Sabtu, 23 Agustus 2008
Minggu, 25 Mei 2008
Dua Tipe Poligami
SURYA, 15 Desember 2004
Oleh: Agus Purwanto*)
Muktamar NU di Boyolali dan Tanwir Muhammadiyah di Mataram lalu dengan nuansa
yang berbeda sempat diwarnai isu poligami. Kelompok pembela perempuan NU yang
dimotori Shinta Nuriyah istri KH. Abdurrahman Wahid menolak bantuan katering wong
Solo bagi konsumsi muktamar. Alasannya, sang pemilik terlibat dalam tindak kekerasan
terhadap perempuan melalui poligami. Syafii Maarif ketua Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah menolak desakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Gorontalo agar
Muhammadiyah bersikap terbuka terhadap poligami.
Gugatan Klasik
Bila diibaratkan olahraga menembak atau memanah maka jender dalam islam adalah
papan tembak dengan lingkaran-lingkaran poligami, kepemimpinan, warisan dan khatib
perempuan. Para atlet jago tembak dan ahli memanah berasal dari kalangan non-islam
maupun orang islam sendiri. Olahraga ini belakangan mengalami kemajuan pesat dan
membuat gemas para penggemar sekaligus berdebar-debar dan cemas.
Poligami merupakan fenomena kemanusiaan yang mendapat justifikasi formal dalam
Islam. Al-Qur’an dan pribadi Muhammad saw sebagai rujukan sentral islam telah
meneguhkan ajaran ini. Tetapi, mengapa poligami digugat? Apakah ditemukan korelasi
yang kuat antara poligami dan keterbelakangan umat islam? Atau sekedar akibat
inferiority complex yang diidap umat islam terhadap Barat sehingga semua yang berasal
dari Barat dipandang baik, diambil dan yang tidak sesuai dengan Barat harus dibuang?
Tiga dasawarsa lalu ketika umat islam Indonesia belum maju seperti saat ini wacana
gugatan terhadap poligami juga telah berkembang. Saat itu penggugat poligami berasal
dari kalangan orientalis Barat dengan tudingan utama Muhammad sebagai tokoh sentral
islam mengidap maniak seks.
Para ulama mejawab tudingan ini dengan mengurai sejarah perkawinan Rasulullah saw.
Sejarah memperlihatkan bahwa perkawinan Rasulullah dengan istri-istrinya setelah
Aisyah bersifat kemanusiaan bahkan dari sisi pribadi Muhammad bersifat “terpaksa”.
Bersifat kemanusiaan karena para istri tersebut adalah janda-janda pejuang islam yang
ditinggal syahid suaminya dan kemudian memerlukan status dan perlindungan sosial.
Para janda yang umumnya tidak muda tersebut memilih nabi yang jelas keutamaannya.
Tetapi mereka pun tahu bahwa sebenarnya Muhammad tidak terlalu berminat menikahi
mereka karena itu sebagian rela menyerahkan hak biologisnya kepada Aisyah.
Wacana penolakan poligami saat ini justru disuarakan oleh kalangan islam sendiri yang
serangannya tidak kalah hebat ketimbang serangan Barat. Tudingannya, poligami dapat
bertahan sekian abad di dalam islam disebabkan adanya bias jender yakni dominasi
laki-laki atas berbagai pemahaman dan penafsiran terhadap islam. Akibatnya, wajah
islam adalah wajah maskulin.
Selain itu, saat ini situasi telah berubah dibanding situasi pada saat turunnya teks suci
islam empat abad silam. Kini banyak wanita mempunyai status dan kemampuan yang
melebihi laki-laki. Karena itu ajaran-ajaran yang diskriminatif dan merendahkan derajat
wanita termasuk poligami perlu dimaknai secara kontekstual atau bahkan dihapus sama
sekali.
Poligami versus haji
Sebenarnya argumen penolakan terhadap poligami tidak terlalu kuat dan terlalu
dibuat-buat. Pertanyaan sederhana yang harus dijawab oleh para aktivis anti poligami,
bila bukan poligami lalu apa? Apakah Barat sebagai kiblat baru mereka memang
menawarkan model keluarga dan hubungan sosial khususnya hubungan laki-perempuan
yang ideal? Salah satu edisi Hiragana Times tahun 2000 menyebutkan bahwa
mahasiswa asal Eropa terkejut atas fenomena seks bebas Jepang yang mereka katakan
lebih Eropa ketimbang Eropa. Mereka pun menyebut Jepang sebagai sex paradise. Di
Jepang alat-alat masturbasi diiklankan dengan gencar. Apakah model kehidupan seperti
ini yang akan mereka tawarkan setelah menolak poligami?
Memang harus diakui praktek poligami selama ini lebih banyak memunculkan duka dan
kesedihan ketimbang keceriaan. Sebabnya teks kitab suci yang mengijinkan poligami
dimaknai secara sederhana yakni perkawinan satu laki-laki dengan dua, tiga atau empat
wanita. Meskipun demikian, kenyataan ini tidak cukup untuk dijadikan argumen
penolakannya apalagi bila kemudian menawarkan kesedihan baru atau tidak
menawarkan solusi alternatif.
Teks bagi poligami mengisyaratkan bahwa poligami merupakan tindakan bersyarat
bukan tindakan umum. Demikian pula bila mempertimbangkan penjabaran poligami
yang diperlihatkan melalui (bukan oleh) rasul suci Muhammad saw. (Penggalan)
Kalimat ini perlu ditegaskan, diperlihatkan melalui mengandung makna perintah Tuhan
kepada Muhammad untuk melakukan poligami yang sebenarnya berat baginya.
Sedangkan diperlihatkan oleh mengandung makna keputusan dan inisiatif Muhammad
untuk berpoligami atas dasar kerelaan dan suka cita.
Dengan demikian poligami sesungguhnya mengandung misi ilahiah yakni dalam rangka
mendukung gerakan da’wah dan mengurangi beban psikologi-sosial. Menggunakan
analogi sederhana poligami merupakan perintah bersyarat seperti halnya haji. Artinya
tidak semua muslim dewasa dapat menjalankan poligami. Ada syarat yang harus
dipenuhi, pertama pihak laki-laki mampu secara material sehingga mampu meringankan
keluarga secara keseluruhan baik istri sebelumnya maupun istri baru. Keluarga wong
Solo dengan beberapa istrinya yang kemudian menjadi pengelola bisnis ayam bakar
suaminya adalah contoh poligami yang memenuhi persyaratan ini.
Bila tidak, pihak calon istri yang mau berpoligami harus mampu secara material
sehingga mampu mengurangi beban calon suami sekaligus keluarga terdahulunya. Di
masyarakat tidak sedikit wanita muda yang berkedudukan dan mapan baik papan,
sandang, pangan maupun kendaraan terpaksa menjadi janda karena ditinggal mati
suaminya. Wanita seperti ini seringkali tidak ingin terus hidup tanpa suami tetapi juga
tidak ingin hidup dengan suami yang dalam banyak hal berada di bawah suaminya
terdahulu. Juga ada wanita introvert karena asyik dengan studi dan berlanjut di karier
sehingga akhirnya mencapai posisi amat mapan secara sosial ekonomi tetapi kemudian
menjadi gadis senja karena laki-laki takut mendekatinya.
Poligami tipe kedua ini mirip perkawinan-perkawinan yang dialami nabi suci. Para istri
mempunyai rumah dan pada dasarnya bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa nafkah dari
nabi saw sekalipun. Nabi dapat terus berda’wah tanpa harus terganggu dengan
istri-istri barunya. Wanita-wanita pelaku poligami tipe ini setidaknya akan terhindar dari
orang-orang yang terganggu oleh kesendiriannya dan tutup mata serta berspekulasi
untuk mendampinginya.
