 



Sabtu, 2008 Agustus 23

Foto Kajian Buku di PP Muhammadiyah Yogyakarta (26-06-08)

Minggu, 2008 Mei 25

Dua Tipe Poligami

SURYA, 15 Desember 2004
Oleh: Agus Purwanto*)

Muktamar NU di Boyolali dan Tanwir Muhammadiyah di Mataram lalu dengan nuansa
yang berbeda sempat diwarnai isu poligami. Kelompok pembela perempuan NU yang
dimotori Shinta Nuriyah istri KH. Abdurrahman Wahid menolak bantuan katering wong
Solo bagi konsumsi muktamar. Alasannya, sang pemilik terlibat dalam tindak kekerasan
terhadap perempuan melalui poligami. Syafii Maarif ketua Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah menolak desakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Gorontalo agar
Muhammadiyah bersikap terbuka terhadap poligami.

Gugatan Klasik

Bila diibaratkan olahraga menembak atau memanah maka jender dalam islam adalah
papan tembak dengan lingkaran-lingkaran poligami, kepemimpinan, warisan dan khatib
perempuan. Para atlet jago tembak dan ahli memanah berasal dari kalangan non-islam
maupun orang islam sendiri. Olahraga ini belakangan mengalami kemajuan pesat dan
membuat gemas para penggemar sekaligus berdebar-debar dan cemas.

Poligami merupakan fenomena kemanusiaan yang mendapat justifikasi formal dalam
Islam. Al-Qur’an dan pribadi Muhammad saw sebagai rujukan sentral islam telah
meneguhkan ajaran ini. Tetapi, mengapa poligami digugat? Apakah ditemukan korelasi
yang kuat antara poligami dan keterbelakangan umat islam? Atau sekedar akibat
inferiority complex yang diidap umat islam terhadap Barat sehingga semua yang berasal
dari Barat dipandang baik, diambil dan yang tidak sesuai dengan Barat harus dibuang?
Tiga dasawarsa lalu ketika umat islam Indonesia belum maju seperti saat ini wacana
gugatan terhadap poligami juga telah berkembang. Saat itu penggugat poligami berasal
dari kalangan orientalis Barat dengan tudingan utama Muhammad sebagai tokoh sentral
islam mengidap maniak seks.

Para ulama mejawab tudingan ini dengan mengurai sejarah perkawinan Rasulullah saw.
Sejarah memperlihatkan bahwa perkawinan Rasulullah dengan istri-istrinya setelah
Aisyah bersifat kemanusiaan bahkan dari sisi pribadi Muhammad bersifat “terpaksa”.
Bersifat kemanusiaan karena para istri tersebut adalah janda-janda pejuang islam yang
ditinggal syahid suaminya dan kemudian memerlukan status dan perlindungan sosial.
Para janda yang umumnya tidak muda tersebut memilih nabi yang jelas keutamaannya.
Tetapi mereka pun tahu bahwa sebenarnya Muhammad tidak terlalu berminat menikahi
mereka karena itu sebagian rela menyerahkan hak biologisnya kepada Aisyah.

Wacana penolakan poligami saat ini justru disuarakan oleh kalangan islam sendiri yang
serangannya tidak kalah hebat ketimbang serangan Barat. Tudingannya, poligami dapat
bertahan sekian abad di dalam islam disebabkan adanya bias jender yakni dominasi
laki-laki atas berbagai pemahaman dan penafsiran terhadap islam. Akibatnya, wajah
islam adalah wajah maskulin.

Selain itu, saat ini situasi telah berubah dibanding situasi pada saat turunnya teks suci
islam empat abad silam. Kini banyak wanita mempunyai status dan kemampuan yang
melebihi laki-laki. Karena itu ajaran-ajaran yang diskriminatif dan merendahkan derajat
wanita termasuk poligami perlu dimaknai secara kontekstual atau bahkan dihapus sama
sekali.

Poligami versus haji

Sebenarnya argumen penolakan terhadap poligami tidak terlalu kuat dan terlalu
dibuat-buat. Pertanyaan sederhana yang harus dijawab oleh para aktivis anti poligami,
bila bukan poligami lalu apa? Apakah Barat sebagai kiblat baru mereka memang
menawarkan model keluarga dan hubungan sosial khususnya hubungan laki-perempuan
yang ideal? Salah satu edisi Hiragana Times tahun 2000 menyebutkan bahwa
mahasiswa asal Eropa terkejut atas fenomena seks bebas Jepang yang mereka katakan
lebih Eropa ketimbang Eropa. Mereka pun menyebut Jepang sebagai sex paradise. Di
Jepang alat-alat masturbasi diiklankan dengan gencar. Apakah model kehidupan seperti
ini yang akan mereka tawarkan setelah menolak poligami?