Para pekerja dakwah atau para akademisi idealis yang dipenuhi impian-impian dan
obsesi untuk membangun tradisi ilmu sebagaimana yang mereka lihat ketika di luar
negeri tetapi terbentur minimnya anggaran layak berpoligami tipe kedua ini. Kenyataan
memperlihatkan bahwa usaha-usaha sampingan para akademisi untuk menutupi
kebutuhan ekonominya pada saat yang sama telah mematikan kariernya sebagai
ilmuwan. Mereka mati dini sebagai ilmuwan meskipun kemudian mereka mungkin
mampu mempunyai jabatan-jabatan struktural yang tinggi. Kendala mereka untuk
berpoligami adalah posisinya yang pasif dan menunggu sinyal dari pihak wanita mapan
dan kaya. Inilah syarat mampu secara material bagi poligami agar tidak terlepas dari
misi sucinya.
Manusia secara naluriah saling membutuhkan satu sama lain termasuk membutuhkan
pasangan atau lawan jenis. Isu single parent bagi wanita-wanita karier belia yang
kemudian bercerai perlu diteliti apakah mereka benar-benar mampu hidup sendiri dalam
kondisi normal. Di Barat termasuk di Jepang memang dikenal adanya wanita hidup
tanpa suami tetapi bukan tanpa laki-laki. Di mana pun baik dunia islam atau bukan
kehadiran laki-laki bagi wanita dan sebaliknya adalah keniscayaan, hukum alam atau
sunnatullah. Dalam mengatasi situasi-situasi khusus islam menawarkan poligami dan
menolak seks bebas atau perselingkuhan.
Media memberitakan bahwa arena muktamar NU di Boyolali dihiasi banyak mobil
mewah. Di dalam berbagai gambar juga dapat dilihat banyak muktamirin sedang
berkomunikasi menggunakan tilpun genggam. Fenomena ini memperlihatkan bahwa
elite NU mengalami perubahan keadaan ekonomi yang signifikan. Namun “Mayoritas
Migran itu Nahdliyin” demikian judul artikel analis di Perhimpunan Indonesia untuk
Buruh Migran Berdaulat, Wahyu Susilo (Kompas, 26/11/2004). Daripada menyoal dan
melarang poligami ada baiknya kelompok pembela perempuan di NU mendorong agar
para elite NU yang kini mengalami kondisi ekonomi yang membaik ikut memperbaiki
nasib TKI/TKW termasuk salah satunya dengan poligami. Para elite NU memenuhi
persyaratan dan masuk kategori kandidat poligami aktif.
Sedangkan sikap tidak tegas Muhammadiyah terhadap poligami dapat dimaknai sebagai
penerimaan apa adanya teks poligami. Artinya secara prinsip diperbolehkan karena teks
kitab suci menyatakan demikian. Menggunakan ungkapan Syafii Maarif, jajaran PP
Muhammadiyah tidak pernah bermimpi poligami apalagi terlintas niatan untuk
melakukannya kecuali bagi yang memang berbakat.
Tidak jelas, apakah karena dipandang kontraproduktif sehingga Muhammadiyah tidak
menjadikan poligami sebagai komoditi isu dan bagian dari gerakan yang perlu
ditonjolkan. Atau karena sekitar 60% pimpinan Muhammadiyah adalah PNS sehingga
warga dan pimpinan Muhammadiyah hanya mempunyai kesempatan poligami pasif
yakni menunggu pinangan.
Poligami tidak perlu dijadikan polemik berkepanjangan ataupun dilarang. Selain masih
banyak isu yang lebih penting dan mendesak, teks suci meski dengan kondisi yang
memberatkan bagi pelaksanaannya memang mengijinkannya. Hal yang perlu dilakukan
adalah memaknai situasi atau persyaratan yang memungkinkan tetapi memberatkan
tersebut misalnya dalam fiqih poligami. Pengalaman empirik memperlihatkan bahwa
poligami mestinya hanya boleh bagi yang mampu khususnya secara material
sebagaimana ibadah haji. Wallahua’lam.
*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS, dan pemimpi peradaban
Islam.
Oleh: Agus Purwanto*)
Muktamar NU di Boyolali dan Tanwir Muhammadiyah di Mataram lalu dengan nuansa
yang berbeda sempat diwarnai isu poligami. Kelompok pembela perempuan NU yang
dimotori Shinta Nuriyah istri KH. Abdurrahman Wahid menolak bantuan katering wong
Solo bagi konsumsi muktamar. Alasannya, sang pemilik terlibat dalam tindak kekerasan
terhadap perempuan melalui poligami. Syafii Maarif ketua Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah menolak desakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Gorontalo agar
Muhammadiyah bersikap terbuka terhadap poligami.
Gugatan Klasik
Bila diibaratkan olahraga menembak atau memanah maka jender dalam islam adalah
papan tembak dengan lingkaran-lingkaran poligami, kepemimpinan, warisan dan khatib
perempuan. Para atlet jago tembak dan ahli memanah berasal dari kalangan non-islam
maupun orang islam sendiri. Olahraga ini belakangan mengalami kemajuan pesat dan
membuat gemas para penggemar sekaligus berdebar-debar dan cemas.
Poligami merupakan fenomena kemanusiaan yang mendapat justifikasi formal dalam
Islam. Al-Qur’an dan pribadi Muhammad saw sebagai rujukan sentral islam telah
meneguhkan ajaran ini. Tetapi, mengapa poligami digugat? Apakah ditemukan korelasi
yang kuat antara poligami dan keterbelakangan umat islam? Atau sekedar akibat
inferiority complex yang diidap umat islam terhadap Barat sehingga semua yang berasal
dari Barat dipandang baik, diambil dan yang tidak sesuai dengan Barat harus dibuang?
Tiga dasawarsa lalu ketika umat islam Indonesia belum maju seperti saat ini wacana
gugatan terhadap poligami juga telah berkembang. Saat itu penggugat poligami berasal
dari kalangan orientalis Barat dengan tudingan utama Muhammad sebagai tokoh sentral
islam mengidap maniak seks.
Para ulama mejawab tudingan ini dengan mengurai sejarah perkawinan Rasulullah saw.
Sejarah memperlihatkan bahwa perkawinan Rasulullah dengan istri-istrinya setelah
Aisyah bersifat kemanusiaan bahkan dari sisi pribadi Muhammad bersifat “terpaksa”.
Bersifat kemanusiaan karena para istri tersebut adalah janda-janda pejuang islam yang
ditinggal syahid suaminya dan kemudian memerlukan status dan perlindungan sosial.
Para janda yang umumnya tidak muda tersebut memilih nabi yang jelas keutamaannya.
Tetapi mereka pun tahu bahwa sebenarnya Muhammad tidak terlalu berminat menikahi
mereka karena itu sebagian rela menyerahkan hak biologisnya kepada Aisyah.
Wacana penolakan poligami saat ini justru disuarakan oleh kalangan islam sendiri yang
serangannya tidak kalah hebat ketimbang serangan Barat. Tudingannya, poligami dapat
bertahan sekian abad di dalam islam disebabkan adanya bias jender yakni dominasi
laki-laki atas berbagai pemahaman dan penafsiran terhadap islam. Akibatnya, wajah
islam adalah wajah maskulin.
Selain itu, saat ini situasi telah berubah dibanding situasi pada saat turunnya teks suci
islam empat abad silam. Kini banyak wanita mempunyai status dan kemampuan yang
melebihi laki-laki. Karena itu ajaran-ajaran yang diskriminatif dan merendahkan derajat
wanita termasuk poligami perlu dimaknai secara kontekstual atau bahkan dihapus sama
sekali.
Poligami versus haji
Sebenarnya argumen penolakan terhadap poligami tidak terlalu kuat dan terlalu
dibuat-buat. Pertanyaan sederhana yang harus dijawab oleh para aktivis anti poligami,
bila bukan poligami lalu apa? Apakah Barat sebagai kiblat baru mereka memang
menawarkan model keluarga dan hubungan sosial khususnya hubungan laki-perempuan
yang ideal? Salah satu edisi Hiragana Times tahun 2000 menyebutkan bahwa
mahasiswa asal Eropa terkejut atas fenomena seks bebas Jepang yang mereka katakan
lebih Eropa ketimbang Eropa. Mereka pun menyebut Jepang sebagai sex paradise. Di
Jepang alat-alat masturbasi diiklankan dengan gencar. Apakah model kehidupan seperti
ini yang akan mereka tawarkan setelah menolak poligami?
Memang harus diakui praktek poligami selama ini lebih banyak memunculkan duka dan
kesedihan ketimbang keceriaan. Sebabnya teks kitab suci yang mengijinkan poligami
dimaknai secara sederhana yakni perkawinan satu laki-laki dengan dua, tiga atau empat
wanita. Meskipun demikian, kenyataan ini tidak cukup untuk dijadikan argumen
penolakannya apalagi bila kemudian menawarkan kesedihan baru atau tidak
menawarkan solusi alternatif.
Teks bagi poligami mengisyaratkan bahwa poligami merupakan tindakan bersyarat
bukan tindakan umum. Demikian pula bila mempertimbangkan penjabaran poligami
yang diperlihatkan melalui (bukan oleh) rasul suci Muhammad saw. (Penggalan)
Kalimat ini perlu ditegaskan, diperlihatkan melalui mengandung makna perintah Tuhan
kepada Muhammad untuk melakukan poligami yang sebenarnya berat baginya.
Sedangkan diperlihatkan oleh mengandung makna keputusan dan inisiatif Muhammad
untuk berpoligami atas dasar kerelaan dan suka cita.
Dengan demikian poligami sesungguhnya mengandung misi ilahiah yakni dalam rangka
mendukung gerakan da’wah dan mengurangi beban psikologi-sosial. Menggunakan
analogi sederhana poligami merupakan perintah bersyarat seperti halnya haji. Artinya
tidak semua muslim dewasa dapat menjalankan poligami. Ada syarat yang harus
dipenuhi, pertama pihak laki-laki mampu secara material sehingga mampu meringankan
keluarga secara keseluruhan baik istri sebelumnya maupun istri baru. Keluarga wong
Solo dengan beberapa istrinya yang kemudian menjadi pengelola bisnis ayam bakar
suaminya adalah contoh poligami yang memenuhi persyaratan ini.
Bila tidak, pihak calon istri yang mau berpoligami harus mampu secara material
sehingga mampu mengurangi beban calon suami sekaligus keluarga terdahulunya. Di
masyarakat tidak sedikit wanita muda yang berkedudukan dan mapan baik papan,
sandang, pangan maupun kendaraan terpaksa menjadi janda karena ditinggal mati
suaminya. Wanita seperti ini seringkali tidak ingin terus hidup tanpa suami tetapi juga
tidak ingin hidup dengan suami yang dalam banyak hal berada di bawah suaminya
terdahulu. Juga ada wanita introvert karena asyik dengan studi dan berlanjut di karier
sehingga akhirnya mencapai posisi amat mapan secara sosial ekonomi tetapi kemudian
menjadi gadis senja karena laki-laki takut mendekatinya.
Poligami tipe kedua ini mirip perkawinan-perkawinan yang dialami nabi suci. Para istri
mempunyai rumah dan pada dasarnya bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa nafkah dari
nabi saw sekalipun. Nabi dapat terus berda’wah tanpa harus terganggu dengan
istri-istri barunya. Wanita-wanita pelaku poligami tipe ini setidaknya akan terhindar dari
orang-orang yang terganggu oleh kesendiriannya dan tutup mata serta berspekulasi
untuk mendampinginya.
Para pekerja dakwah atau para akademisi idealis yang dipenuhi impian-impian dan
obsesi untuk membangun tradisi ilmu sebagaimana yang mereka lihat ketika di luar
negeri tetapi terbentur minimnya anggaran layak berpoligami tipe kedua ini. Kenyataan
memperlihatkan bahwa usaha-usaha sampingan para akademisi untuk menutupi
kebutuhan ekonominya pada saat yang sama telah mematikan kariernya sebagai
ilmuwan. Mereka mati dini sebagai ilmuwan meskipun kemudian mereka mungkin
mampu mempunyai jabatan-jabatan struktural yang tinggi. Kendala mereka untuk
berpoligami adalah posisinya yang pasif dan menunggu sinyal dari pihak wanita mapan
dan kaya. Inilah syarat mampu secara material bagi poligami agar tidak terlepas dari
misi sucinya.
Manusia secara naluriah saling membutuhkan satu sama lain termasuk membutuhkan
pasangan atau lawan jenis. Isu single parent bagi wanita-wanita karier belia yang
kemudian bercerai perlu diteliti apakah mereka benar-benar mampu hidup sendiri dalam
kondisi normal. Di Barat termasuk di Jepang memang dikenal adanya wanita hidup
tanpa suami tetapi bukan tanpa laki-laki. Di mana pun baik dunia islam atau bukan
kehadiran laki-laki bagi wanita dan sebaliknya adalah keniscayaan, hukum alam atau
sunnatullah. Dalam mengatasi situasi-situasi khusus islam menawarkan poligami dan
menolak seks bebas atau perselingkuhan.
Media memberitakan bahwa arena muktamar NU di Boyolali dihiasi banyak mobil
mewah. Di dalam berbagai gambar juga dapat dilihat banyak muktamirin sedang
berkomunikasi menggunakan tilpun genggam. Fenomena ini memperlihatkan bahwa
elite NU mengalami perubahan keadaan ekonomi yang signifikan. Namun “Mayoritas
Migran itu Nahdliyin” demikian judul artikel analis di Perhimpunan Indonesia untuk
Buruh Migran Berdaulat, Wahyu Susilo (Kompas, 26/11/2004). Daripada menyoal dan
melarang poligami ada baiknya kelompok pembela perempuan di NU mendorong agar
para elite NU yang kini mengalami kondisi ekonomi yang membaik ikut memperbaiki
nasib TKI/TKW termasuk salah satunya dengan poligami. Para elite NU memenuhi
persyaratan dan masuk kategori kandidat poligami aktif.
Sedangkan sikap tidak tegas Muhammadiyah terhadap poligami dapat dimaknai sebagai
penerimaan apa adanya teks poligami. Artinya secara prinsip diperbolehkan karena teks
kitab suci menyatakan demikian. Menggunakan ungkapan Syafii Maarif, jajaran PP
Muhammadiyah tidak pernah bermimpi poligami apalagi terlintas niatan untuk
melakukannya kecuali bagi yang memang berbakat.
Tidak jelas, apakah karena dipandang kontraproduktif sehingga Muhammadiyah tidak
menjadikan poligami sebagai komoditi isu dan bagian dari gerakan yang perlu
ditonjolkan. Atau karena sekitar 60% pimpinan Muhammadiyah adalah PNS sehingga
warga dan pimpinan Muhammadiyah hanya mempunyai kesempatan poligami pasif
yakni menunggu pinangan.
Poligami tidak perlu dijadikan polemik berkepanjangan ataupun dilarang. Selain masih
banyak isu yang lebih penting dan mendesak, teks suci meski dengan kondisi yang
memberatkan bagi pelaksanaannya memang mengijinkannya. Hal yang perlu dilakukan
adalah memaknai situasi atau persyaratan yang memungkinkan tetapi memberatkan
tersebut misalnya dalam fiqih poligami. Pengalaman empirik memperlihatkan bahwa
poligami mestinya hanya boleh bagi yang mampu khususnya secara material
sebagaimana ibadah haji. Wallahua’lam.
*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS, dan pemimpi peradaban
Islam.
Rabu, 21 Mei 2008
Pesan Ilmiah Isra’ Mi’raj
SURYA, 11 September 2004
Agus Purwanto*)
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari masjid al-
Haram ke masjid al-Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan tanda-
tanda Kami ....” (QS al-Isra’:1)
Al-Qur’an menyatakan bahwa tidak satu pun ciptaan serta kejadian di alam
semesta ini yang kebetulan dan sia-sia. Para pemikir seperti Aristoteles dan
Einstein pun menyatakan bahwa alam semesta bertindak sesuai tujuan
tertentu. Bila demikian, apa yang hendak Dia perlihatkan melalui isra’ dan
mi’raj? Artikel ini membahas aspek fisika dari peristiwa malam 27 Rajab satu
tahun sebelum nabi saw hijrah.