Memang harus diakui praktek poligami selama ini lebih banyak memunculkan duka dan
kesedihan ketimbang keceriaan. Sebabnya teks kitab suci yang mengijinkan poligami
dimaknai secara sederhana yakni perkawinan satu laki-laki dengan dua, tiga atau empat
wanita. Meskipun demikian, kenyataan ini tidak cukup untuk dijadikan argumen
penolakannya apalagi bila kemudian menawarkan kesedihan baru atau tidak
menawarkan solusi alternatif.

Teks bagi poligami mengisyaratkan bahwa poligami merupakan tindakan bersyarat
bukan tindakan umum. Demikian pula bila mempertimbangkan penjabaran poligami
yang diperlihatkan melalui (bukan oleh) rasul suci Muhammad saw. (Penggalan)
Kalimat ini perlu ditegaskan, diperlihatkan melalui mengandung makna perintah Tuhan
kepada Muhammad untuk melakukan poligami yang sebenarnya berat baginya.
Sedangkan diperlihatkan oleh mengandung makna keputusan dan inisiatif Muhammad
untuk berpoligami atas dasar kerelaan dan suka cita.

Dengan demikian poligami sesungguhnya mengandung misi ilahiah yakni dalam rangka
mendukung gerakan da’wah dan mengurangi beban psikologi-sosial. Menggunakan
analogi sederhana poligami merupakan perintah bersyarat seperti halnya haji. Artinya
tidak semua muslim dewasa dapat menjalankan poligami. Ada syarat yang harus
dipenuhi, pertama pihak laki-laki mampu secara material sehingga mampu meringankan
keluarga secara keseluruhan baik istri sebelumnya maupun istri baru. Keluarga wong
Solo dengan beberapa istrinya yang kemudian menjadi pengelola bisnis ayam bakar
suaminya adalah contoh poligami yang memenuhi persyaratan ini.

Bila tidak, pihak calon istri yang mau berpoligami harus mampu secara material
sehingga mampu mengurangi beban calon suami sekaligus keluarga terdahulunya. Di
masyarakat tidak sedikit wanita muda yang berkedudukan dan mapan baik papan,
sandang, pangan maupun kendaraan terpaksa menjadi janda karena ditinggal mati
suaminya. Wanita seperti ini seringkali tidak ingin terus hidup tanpa suami tetapi juga
tidak ingin hidup dengan suami yang dalam banyak hal berada di bawah suaminya
terdahulu. Juga ada wanita introvert karena asyik dengan studi dan berlanjut di karier
sehingga akhirnya mencapai posisi amat mapan secara sosial ekonomi tetapi kemudian
menjadi gadis senja karena laki-laki takut mendekatinya.

Poligami tipe kedua ini mirip perkawinan-perkawinan yang dialami nabi suci. Para istri
mempunyai rumah dan pada dasarnya bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa nafkah dari
nabi saw sekalipun. Nabi dapat terus berda’wah tanpa harus terganggu dengan
istri-istri barunya. Wanita-wanita pelaku poligami tipe ini setidaknya akan terhindar dari
orang-orang yang terganggu oleh kesendiriannya dan tutup mata serta berspekulasi
untuk mendampinginya.

Para pekerja dakwah atau para akademisi idealis yang dipenuhi impian-impian dan
obsesi untuk membangun tradisi ilmu sebagaimana yang mereka lihat ketika di luar
negeri tetapi terbentur minimnya anggaran layak berpoligami tipe kedua ini. Kenyataan
memperlihatkan bahwa usaha-usaha sampingan para akademisi untuk menutupi
kebutuhan ekonominya pada saat yang sama telah mematikan kariernya sebagai
ilmuwan. Mereka mati dini sebagai ilmuwan meskipun kemudian mereka mungkin
mampu mempunyai jabatan-jabatan struktural yang tinggi. Kendala mereka untuk
berpoligami adalah posisinya yang pasif dan menunggu sinyal dari pihak wanita mapan
dan kaya. Inilah syarat mampu secara material bagi poligami agar tidak terlepas dari
misi sucinya.

Manusia secara naluriah saling membutuhkan satu sama lain termasuk membutuhkan
pasangan atau lawan jenis. Isu single parent bagi wanita-wanita karier belia yang
kemudian bercerai perlu diteliti apakah mereka benar-benar mampu hidup sendiri dalam
kondisi normal. Di Barat termasuk di Jepang memang dikenal adanya wanita hidup
tanpa suami tetapi bukan tanpa laki-laki. Di mana pun baik dunia islam atau bukan
kehadiran laki-laki bagi wanita dan sebaliknya adalah keniscayaan, hukum alam atau
sunnatullah. Dalam mengatasi situasi-situasi khusus islam menawarkan poligami dan
menolak seks bebas atau perselingkuhan.

Media memberitakan bahwa arena muktamar NU di Boyolali dihiasi banyak mobil
mewah. Di dalam berbagai gambar juga dapat dilihat banyak muktamirin sedang
berkomunikasi menggunakan tilpun genggam. Fenomena ini memperlihatkan bahwa
elite NU mengalami perubahan keadaan ekonomi yang signifikan. Namun “Mayoritas
Migran itu Nahdliyin” demikian judul artikel analis di Perhimpunan Indonesia untuk
Buruh Migran Berdaulat, Wahyu Susilo (Kompas, 26/11/2004). Daripada menyoal dan
melarang poligami ada baiknya kelompok pembela perempuan di NU mendorong agar
para elite NU yang kini mengalami kondisi ekonomi yang membaik ikut memperbaiki
nasib TKI/TKW termasuk salah satunya dengan poligami. Para elite NU memenuhi
persyaratan dan masuk kategori kandidat poligami aktif.

Sedangkan sikap tidak tegas Muhammadiyah terhadap poligami dapat dimaknai sebagai
penerimaan apa adanya teks poligami. Artinya secara prinsip diperbolehkan karena teks
kitab suci menyatakan demikian. Menggunakan ungkapan Syafii Maarif, jajaran PP
Muhammadiyah tidak pernah bermimpi poligami apalagi terlintas niatan untuk
melakukannya kecuali bagi yang memang berbakat.

Tidak jelas, apakah karena dipandang kontraproduktif sehingga Muhammadiyah tidak
menjadikan poligami sebagai komoditi isu dan bagian dari gerakan yang perlu
ditonjolkan. Atau karena sekitar 60% pimpinan Muhammadiyah adalah PNS sehingga
warga dan pimpinan Muhammadiyah hanya mempunyai kesempatan poligami pasif
yakni menunggu pinangan.

Poligami tidak perlu dijadikan polemik berkepanjangan ataupun dilarang. Selain masih
banyak isu yang lebih penting dan mendesak, teks suci meski dengan kondisi yang
memberatkan bagi pelaksanaannya memang mengijinkannya. Hal yang perlu dilakukan
adalah memaknai situasi atau persyaratan yang memungkinkan tetapi memberatkan
tersebut misalnya dalam fiqih poligami. Pengalaman empirik memperlihatkan bahwa
poligami mestinya hanya boleh bagi yang mampu khususnya secara material
sebagaimana ibadah haji. Wallahua’lam.

*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS, dan pemimpi peradaban
Islam
.

Rabu, 2008 Mei 21

Pesan Ilmiah Isra’ Mi’raj

SURYA, 11 September 2004
Agus Purwanto*)

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari masjid al-
Haram ke masjid al-Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan tanda-
tanda Kami ....” (QS al-Isra’:1)

Al-Qur’an menyatakan bahwa tidak satu pun ciptaan serta kejadian di alam
semesta ini yang kebetulan dan sia-sia. Para pemikir seperti Aristoteles dan
Einstein pun menyatakan bahwa alam semesta bertindak sesuai tujuan
tertentu. Bila demikian, apa yang hendak Dia perlihatkan melalui isra’ dan
mi’raj? Artikel ini membahas aspek fisika dari peristiwa malam 27 Rajab satu
tahun sebelum nabi saw hijrah.

Dimensi Ekstra

Teori relativitas khusus (TRK) menyatakan bila orang bergerak dengan laju
tinggi maka dia akan mengalami pemuluran (dilasi) waktu. Artinya, satu
menit bagi orang yang bergerak bisa jadi lima menit bagi orang lain yang
diam. Sebagian orang mencoba menjelaskan isra’ mi’raj dengan TRK dan
didukung QS al-Ma’arij: 3-4. Ayat ini mengisyaratkan pemuluran waktu, yakni
satu hari perjalanan malaikat dan ruh setara dengan 50 ribu tahun. Ini
berarti kecepatan malaikat dan ruh sama dengan kecepatan cahaya.

Implikasinya, bukan saja malaikat yang tersusun dari nur (cahaya)
melainkan juga ruh. Karena menurut prinsip TRK, hanya materi tak
bermassa yang bisa bergerak dengan laju cahaya dan materi tersebut hanya
foton yang tidak lain adalah gelombang medan elektromagnetik. Penafsiran
ini pada gilirannya menuntun pada kesimpulan bahwa isra’ dan mi’raj nabi
saw hanya sebatas ruhnya.