Dimensi Ekstra
Teori relativitas khusus (TRK) menyatakan bila orang bergerak dengan laju
tinggi maka dia akan mengalami pemuluran (dilasi) waktu. Artinya, satu
menit bagi orang yang bergerak bisa jadi lima menit bagi orang lain yang
diam. Sebagian orang mencoba menjelaskan isra’ mi’raj dengan TRK dan
didukung QS al-Ma’arij: 3-4. Ayat ini mengisyaratkan pemuluran waktu, yakni
satu hari perjalanan malaikat dan ruh setara dengan 50 ribu tahun. Ini
berarti kecepatan malaikat dan ruh sama dengan kecepatan cahaya.
Implikasinya, bukan saja malaikat yang tersusun dari nur (cahaya)
melainkan juga ruh. Karena menurut prinsip TRK, hanya materi tak
bermassa yang bisa bergerak dengan laju cahaya dan materi tersebut hanya
foton yang tidak lain adalah gelombang medan elektromagnetik. Penafsiran
ini pada gilirannya menuntun pada kesimpulan bahwa isra’ dan mi’raj nabi
saw hanya sebatas ruhnya.
Bila dikaitkan dengan kosmologi modern penjelasan ala TRK menjadi tidak
memadai. Menurut model jagat raya berkembang, baik jagat raya tertutup,
terbuka maupun datar mi’raj nabi saw semalam hanya akan sampai di ruang
angkasa yang material. Nabi saw tidak pernah sampai di ruang spiritual
tempat sidratul muntaha.
Alternatifnya, isra’ mi’raj difahami dengan konsep dimensi ekstra. Dalam
ilustrasi dua dimensi ruang tertutup mengembang diberikan oleh permukaan
balon dengan tempelan potongan-potongan kecil kertas. Permukaan balon
adalah jagat raya secara keseluruhan, potongan kertas menyatakan galaksi
sedangkan permukaan balon tanpa tempelan adalah ruang antar galaksi. Bila
ditiup balon akan mengembang dan kertas-kertas akan berjauhan. Artinya,
alam semesta berkembang dan galaksi-galaksi saling menjauh.
Dalam sudut pandang ruang tiga dimensional, terdapat ruang di dalam dan
di luar permukaan bola. Dari sisi jagat raya dua dimensional ruang di dalam
dan di luar permukan dapat dipandang sebagai dimensi ekstra dari jagat raya
tertutup dua dimensi. Dalam perspektif ini bisa dikatakan bahwa langit
adalah ruang selain permukaan bola. Dan mi’raj adalah keluar dari langit
material dan masuk langit atau ruang immaterial. Lebih spesifiknya, nabi saw
keluar dari permukaan bola tiga dimensi (hypersphere) menuju dimensi lebih
tinggi dimana Sidratul Muntaha berada.
Dimensi ekstra dikenal baik di fisika. Keberhasilan memadukan gaya
elektromagnetik dengan gaya lemah dalam teori elektrolemah menuntun
pada teori kemanungalan agung (Grand Unified Theory, GUT). GUT klasik
belum sepenuhnya berhasil merealisasikan impian kemanunggalan gaya
elektromagnetik, lemah dan kuat. Impian tersebut baru dipenuhi oleh GUT
supersimetrik dengan konsep superruang delapan dimensinya. Empat dimensi
ruang-waktu kita dan empat lainnya adalah dimensi Grassmannian tempat
pasangan super setiap ciptaan berada.
Tetapi GUT supersimetrik masih menyisakan masalah hirarki konstanta
kopling gaya-gaya. Tahun 1998 Arkani Hamed dkk menggagas unseen atau
extra dimension dan berhasil mengatasi masalah tersebut. Di dalam konsep
dimensi ekstra ruang-waktu empat dimensi tempat kita tinggal digambarkan
sebagai garis lurus pada permukaan tabung silinder. Sedangkan keseluruhan
permukaan lainnya merepresentasikan dimensi yang lebih tinggi. Partikel
pasangan super yang berada di dimensi Grassmannian atau bulk particle di
dalam dimensi ekstra versi Arkani Hamed bisa berinteraksi dengan partikel
di ruang kita pada tingkat energi tertentu.
Dimensi ekstra ini juga diisyaratkan oleh QS al-Naml 38-40 dalam kisah
pemindahan singgasana ratu Bulqis ke istana nabi Sulaiman dalam
sekedipan mata. Dimensi ekstra juga diisyaratkan oleh hadis-hadis yang
menyatakan bahwa majelis-majelis ta’lim dikelilingi oleh para malaikat yang
ikut berdzikir dan mendo’akan peserta ta’lim. Jin dan malaikat ada di sekitar
kita tetapi kita tak pernah bertabrakan dengan mereka. Mereka hidup di
ruang dengan dimensi yang lebih tinggi tetapi kita bisa berinteraksi dengan
jin di ruang manusia.
Teleportasi Kuantum
Sekelompok penjelajah pemberani memasuki kamar khusus; pulsa cahaya,
dengung efek bunyi dan para hero menghilang dan tak lama kemudian
muncul kembali di permukaan planet nun jauh. Itulah impian dari teleportasi
yakni kemampuan melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain
tanpa harus melewati lintasan panjang yang membosankan, tanpa kendaraan
fisik dan setumpuk ransum.
Teleportasi kuantum mengeksploitasi prinsip dasar dari mekanika kuantum.
Ahli fisika teori sejak awal menyatakan bahwa fisika kuantum membawa
pada banyak fenomena yang tampak tak masuk akal sekalipun. Sebenarnya
mekanika kuantum secara prinsip tidak memungkinkan proses teleportasi.
Kaidah ketidakpastian Heisenberg tidak memungkinkan kita mengetahui secara
tepat posisi dan momentum suatu obyek pada waktu yang bersamaan.
Akibatnya, tidak mungkin men-scan secara sempurna suatu obyek yang akan
diteleportasikan. Scanning akan senantiasa memberikan error atas lokasi dan
kecepatan elektron dan atom suatu obyek.
Satu dasa warsa lalu, fisikawan C.H.Bennet dari IBM, G.Brassard, C.Crepeau
dan R. Josza dari Universitas Montreal, dan A.Peres dari Institut Teknologi
Technion Israel menemukan cara memanfaatkan kuantum untuk teleportasi.
Dan teleportasi kuantum telah menjadi kenyataan laboratorium bagi foton,
partikel individual dari cahaya. Meskipun demikian teleportasi dari benda
skala makro masih berupa fantasi. Barangkali kita pun bisa berspekulasi
bahwa Isra’ Mi’raj adalah teleportasi kuantum dalam skala makro!
Islamisasi Sains
Sains modern telah memberi kemajuan material yang luar biasa tetapi juga
membawa manusia pada keterasingan (alienasi) dan kehampaan spiritual.
Sains telah melakukan klaim-klaim di luar wewenangnya serta meneguhkan
pandangan dunia mekanik yang mengesampingkan peran Tuhan di dalam
kehidupan dunia ini. Akibat keterasingan dan berbagai krisis orang
merindukan sains alternatif yang dibangun dengan paradigma baru. Sains
dengan tataran ontologis, aksiologis, maupun epistemologis yang lebih
komprehensif. Sains holistik yang tidak mengabaikan peran wahyu dalam
tataran epistemologisnya.
Terkait dengan kerinduan tersebut, pendekatan sains-wahyu mestinya dibalik
menjadi wahyu-sains. Penafsiran isra’ mi’raj di atas adalah contoh alur pikiran
sains-wahyu, hasil sains dicari dan disesuaikan untuk mendukung nash kitab
suci. Pola yang mestinya kita kembangkan adalah pola wahyu-sains. Wahyu
dan tradisi dijadikan sebagai pijakan untuk membangun sains.
Dunia sufi mengenal nama Husain ibnu Mansur al-Hallaj (858-922M). Ajaran
al-Hallaj yang cukup populer adalah Haqiqot al-Muhammadiyah yang intinya
menyatakan bahwa awal mula dari segala penciptaan adalah Nur-Muhammad.