Bila dikaitkan dengan kosmologi modern penjelasan ala TRK menjadi tidak
memadai. Menurut model jagat raya berkembang, baik jagat raya tertutup,
terbuka maupun datar mi’raj nabi saw semalam hanya akan sampai di ruang
angkasa yang material. Nabi saw tidak pernah sampai di ruang spiritual
tempat sidratul muntaha.

Alternatifnya, isra’ mi’raj difahami dengan konsep dimensi ekstra. Dalam
ilustrasi dua dimensi ruang tertutup mengembang diberikan oleh permukaan
balon dengan tempelan potongan-potongan kecil kertas. Permukaan balon
adalah jagat raya secara keseluruhan, potongan kertas menyatakan galaksi
sedangkan permukaan balon tanpa tempelan adalah ruang antar galaksi. Bila
ditiup balon akan mengembang dan kertas-kertas akan berjauhan. Artinya,
alam semesta berkembang dan galaksi-galaksi saling menjauh.

Dalam sudut pandang ruang tiga dimensional, terdapat ruang di dalam dan
di luar permukaan bola. Dari sisi jagat raya dua dimensional ruang di dalam
dan di luar permukan dapat dipandang sebagai dimensi ekstra dari jagat raya
tertutup dua dimensi. Dalam perspektif ini bisa dikatakan bahwa langit
adalah ruang selain permukaan bola. Dan mi’raj adalah keluar dari langit
material dan masuk langit atau ruang immaterial. Lebih spesifiknya, nabi saw
keluar dari permukaan bola tiga dimensi (hypersphere) menuju dimensi lebih
tinggi dimana Sidratul Muntaha berada.

Dimensi ekstra dikenal baik di fisika. Keberhasilan memadukan gaya
elektromagnetik dengan gaya lemah dalam teori elektrolemah menuntun
pada teori kemanungalan agung (Grand Unified Theory, GUT). GUT klasik
belum sepenuhnya berhasil merealisasikan impian kemanunggalan gaya
elektromagnetik, lemah dan kuat. Impian tersebut baru dipenuhi oleh GUT
supersimetrik dengan konsep superruang delapan dimensinya. Empat dimensi
ruang-waktu kita dan empat lainnya adalah dimensi Grassmannian tempat
pasangan super setiap ciptaan berada.

Tetapi GUT supersimetrik masih menyisakan masalah hirarki konstanta
kopling gaya-gaya. Tahun 1998 Arkani Hamed dkk menggagas unseen atau
extra dimension dan berhasil mengatasi masalah tersebut. Di dalam konsep
dimensi ekstra ruang-waktu empat dimensi tempat kita tinggal digambarkan
sebagai garis lurus pada permukaan tabung silinder. Sedangkan keseluruhan
permukaan lainnya merepresentasikan dimensi yang lebih tinggi. Partikel
pasangan super yang berada di dimensi Grassmannian atau bulk particle di
dalam dimensi ekstra versi Arkani Hamed bisa berinteraksi dengan partikel
di ruang kita pada tingkat energi tertentu.

Dimensi ekstra ini juga diisyaratkan oleh QS al-Naml 38-40 dalam kisah
pemindahan singgasana ratu Bulqis ke istana nabi Sulaiman dalam
sekedipan mata. Dimensi ekstra juga diisyaratkan oleh hadis-hadis yang
menyatakan bahwa majelis-majelis ta’lim dikelilingi oleh para malaikat yang
ikut berdzikir dan mendo’akan peserta ta’lim. Jin dan malaikat ada di sekitar
kita tetapi kita tak pernah bertabrakan dengan mereka. Mereka hidup di
ruang dengan dimensi yang lebih tinggi tetapi kita bisa berinteraksi dengan
jin di ruang manusia.

Teleportasi Kuantum

Sekelompok penjelajah pemberani memasuki kamar khusus; pulsa cahaya,
dengung efek bunyi dan para hero menghilang dan tak lama kemudian
muncul kembali di permukaan planet nun jauh. Itulah impian dari teleportasi
yakni kemampuan melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain
tanpa harus melewati lintasan panjang yang membosankan, tanpa kendaraan
fisik dan setumpuk ransum.

Teleportasi kuantum mengeksploitasi prinsip dasar dari mekanika kuantum.
Ahli fisika teori sejak awal menyatakan bahwa fisika kuantum membawa
pada banyak fenomena yang tampak tak masuk akal sekalipun. Sebenarnya
mekanika kuantum secara prinsip tidak memungkinkan proses teleportasi.
Kaidah ketidakpastian Heisenberg tidak memungkinkan kita mengetahui secara
tepat posisi dan momentum suatu obyek pada waktu yang bersamaan.
Akibatnya, tidak mungkin men-scan secara sempurna suatu obyek yang akan
diteleportasikan. Scanning akan senantiasa memberikan error atas lokasi dan
kecepatan elektron dan atom suatu obyek.

Satu dasa warsa lalu, fisikawan C.H.Bennet dari IBM, G.Brassard, C.Crepeau
dan R. Josza dari Universitas Montreal, dan A.Peres dari Institut Teknologi
Technion Israel menemukan cara memanfaatkan kuantum untuk teleportasi.
Dan teleportasi kuantum telah menjadi kenyataan laboratorium bagi foton,
partikel individual dari cahaya. Meskipun demikian teleportasi dari benda
skala makro masih berupa fantasi. Barangkali kita pun bisa berspekulasi
bahwa Isra’ Mi’raj adalah teleportasi kuantum dalam skala makro!

Islamisasi Sains

Sains modern telah memberi kemajuan material yang luar biasa tetapi juga
membawa manusia pada keterasingan (alienasi) dan kehampaan spiritual.
Sains telah melakukan klaim-klaim di luar wewenangnya serta meneguhkan
pandangan dunia mekanik yang mengesampingkan peran Tuhan di dalam
kehidupan dunia ini. Akibat keterasingan dan berbagai krisis orang
merindukan sains alternatif yang dibangun dengan paradigma baru. Sains
dengan tataran ontologis, aksiologis, maupun epistemologis yang lebih
komprehensif. Sains holistik yang tidak mengabaikan peran wahyu dalam
tataran epistemologisnya.

Terkait dengan kerinduan tersebut, pendekatan sains-wahyu mestinya dibalik
menjadi wahyu-sains. Penafsiran isra’ mi’raj di atas adalah contoh alur pikiran
sains-wahyu, hasil sains dicari dan disesuaikan untuk mendukung nash kitab
suci. Pola yang mestinya kita kembangkan adalah pola wahyu-sains. Wahyu
dan tradisi dijadikan sebagai pijakan untuk membangun sains.

Dunia sufi mengenal nama Husain ibnu Mansur al-Hallaj (858-922M). Ajaran
al-Hallaj yang cukup populer adalah Haqiqot al-Muhammadiyah yang intinya
menyatakan bahwa awal mula dari segala penciptaan adalah Nur-Muhammad.
Muhammad saw terjadi dalam dua rupa yaitu rupa yang qodim (terdahulu)
dan baharu. Dari rupa yang qodim yaitu Nur-Muhammad diciptakan segala
sesuatu termasuk empat anasir api, udara, tanah dan air. Nur-Muhammad
adalah pusat kesatuan alam, pusat nubuwwah semua nabi serta sumber
pancaran ilmu dan hikmah serta meliputi seluruh ciptaan. Rupanya yang
baharu adalah rupanya sebagai manusia nabi dan rasul yang diutus Tuhan
dan merupakan bagian kecil dari pancaran Nur-Muhammad sendiri.

Ide ciptaan al-Hallaj sejalan dengan penciptaan jagat raya versi The Big Bang.
Dalam skenario Big Bang yang semula ada adalah superbola api yang
supermampat dan superpanas. Bola api ini meledak secara dahsyat dan
terhamparlah ruang dan waktu, gaya-gaya, partikel-partikel, inti atom, atom,
molekul, bintang dan galaksi serta kehidupan. Sisa radiasi saat ledakan besar
yang disebut Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR) terdeteksi oleh
astronom A.Penzias dan R.Wilson. Nur-Muhammad setara dengan super bola
api, bunyi ledakan besar Big Bang dengan firman Tuhan KUN (Jadilah), dan
Nur-Muhammad yang meliputi seluruh alam ciptaan dengan CMBR.

Di dunia kalam juga terdapat hal serupa. Jauh sebelum atomisme kuantum
lahir dunia islam telah mempunyai atomisme Asy’ariyah yang unik. Atom
sebagai al-juz alladzi laayatajazza, bagian atau eksistensi yang tak bisa dibagi
lagi merupakan penyusun dunia. Atom merupakan lokus yang memberi
substansi pada aksiden.