Muhammad saw terjadi dalam dua rupa yaitu rupa yang qodim (terdahulu)
dan baharu. Dari rupa yang qodim yaitu Nur-Muhammad diciptakan segala
sesuatu termasuk empat anasir api, udara, tanah dan air. Nur-Muhammad
adalah pusat kesatuan alam, pusat nubuwwah semua nabi serta sumber
pancaran ilmu dan hikmah serta meliputi seluruh ciptaan. Rupanya yang
baharu adalah rupanya sebagai manusia nabi dan rasul yang diutus Tuhan
dan merupakan bagian kecil dari pancaran Nur-Muhammad sendiri.
Ide ciptaan al-Hallaj sejalan dengan penciptaan jagat raya versi The Big Bang.
Dalam skenario Big Bang yang semula ada adalah superbola api yang
supermampat dan superpanas. Bola api ini meledak secara dahsyat dan
terhamparlah ruang dan waktu, gaya-gaya, partikel-partikel, inti atom, atom,
molekul, bintang dan galaksi serta kehidupan. Sisa radiasi saat ledakan besar
yang disebut Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR) terdeteksi oleh
astronom A.Penzias dan R.Wilson. Nur-Muhammad setara dengan super bola
api, bunyi ledakan besar Big Bang dengan firman Tuhan KUN (Jadilah), dan
Nur-Muhammad yang meliputi seluruh alam ciptaan dengan CMBR.
Di dunia kalam juga terdapat hal serupa. Jauh sebelum atomisme kuantum
lahir dunia islam telah mempunyai atomisme Asy’ariyah yang unik. Atom
sebagai al-juz alladzi laayatajazza, bagian atau eksistensi yang tak bisa dibagi
lagi merupakan penyusun dunia. Atom merupakan lokus yang memberi
substansi pada aksiden.
Atomisme Asy’ariyah mempunyai tiga karakteristik. Pertama, atom tidak
mempunyai ukuran dan homogen tetapi terpadu membentuk benda yang
mempunyai entitas. Kedua, jumlah atom tertentu dan berhingga. Asy’ariyah,
berdasarkan QS al-Jin:28 menolak ketakberhinggaan mazhab atomis Yunani.
Ketiga, atom-atom dapat musnah dan lenyap secara fitrah, tidak bisa
bertahan selama dua saat berturut-turut, namun secara terus menerus Tuhan
menciptakan dan memusnahkannya. Al-Asy’ariyah bersandar pada teks kitab
suci seperti QS ar-Rum: 11.
Gagasan dasar atomisme Asyariyah sangat dekat dengan atomisme kuantum.
Di dalam kuantum, partikel adalah medan yang terpaket, memiliki
karakteristik partikel sekaligus gelombang dengan wujud konkrit sebagai
paket gelombang. Maka ia tidak memiliki dimensi sebagaimana materi
menurut pemahaman klasik. Selanjutnya, di dalam medan kuantum dikenal
adanya kreasi dan pemusnahan partikel. Secara alamiah partikel bisa
tercipta dan musnah.
Isra’ miraj dan dua contoh di depan mestinya dapat memicu ilmuwan muslim
dan melakukan reorientasi dalam aktivitas ilmiahnya. Mereka perlu kembali
mempertemukan ayat-ayat kitab suci dan ayat-ayat kauniyah. Persoalannya
kini, tradisi ilmiah di kalangan umat islam masih lemah. Kita masih
kekurangan ilmuwan muslim khususnya bidang eksakta, terlebih lagi yang
berreputasi internasional.
*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS, mantan Vice-
President of Saijou-Hiroshima Moslem Association.
Agus Purwanto*)
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari masjid al-
Haram ke masjid al-Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan tanda-
tanda Kami ....” (QS al-Isra’:1)
Al-Qur’an menyatakan bahwa tidak satu pun ciptaan serta kejadian di alam
semesta ini yang kebetulan dan sia-sia. Para pemikir seperti Aristoteles dan
Einstein pun menyatakan bahwa alam semesta bertindak sesuai tujuan
tertentu. Bila demikian, apa yang hendak Dia perlihatkan melalui isra’ dan
mi’raj? Artikel ini membahas aspek fisika dari peristiwa malam 27 Rajab satu
tahun sebelum nabi saw hijrah.
Dimensi Ekstra
Teori relativitas khusus (TRK) menyatakan bila orang bergerak dengan laju
tinggi maka dia akan mengalami pemuluran (dilasi) waktu. Artinya, satu
menit bagi orang yang bergerak bisa jadi lima menit bagi orang lain yang
diam. Sebagian orang mencoba menjelaskan isra’ mi’raj dengan TRK dan
didukung QS al-Ma’arij: 3-4. Ayat ini mengisyaratkan pemuluran waktu, yakni
satu hari perjalanan malaikat dan ruh setara dengan 50 ribu tahun. Ini
berarti kecepatan malaikat dan ruh sama dengan kecepatan cahaya.
Implikasinya, bukan saja malaikat yang tersusun dari nur (cahaya)
melainkan juga ruh. Karena menurut prinsip TRK, hanya materi tak
bermassa yang bisa bergerak dengan laju cahaya dan materi tersebut hanya
foton yang tidak lain adalah gelombang medan elektromagnetik. Penafsiran
ini pada gilirannya menuntun pada kesimpulan bahwa isra’ dan mi’raj nabi
saw hanya sebatas ruhnya.
Bila dikaitkan dengan kosmologi modern penjelasan ala TRK menjadi tidak
memadai. Menurut model jagat raya berkembang, baik jagat raya tertutup,
terbuka maupun datar mi’raj nabi saw semalam hanya akan sampai di ruang
angkasa yang material. Nabi saw tidak pernah sampai di ruang spiritual
tempat sidratul muntaha.
Alternatifnya, isra’ mi’raj difahami dengan konsep dimensi ekstra. Dalam
ilustrasi dua dimensi ruang tertutup mengembang diberikan oleh permukaan
balon dengan tempelan potongan-potongan kecil kertas. Permukaan balon
adalah jagat raya secara keseluruhan, potongan kertas menyatakan galaksi
sedangkan permukaan balon tanpa tempelan adalah ruang antar galaksi. Bila
ditiup balon akan mengembang dan kertas-kertas akan berjauhan. Artinya,
alam semesta berkembang dan galaksi-galaksi saling menjauh.
Dalam sudut pandang ruang tiga dimensional, terdapat ruang di dalam dan
di luar permukaan bola. Dari sisi jagat raya dua dimensional ruang di dalam
dan di luar permukan dapat dipandang sebagai dimensi ekstra dari jagat raya
tertutup dua dimensi. Dalam perspektif ini bisa dikatakan bahwa langit
adalah ruang selain permukaan bola. Dan mi’raj adalah keluar dari langit
material dan masuk langit atau ruang immaterial. Lebih spesifiknya, nabi saw
keluar dari permukaan bola tiga dimensi (hypersphere) menuju dimensi lebih
tinggi dimana Sidratul Muntaha berada.
Dimensi ekstra dikenal baik di fisika. Keberhasilan memadukan gaya
elektromagnetik dengan gaya lemah dalam teori elektrolemah menuntun
pada teori kemanungalan agung (Grand Unified Theory, GUT). GUT klasik
belum sepenuhnya berhasil merealisasikan impian kemanunggalan gaya
elektromagnetik, lemah dan kuat. Impian tersebut baru dipenuhi oleh GUT
supersimetrik dengan konsep superruang delapan dimensinya. Empat dimensi
ruang-waktu kita dan empat lainnya adalah dimensi Grassmannian tempat
pasangan super setiap ciptaan berada.
Tetapi GUT supersimetrik masih menyisakan masalah hirarki konstanta
kopling gaya-gaya. Tahun 1998 Arkani Hamed dkk menggagas unseen atau
extra dimension dan berhasil mengatasi masalah tersebut. Di dalam konsep
dimensi ekstra ruang-waktu empat dimensi tempat kita tinggal digambarkan
sebagai garis lurus pada permukaan tabung silinder. Sedangkan keseluruhan
permukaan lainnya merepresentasikan dimensi yang lebih tinggi. Partikel
pasangan super yang berada di dimensi Grassmannian atau bulk particle di
dalam dimensi ekstra versi Arkani Hamed bisa berinteraksi dengan partikel
di ruang kita pada tingkat energi tertentu.