Atomisme Asy’ariyah mempunyai tiga karakteristik. Pertama, atom tidak
mempunyai ukuran dan homogen tetapi terpadu membentuk benda yang
mempunyai entitas. Kedua, jumlah atom tertentu dan berhingga. Asy’ariyah,
berdasarkan QS al-Jin:28 menolak ketakberhinggaan mazhab atomis Yunani.
Ketiga, atom-atom dapat musnah dan lenyap secara fitrah, tidak bisa
bertahan selama dua saat berturut-turut, namun secara terus menerus Tuhan
menciptakan dan memusnahkannya. Al-Asy’ariyah bersandar pada teks kitab
suci seperti QS ar-Rum: 11.

Gagasan dasar atomisme Asyariyah sangat dekat dengan atomisme kuantum.
Di dalam kuantum, partikel adalah medan yang terpaket, memiliki
karakteristik partikel sekaligus gelombang dengan wujud konkrit sebagai
paket gelombang. Maka ia tidak memiliki dimensi sebagaimana materi
menurut pemahaman klasik. Selanjutnya, di dalam medan kuantum dikenal
adanya kreasi dan pemusnahan partikel. Secara alamiah partikel bisa
tercipta dan musnah.

Isra’ miraj dan dua contoh di depan mestinya dapat memicu ilmuwan muslim
dan melakukan reorientasi dalam aktivitas ilmiahnya. Mereka perlu kembali
mempertemukan ayat-ayat kitab suci dan ayat-ayat kauniyah. Persoalannya
kini, tradisi ilmiah di kalangan umat islam masih lemah. Kita masih
kekurangan ilmuwan muslim khususnya bidang eksakta, terlebih lagi yang
berreputasi internasional.

*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS, mantan Vice-
President of Saijou-Hiroshima Moslem Association.

Pilpres dan Fenomena Kebangkrutan Agama

SURYA, 27 Juli 2004
Oleh: Agus Purwanto*)

Dalam rentang waktu satu tahun ini kita disodori tiga peristiwa serupa meski tak sama
yaitu Inul, AFI dan pilpres. Ketiganya merupakan jalan menuju puncak yang menyita
perhatian publik, fenomenal dan rakyat menjadi penentu akhirnya. Ketiganya juga
menyimpan ironi yakni melibatkan asing dan mengisyaratkan ketakberdayaan agama.

Kedaulatan Rakyat

Inul adalah pribadi yang melejit dengan gerak revolusi pinggulanya yang berkecepatan
tinggi. Ketika karir ini masih bersifat lokal yakni dari kampung ke kampung tidak
terdengar tanggapan atasnya. Tetapi begitu naik ke level nasional mulai muncul kritik
dan kontroversi. Kritik keras bahkan larangan atas Inul dan Inulisasi direpresentasikan
oleh raja dangdut, Rhoma Irama.

Sebenarnya kritik Rhoma ada pada jalur yang benar tetapi wajah sendu, polos dan
kadang tetes air mata Inul membangkitkan simpati massa atasnya dan anti Rhoma.
Singkat kata, Inul menang dan popularitasnya kian meroket. Banyak artis berdecak
kagum dan menumpang ketenarannya.

AFI adalah aktivitas kelompok yang mampu memaksa sebagian masyarakat duduk
manis di depan teve selama dua jam setiap Sabtu malam dan mendiskusikannya
keesokan harinya. Ada tiga juri yang menilai penampilan setiap kontestan AFI tetapi
kata akhir tereliminasi tidaknya sang kontestan adalah para pemirsa.

Pemenang akhir AFI pertama adalah Fery kontestan asal Medan. Penampilannya yang
kalem dan cerita yang sempat berkembang sebelumnya bahwa dia berasal dari kalangan
wong cilik telah menumbuhkan simpati dan mengalahkan dua pesaing akhirnya KIA
dan Mawar. Para pengamat dan pekerja seni seperti Agus Sutejo Jiwo di salah satu teve
swasta mengatakan bahwa sebenarnya KIA lebih representatif daripada Fery.

Pemilu 5 Juli merupakan hajatan nasional dengan berbagai suguhan baru yang sangat
menarik. Salah satu suguhan tersebut adalah debat capres, para capres bebas mengurai
argument, bersumpah dan menjanjikan berbagai layanan gratis bila terpilih. Tetapi
keputusan akhir pemenang pilpres adalah rakyat yang memutuskannya di 570 000-an
TPS di seluruh pelosok tanah air.

Pemenangnya adalah mereka yang simpatik, tinggi besar, tampan dan pandai menyanyi,
serta yang dianiaya dengan fatwa haram. Pasangan paling kredibel dan kompeten yang
konon didukung kelompok reformis maupun strong and democratic leader versi iklan
kampanye Gus Dur terpaksa harus tersingkir.