Dimensi ekstra ini juga diisyaratkan oleh QS al-Naml 38-40 dalam kisah
pemindahan singgasana ratu Bulqis ke istana nabi Sulaiman dalam
sekedipan mata. Dimensi ekstra juga diisyaratkan oleh hadis-hadis yang
menyatakan bahwa majelis-majelis ta’lim dikelilingi oleh para malaikat yang
ikut berdzikir dan mendo’akan peserta ta’lim. Jin dan malaikat ada di sekitar
kita tetapi kita tak pernah bertabrakan dengan mereka. Mereka hidup di
ruang dengan dimensi yang lebih tinggi tetapi kita bisa berinteraksi dengan
jin di ruang manusia.
Teleportasi Kuantum
Sekelompok penjelajah pemberani memasuki kamar khusus; pulsa cahaya,
dengung efek bunyi dan para hero menghilang dan tak lama kemudian
muncul kembali di permukaan planet nun jauh. Itulah impian dari teleportasi
yakni kemampuan melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain
tanpa harus melewati lintasan panjang yang membosankan, tanpa kendaraan
fisik dan setumpuk ransum.
Teleportasi kuantum mengeksploitasi prinsip dasar dari mekanika kuantum.
Ahli fisika teori sejak awal menyatakan bahwa fisika kuantum membawa
pada banyak fenomena yang tampak tak masuk akal sekalipun. Sebenarnya
mekanika kuantum secara prinsip tidak memungkinkan proses teleportasi.
Kaidah ketidakpastian Heisenberg tidak memungkinkan kita mengetahui secara
tepat posisi dan momentum suatu obyek pada waktu yang bersamaan.
Akibatnya, tidak mungkin men-scan secara sempurna suatu obyek yang akan
diteleportasikan. Scanning akan senantiasa memberikan error atas lokasi dan
kecepatan elektron dan atom suatu obyek.
Satu dasa warsa lalu, fisikawan C.H.Bennet dari IBM, G.Brassard, C.Crepeau
dan R. Josza dari Universitas Montreal, dan A.Peres dari Institut Teknologi
Technion Israel menemukan cara memanfaatkan kuantum untuk teleportasi.
Dan teleportasi kuantum telah menjadi kenyataan laboratorium bagi foton,
partikel individual dari cahaya. Meskipun demikian teleportasi dari benda
skala makro masih berupa fantasi. Barangkali kita pun bisa berspekulasi
bahwa Isra’ Mi’raj adalah teleportasi kuantum dalam skala makro!
Islamisasi Sains
Sains modern telah memberi kemajuan material yang luar biasa tetapi juga
membawa manusia pada keterasingan (alienasi) dan kehampaan spiritual.
Sains telah melakukan klaim-klaim di luar wewenangnya serta meneguhkan
pandangan dunia mekanik yang mengesampingkan peran Tuhan di dalam
kehidupan dunia ini. Akibat keterasingan dan berbagai krisis orang
merindukan sains alternatif yang dibangun dengan paradigma baru. Sains
dengan tataran ontologis, aksiologis, maupun epistemologis yang lebih
komprehensif. Sains holistik yang tidak mengabaikan peran wahyu dalam
tataran epistemologisnya.
Terkait dengan kerinduan tersebut, pendekatan sains-wahyu mestinya dibalik
menjadi wahyu-sains. Penafsiran isra’ mi’raj di atas adalah contoh alur pikiran
sains-wahyu, hasil sains dicari dan disesuaikan untuk mendukung nash kitab
suci. Pola yang mestinya kita kembangkan adalah pola wahyu-sains. Wahyu
dan tradisi dijadikan sebagai pijakan untuk membangun sains.
Dunia sufi mengenal nama Husain ibnu Mansur al-Hallaj (858-922M). Ajaran
al-Hallaj yang cukup populer adalah Haqiqot al-Muhammadiyah yang intinya
menyatakan bahwa awal mula dari segala penciptaan adalah Nur-Muhammad.
Muhammad saw terjadi dalam dua rupa yaitu rupa yang qodim (terdahulu)
dan baharu. Dari rupa yang qodim yaitu Nur-Muhammad diciptakan segala
sesuatu termasuk empat anasir api, udara, tanah dan air. Nur-Muhammad
adalah pusat kesatuan alam, pusat nubuwwah semua nabi serta sumber
pancaran ilmu dan hikmah serta meliputi seluruh ciptaan. Rupanya yang
baharu adalah rupanya sebagai manusia nabi dan rasul yang diutus Tuhan
dan merupakan bagian kecil dari pancaran Nur-Muhammad sendiri.
Ide ciptaan al-Hallaj sejalan dengan penciptaan jagat raya versi The Big Bang.
Dalam skenario Big Bang yang semula ada adalah superbola api yang
supermampat dan superpanas. Bola api ini meledak secara dahsyat dan
terhamparlah ruang dan waktu, gaya-gaya, partikel-partikel, inti atom, atom,
molekul, bintang dan galaksi serta kehidupan. Sisa radiasi saat ledakan besar
yang disebut Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR) terdeteksi oleh
astronom A.Penzias dan R.Wilson. Nur-Muhammad setara dengan super bola
api, bunyi ledakan besar Big Bang dengan firman Tuhan KUN (Jadilah), dan
Nur-Muhammad yang meliputi seluruh alam ciptaan dengan CMBR.
Di dunia kalam juga terdapat hal serupa. Jauh sebelum atomisme kuantum
lahir dunia islam telah mempunyai atomisme Asy’ariyah yang unik. Atom
sebagai al-juz alladzi laayatajazza, bagian atau eksistensi yang tak bisa dibagi
lagi merupakan penyusun dunia. Atom merupakan lokus yang memberi
substansi pada aksiden.
Atomisme Asy’ariyah mempunyai tiga karakteristik. Pertama, atom tidak
mempunyai ukuran dan homogen tetapi terpadu membentuk benda yang
mempunyai entitas. Kedua, jumlah atom tertentu dan berhingga. Asy’ariyah,
berdasarkan QS al-Jin:28 menolak ketakberhinggaan mazhab atomis Yunani.
Ketiga, atom-atom dapat musnah dan lenyap secara fitrah, tidak bisa
bertahan selama dua saat berturut-turut, namun secara terus menerus Tuhan
menciptakan dan memusnahkannya. Al-Asy’ariyah bersandar pada teks kitab
suci seperti QS ar-Rum: 11.
Gagasan dasar atomisme Asyariyah sangat dekat dengan atomisme kuantum.
Di dalam kuantum, partikel adalah medan yang terpaket, memiliki
karakteristik partikel sekaligus gelombang dengan wujud konkrit sebagai
paket gelombang. Maka ia tidak memiliki dimensi sebagaimana materi
menurut pemahaman klasik. Selanjutnya, di dalam medan kuantum dikenal
adanya kreasi dan pemusnahan partikel. Secara alamiah partikel bisa
tercipta dan musnah.
Isra’ miraj dan dua contoh di depan mestinya dapat memicu ilmuwan muslim
dan melakukan reorientasi dalam aktivitas ilmiahnya. Mereka perlu kembali
mempertemukan ayat-ayat kitab suci dan ayat-ayat kauniyah. Persoalannya
kini, tradisi ilmiah di kalangan umat islam masih lemah. Kita masih
kekurangan ilmuwan muslim khususnya bidang eksakta, terlebih lagi yang
berreputasi internasional.
*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS, mantan Vice-
President of Saijou-Hiroshima Moslem Association.
Pilpres dan Fenomena Kebangkrutan Agama
SURYA, 27 Juli 2004
Oleh: Agus Purwanto*)
Dalam rentang waktu satu tahun ini kita disodori tiga peristiwa serupa meski tak sama
yaitu Inul, AFI dan pilpres. Ketiganya merupakan jalan menuju puncak yang menyita
perhatian publik, fenomenal dan rakyat menjadi penentu akhirnya. Ketiganya juga
menyimpan ironi yakni melibatkan asing dan mengisyaratkan ketakberdayaan agama.
Kedaulatan Rakyat
Inul adalah pribadi yang melejit dengan gerak revolusi pinggulanya yang berkecepatan
tinggi. Ketika karir ini masih bersifat lokal yakni dari kampung ke kampung tidak
terdengar tanggapan atasnya. Tetapi begitu naik ke level nasional mulai muncul kritik
dan kontroversi. Kritik keras bahkan larangan atas Inul dan Inulisasi direpresentasikan
oleh raja dangdut, Rhoma Irama.
Sebenarnya kritik Rhoma ada pada jalur yang benar tetapi wajah sendu, polos dan
kadang tetes air mata Inul membangkitkan simpati massa atasnya dan anti Rhoma.
Singkat kata, Inul menang dan popularitasnya kian meroket. Banyak artis berdecak
kagum dan menumpang ketenarannya.
AFI adalah aktivitas kelompok yang mampu memaksa sebagian masyarakat duduk
manis di depan teve selama dua jam setiap Sabtu malam dan mendiskusikannya
keesokan harinya. Ada tiga juri yang menilai penampilan setiap kontestan AFI tetapi
kata akhir tereliminasi tidaknya sang kontestan adalah para pemirsa.
Pemenang akhir AFI pertama adalah Fery kontestan asal Medan. Penampilannya yang
kalem dan cerita yang sempat berkembang sebelumnya bahwa dia berasal dari kalangan
wong cilik telah menumbuhkan simpati dan mengalahkan dua pesaing akhirnya KIA
dan Mawar. Para pengamat dan pekerja seni seperti Agus Sutejo Jiwo di salah satu teve
swasta mengatakan bahwa sebenarnya KIA lebih representatif daripada Fery.
Pemilu 5 Juli merupakan hajatan nasional dengan berbagai suguhan baru yang sangat
menarik. Salah satu suguhan tersebut adalah debat capres, para capres bebas mengurai
argument, bersumpah dan menjanjikan berbagai layanan gratis bila terpilih. Tetapi
keputusan akhir pemenang pilpres adalah rakyat yang memutuskannya di 570 000-an
TPS di seluruh pelosok tanah air.
Pemenangnya adalah mereka yang simpatik, tinggi besar, tampan dan pandai menyanyi,
serta yang dianiaya dengan fatwa haram. Pasangan paling kredibel dan kompeten yang
konon didukung kelompok reformis maupun strong and democratic leader versi iklan
kampanye Gus Dur terpaksa harus tersingkir.
Kesamaan dari tiga peristiwa di atas adalah kedaulatan rakyat dan keterlibatan pihak
asing. Inul menang dari Rhoma, Fery menjadi nomor satu dan SBY-JK serta Mega-
Hasyim masuk pilpres putaran kedua adalah atas kehendak rakyat. Untuk kasus terakhir
kita perlu menyampaikan selamat kepada rakyat yang telah menentukan calon
pimpinannya lima tahun ke depan secara bebas dan mandiri. SELAMAT untuk rakyat.
Ketiganya juga melibatkan asing. Inul makin berkibar ketika media asing Newsweek
memberitakan perjalanan karirnya secara cukup lengkap. AFI, Indonesian Idol maupun
“Who Wants to Be a Millioner” adalah tayangan import atau produk asing. Sedangkan
pemilu saat ini juga didanai, ditongkrongi dan dipengaruhi orang asing yang berkedok
pengamat, analis maupun akademisi.
Kematian Agama
Ketiga peristiwa di atas juga mengisyaratkan satu hal yang perlu dicermati dan disikapi
lebih serius. Kuntowijoyo (Kompas, 7/7/2004) dalam kasus politik yang baru
berlangsung menyebut dengan istilah pragmatisme religius. Maksudnya, dikotomi
sekuler-religius hilang dan semua urusan mempunyai dimensi rasional, ketuhanan dan
kemanusiaan. Kunto merujuk fakta bahwa semua pasangan capres-cawapres membawa
warna nasionalis-religius.
Bila hanya melihat peristiwa politik pilpres kita mungkin memang harus optimis seperti
akhir tulisan Kunto, siapapun yang dipilih hasilnya pasti sekuler-religius. Namun
menjadi lain bila tiga peristiwa di atas dilihat sebagai satu kesatuan yang kronologis dan
hirarkis. Mulanya Inul sebagai individu, kemudian AFI sebagai komunitas panggung
Indosiar dan terakhir perhelatan nasional pilpres.
Inul berasal dari keluarga biasa yang cukup aktif dalam mengikuti pengajian di
Pasuruan salah satu kota santri di Jatim. Pasuruan sendiri sempat dua kali mencuri
perhatian publik tanah air. Tepatnya ketika Amien Rais dicekal datang di kota tersebut
beberapa tahun lalu, dan ketika fatwa haram memilih pemimpin perempuan tiga bulan
lalu.
Tetapi Inul dan Inulisasi yang berkembang pesat sama sekali tidak merepresentasikan
santri dan berbagai atributnya. Santri yang baru belajar mengeja huruf hijaiyah pun tahu
bahwa goyang ngebor Inul dilarang Islam untuk dipertontonkan. Uniknya, pemuda-
pemuda kampung yang cukup rajin sholat berjamaah di masjid ikut mencemooh Rhoma
Irama lantaran pernah memarahi Inul.
Di sini agama menjadi tidak berdaya menyentuh problem Inul dengan kreasinya. Opini
yang berkembang adalah goyang ngebor merupakan problem seni dan kreativitas
karenanya tidak perlu dilarang. Sesekali diberitakan bahwa Inul adalah alumni sekolah
islam dan pandai membaca al-Qur’an untuk membangun opini bahwa sang ratu ngebor
adalah sosok kreatif-religius.
Di akhir setiap acara AFI selalu ada peserta yang tereliminasi. Di saat perpisahan yang
mengharukan peserta selalu berangkulan satu sama lain sambil –maaf- mengelus-elus
pundak yang tak tertutup kain dan bercium pipi peserta tereliminasi yang lawan jenis
sekalipun. Beberapa menit menjelang acara berakhir ada nasihat dari pembina ruhani
AFI ,”Jangan lupa, rajin sembahyang.” AFI pun tampak bagai tontonan artistik-religius.
Artinya, seni dengan segala asesorisnya termasuk yang menabrak agama maupun
kegiatan ritual seperti sembayang dapat berjalan berbarengan secara damai.
Kasus pemilu mungkin yang paling seru. Para pemuka agama berdiri berseberangan,
saling hajar lalu minta dukungan pada komunitas yang sama. Mereka pun tanpa risih
membicarakan pembagian bakal pendapatan dengan rekan yang kebetulan lain
dukungannya. Padahal pembicaraan itu ditayangkan media elektronik secara luas. Gus
Dur pun terpaksa menjadi makelar dengan meminta orang lain menyoblos pasangan
Wiranto-Solah sementara dia sendiri mengulang-ulang pernyataan akan golput.
Ummat yang selama ini penurut dan patuh mulai berani mengabaikan pimpinan mereka
dan secara bebas menentukan calonnya sendiri. Ummat mulai “rasional” dan tidak takut
kuwalat karena tidak mengikuti saran dan ajakan para kyai. Lebih dari itu, ummat juga
tidak peduli isu “anti islam” yang dihembuskan pada calon pilihannya, pun tak peduli
fatwa haram presiden perempuan.
Peristiwa elit agama selama musim kampanye lalu mengingatkan kita atas perilaku para
agamawan di Eropa abad 19 yang tidak sesuai dengan kaidah agama yang banyak
dikhutbahkannya. Waktu itu Nietsczhe memberontak dengan teriakan terkenal, “Tuhan
telah mati”. Protes Nietsczhe cukup relevan diusung ke negeri ini. Inuliasasi, AFI dan
pemberontakan atas perilaku elit agama serta perilaku elit agama itu sendiri saat pilpres
tentu lebih dari sekedar fenomena sekuler-religius melainkan juga kebangkrutan dan
kecenderungan pada kematian agama.
Atau boleh juga meminjam istilah Comte, masyarakat Indonesia sedang memasuki
jaman ketiga yakni jaman positif. Jaman dengan segala fenomenanya yang tidak lagi
memerlukan penjelasan teologis (agama) maupun metafisis.