Kesamaan dari tiga peristiwa di atas adalah kedaulatan rakyat dan keterlibatan pihak
asing. Inul menang dari Rhoma, Fery menjadi nomor satu dan SBY-JK serta Mega-
Hasyim masuk pilpres putaran kedua adalah atas kehendak rakyat. Untuk kasus terakhir
kita perlu menyampaikan selamat kepada rakyat yang telah menentukan calon
pimpinannya lima tahun ke depan secara bebas dan mandiri. SELAMAT untuk rakyat.

Ketiganya juga melibatkan asing. Inul makin berkibar ketika media asing Newsweek
memberitakan perjalanan karirnya secara cukup lengkap. AFI, Indonesian Idol maupun
“Who Wants to Be a Millioner” adalah tayangan import atau produk asing. Sedangkan
pemilu saat ini juga didanai, ditongkrongi dan dipengaruhi orang asing yang berkedok
pengamat, analis maupun akademisi.

Kematian Agama

Ketiga peristiwa di atas juga mengisyaratkan satu hal yang perlu dicermati dan disikapi
lebih serius. Kuntowijoyo (Kompas, 7/7/2004) dalam kasus politik yang baru
berlangsung menyebut dengan istilah pragmatisme religius. Maksudnya, dikotomi
sekuler-religius hilang dan semua urusan mempunyai dimensi rasional, ketuhanan dan
kemanusiaan. Kunto merujuk fakta bahwa semua pasangan capres-cawapres membawa
warna nasionalis-religius.

Bila hanya melihat peristiwa politik pilpres kita mungkin memang harus optimis seperti
akhir tulisan Kunto, siapapun yang dipilih hasilnya pasti sekuler-religius. Namun
menjadi lain bila tiga peristiwa di atas dilihat sebagai satu kesatuan yang kronologis dan
hirarkis. Mulanya Inul sebagai individu, kemudian AFI sebagai komunitas panggung
Indosiar dan terakhir perhelatan nasional pilpres.

Inul berasal dari keluarga biasa yang cukup aktif dalam mengikuti pengajian di
Pasuruan salah satu kota santri di Jatim. Pasuruan sendiri sempat dua kali mencuri
perhatian publik tanah air. Tepatnya ketika Amien Rais dicekal datang di kota tersebut
beberapa tahun lalu, dan ketika fatwa haram memilih pemimpin perempuan tiga bulan
lalu.

Tetapi Inul dan Inulisasi yang berkembang pesat sama sekali tidak merepresentasikan
santri dan berbagai atributnya. Santri yang baru belajar mengeja huruf hijaiyah pun tahu
bahwa goyang ngebor Inul dilarang Islam untuk dipertontonkan. Uniknya, pemuda-
pemuda kampung yang cukup rajin sholat berjamaah di masjid ikut mencemooh Rhoma
Irama lantaran pernah memarahi Inul.

Di sini agama menjadi tidak berdaya menyentuh problem Inul dengan kreasinya. Opini
yang berkembang adalah goyang ngebor merupakan problem seni dan kreativitas
karenanya tidak perlu dilarang. Sesekali diberitakan bahwa Inul adalah alumni sekolah
islam dan pandai membaca al-Qur’an untuk membangun opini bahwa sang ratu ngebor
adalah sosok kreatif-religius.

Di akhir setiap acara AFI selalu ada peserta yang tereliminasi. Di saat perpisahan yang
mengharukan peserta selalu berangkulan satu sama lain sambil –maaf- mengelus-elus
pundak yang tak tertutup kain dan bercium pipi peserta tereliminasi yang lawan jenis
sekalipun. Beberapa menit menjelang acara berakhir ada nasihat dari pembina ruhani
AFI ,”Jangan lupa, rajin sembahyang.” AFI pun tampak bagai tontonan artistik-religius.
Artinya, seni dengan segala asesorisnya termasuk yang menabrak agama maupun
kegiatan ritual seperti sembayang dapat berjalan berbarengan secara damai.

Kasus pemilu mungkin yang paling seru. Para pemuka agama berdiri berseberangan,
saling hajar lalu minta dukungan pada komunitas yang sama. Mereka pun tanpa risih
membicarakan pembagian bakal pendapatan dengan rekan yang kebetulan lain
dukungannya. Padahal pembicaraan itu ditayangkan media elektronik secara luas. Gus
Dur pun terpaksa menjadi makelar dengan meminta orang lain menyoblos pasangan
Wiranto-Solah sementara dia sendiri mengulang-ulang pernyataan akan golput.

Ummat yang selama ini penurut dan patuh mulai berani mengabaikan pimpinan mereka
dan secara bebas menentukan calonnya sendiri. Ummat mulai “rasional” dan tidak takut
kuwalat karena tidak mengikuti saran dan ajakan para kyai. Lebih dari itu, ummat juga
tidak peduli isu “anti islam” yang dihembuskan pada calon pilihannya, pun tak peduli
fatwa haram presiden perempuan.

Peristiwa elit agama selama musim kampanye lalu mengingatkan kita atas perilaku para
agamawan di Eropa abad 19 yang tidak sesuai dengan kaidah agama yang banyak
dikhutbahkannya. Waktu itu Nietsczhe memberontak dengan teriakan terkenal, “Tuhan
telah mati”. Protes Nietsczhe cukup relevan diusung ke negeri ini. Inuliasasi, AFI dan
pemberontakan atas perilaku elit agama serta perilaku elit agama itu sendiri saat pilpres
tentu lebih dari sekedar fenomena sekuler-religius melainkan juga kebangkrutan dan
kecenderungan pada kematian agama.

Atau boleh juga meminjam istilah Comte, masyarakat Indonesia sedang memasuki
jaman ketiga yakni jaman positif. Jaman dengan segala fenomenanya yang tidak lagi
memerlukan penjelasan teologis (agama) maupun metafisis.

Menanti Kesadaran Elit Agama

Ketiga peristiwa di atas jelas memberi pesan yang memprihatinkan dari perspektif
agama. Jepang barangkali dapat dijadikan contoh dari negeri positivistik. Di bulan
Desember denyut perayaan Natal dapat dirasakan di seantero Jepang. Uniknya, mereka
tidak merasa atau mengaku sebagai umat kristiani. Mereka pun mengaku tidak tahu
mengapa harus merayakan Natal selain tahu bahwa Barat melakukan pesta semacam ini
di setiap akhir tahun. Dalam banyak kesempatan penulis bertanya kepada mahasiswa S1
sampai S3 perihal agama mereka. Jawabnya seragam,”tidak tahu” dan mereka merasa
tidak beragama, dan mengalami peristiwa keagamaan hanya dalam tiga kesempatan.
Ketika lahir disambut secara budhis, menikah secara kristiani dan kembali budhis dalam
ritual kematian.

Ketercerabutan cita keagamaan masyarakat Indonesia belum separah masyarakat Jepang.
Namun bila melihat ke belakang misalnya sepuluh tahun lalu kemudian dibandingkan
keadaan saat ini, yang mana perempuan Indonesia berani tampil semi telanjang di
televisi tanpa rasa risih sedikit pun maka tidak terlalu berlebihan bila dibayangkan dan
diprediksi bahwa dalam satu-dua dasawarsa ke depan kita akan lebih dari Jepang dalam
pengasingan agama secara formal dan lebih dari Barat dalam memuja tradisi nudis dan
pergaulan bebas.

Kematian agama tidak berarti ateisme yang meniadakan Tuhan melainkan
dikesampingkannya peran agama dan Tuhan sebagaimana pandangan dunia mekanik
(mechanical world view). Tuhan dan ciptaanNya diibaratkan sebagai clockmaker dan
jam yang dibuatnya. Mulanya sang pembuat jam berfikir keras jam macam apa yang
akan dibuatnya, setelah ide muncul jam pun dibuat dan kemudian dibiarkan berjalan
sendiri sampai rusak. Singkatnya, Tuhan telah pensiun dari kesibukan proses penciptaan
mahluk.

Dalam era kematian agama barangkali Tuhan masih disebut-sebut bahkan secara hiruk-
pikuk. Namun penyebutan itu telah kehilangan makna transendentalnya. Penyebutan itu
pun tak lebih dari sekedar menyebut-nyebut perihal jenazah yang ada di depan kita
sementara kita bebas melakukan apa saja tanpa segan dan malu di depannya.

Itulah gambaran keagamaan masyarakat Indonesia yang terefleksi dari tiga serangkai
peristiwa Inul, AFI dan pilpres. Para elit harus membumikan ajaran agama dan tidak
boleh memperdagangkan dan mempermainkan agama. Elit Muhammadiyah, NU, Persis,
al-Irsyad dan yang lainnya tidak boleh gampang dibeli. Aktifis HMI, PMII, IMM,
KAMMI dan berbagai kelompok pengajian kampus tidak boleh disewa untuk demo
ataupun berebut duduk di belakang saat ujian apalagi nyontek. Sedikit kesalahan mereka
akan mempercepat proses kematian agama di negeri ini. Sebab merekalah simbol dan
bukti doktrin agama terdekat yang dapat dilihat langsung massa kebanyakan.

*) Pekerja di Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS; mantan Vice-
President of Saijou-Hiroshima Association.