Menanti Kesadaran Elit Agama
Ketiga peristiwa di atas jelas memberi pesan yang memprihatinkan dari perspektif
agama. Jepang barangkali dapat dijadikan contoh dari negeri positivistik. Di bulan
Desember denyut perayaan Natal dapat dirasakan di seantero Jepang. Uniknya, mereka
tidak merasa atau mengaku sebagai umat kristiani. Mereka pun mengaku tidak tahu
mengapa harus merayakan Natal selain tahu bahwa Barat melakukan pesta semacam ini
di setiap akhir tahun. Dalam banyak kesempatan penulis bertanya kepada mahasiswa S1
sampai S3 perihal agama mereka. Jawabnya seragam,”tidak tahu” dan mereka merasa
tidak beragama, dan mengalami peristiwa keagamaan hanya dalam tiga kesempatan.
Ketika lahir disambut secara budhis, menikah secara kristiani dan kembali budhis dalam
ritual kematian.
Ketercerabutan cita keagamaan masyarakat Indonesia belum separah masyarakat Jepang.
Namun bila melihat ke belakang misalnya sepuluh tahun lalu kemudian dibandingkan
keadaan saat ini, yang mana perempuan Indonesia berani tampil semi telanjang di
televisi tanpa rasa risih sedikit pun maka tidak terlalu berlebihan bila dibayangkan dan
diprediksi bahwa dalam satu-dua dasawarsa ke depan kita akan lebih dari Jepang dalam
pengasingan agama secara formal dan lebih dari Barat dalam memuja tradisi nudis dan
pergaulan bebas.
Kematian agama tidak berarti ateisme yang meniadakan Tuhan melainkan
dikesampingkannya peran agama dan Tuhan sebagaimana pandangan dunia mekanik
(mechanical world view). Tuhan dan ciptaanNya diibaratkan sebagai clockmaker dan
jam yang dibuatnya. Mulanya sang pembuat jam berfikir keras jam macam apa yang
akan dibuatnya, setelah ide muncul jam pun dibuat dan kemudian dibiarkan berjalan
sendiri sampai rusak. Singkatnya, Tuhan telah pensiun dari kesibukan proses penciptaan
mahluk.
Dalam era kematian agama barangkali Tuhan masih disebut-sebut bahkan secara hiruk-
pikuk. Namun penyebutan itu telah kehilangan makna transendentalnya. Penyebutan itu
pun tak lebih dari sekedar menyebut-nyebut perihal jenazah yang ada di depan kita
sementara kita bebas melakukan apa saja tanpa segan dan malu di depannya.
Itulah gambaran keagamaan masyarakat Indonesia yang terefleksi dari tiga serangkai
peristiwa Inul, AFI dan pilpres. Para elit harus membumikan ajaran agama dan tidak
boleh memperdagangkan dan mempermainkan agama. Elit Muhammadiyah, NU, Persis,
al-Irsyad dan yang lainnya tidak boleh gampang dibeli. Aktifis HMI, PMII, IMM,
KAMMI dan berbagai kelompok pengajian kampus tidak boleh disewa untuk demo
ataupun berebut duduk di belakang saat ujian apalagi nyontek. Sedikit kesalahan mereka
akan mempercepat proses kematian agama di negeri ini. Sebab merekalah simbol dan
bukti doktrin agama terdekat yang dapat dilihat langsung massa kebanyakan.
*) Pekerja di Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS; mantan Vice-
President of Saijou-Hiroshima Association.
Oleh: Agus Purwanto*)
Dalam rentang waktu satu tahun ini kita disodori tiga peristiwa serupa meski tak sama
yaitu Inul, AFI dan pilpres. Ketiganya merupakan jalan menuju puncak yang menyita
perhatian publik, fenomenal dan rakyat menjadi penentu akhirnya. Ketiganya juga
menyimpan ironi yakni melibatkan asing dan mengisyaratkan ketakberdayaan agama.
Kedaulatan Rakyat
Inul adalah pribadi yang melejit dengan gerak revolusi pinggulanya yang berkecepatan
tinggi. Ketika karir ini masih bersifat lokal yakni dari kampung ke kampung tidak
terdengar tanggapan atasnya. Tetapi begitu naik ke level nasional mulai muncul kritik
dan kontroversi. Kritik keras bahkan larangan atas Inul dan Inulisasi direpresentasikan
oleh raja dangdut, Rhoma Irama.
Sebenarnya kritik Rhoma ada pada jalur yang benar tetapi wajah sendu, polos dan
kadang tetes air mata Inul membangkitkan simpati massa atasnya dan anti Rhoma.
Singkat kata, Inul menang dan popularitasnya kian meroket. Banyak artis berdecak
kagum dan menumpang ketenarannya.
AFI adalah aktivitas kelompok yang mampu memaksa sebagian masyarakat duduk
manis di depan teve selama dua jam setiap Sabtu malam dan mendiskusikannya
keesokan harinya. Ada tiga juri yang menilai penampilan setiap kontestan AFI tetapi
kata akhir tereliminasi tidaknya sang kontestan adalah para pemirsa.
Pemenang akhir AFI pertama adalah Fery kontestan asal Medan. Penampilannya yang
kalem dan cerita yang sempat berkembang sebelumnya bahwa dia berasal dari kalangan
wong cilik telah menumbuhkan simpati dan mengalahkan dua pesaing akhirnya KIA
dan Mawar. Para pengamat dan pekerja seni seperti Agus Sutejo Jiwo di salah satu teve
swasta mengatakan bahwa sebenarnya KIA lebih representatif daripada Fery.
Pemilu 5 Juli merupakan hajatan nasional dengan berbagai suguhan baru yang sangat
menarik. Salah satu suguhan tersebut adalah debat capres, para capres bebas mengurai
argument, bersumpah dan menjanjikan berbagai layanan gratis bila terpilih. Tetapi
keputusan akhir pemenang pilpres adalah rakyat yang memutuskannya di 570 000-an
TPS di seluruh pelosok tanah air.
Pemenangnya adalah mereka yang simpatik, tinggi besar, tampan dan pandai menyanyi,
serta yang dianiaya dengan fatwa haram. Pasangan paling kredibel dan kompeten yang
konon didukung kelompok reformis maupun strong and democratic leader versi iklan
kampanye Gus Dur terpaksa harus tersingkir.
Kesamaan dari tiga peristiwa di atas adalah kedaulatan rakyat dan keterlibatan pihak
asing. Inul menang dari Rhoma, Fery menjadi nomor satu dan SBY-JK serta Mega-
Hasyim masuk pilpres putaran kedua adalah atas kehendak rakyat. Untuk kasus terakhir
kita perlu menyampaikan selamat kepada rakyat yang telah menentukan calon
pimpinannya lima tahun ke depan secara bebas dan mandiri. SELAMAT untuk rakyat.
Ketiganya juga melibatkan asing. Inul makin berkibar ketika media asing Newsweek
memberitakan perjalanan karirnya secara cukup lengkap. AFI, Indonesian Idol maupun
“Who Wants to Be a Millioner” adalah tayangan import atau produk asing. Sedangkan
pemilu saat ini juga didanai, ditongkrongi dan dipengaruhi orang asing yang berkedok
pengamat, analis maupun akademisi.
Kematian Agama
Ketiga peristiwa di atas juga mengisyaratkan satu hal yang perlu dicermati dan disikapi
lebih serius. Kuntowijoyo (Kompas, 7/7/2004) dalam kasus politik yang baru
berlangsung menyebut dengan istilah pragmatisme religius. Maksudnya, dikotomi
sekuler-religius hilang dan semua urusan mempunyai dimensi rasional, ketuhanan dan
kemanusiaan. Kunto merujuk fakta bahwa semua pasangan capres-cawapres membawa
warna nasionalis-religius.
Bila hanya melihat peristiwa politik pilpres kita mungkin memang harus optimis seperti
akhir tulisan Kunto, siapapun yang dipilih hasilnya pasti sekuler-religius. Namun
menjadi lain bila tiga peristiwa di atas dilihat sebagai satu kesatuan yang kronologis dan
hirarkis. Mulanya Inul sebagai individu, kemudian AFI sebagai komunitas panggung
Indosiar dan terakhir perhelatan nasional pilpres.
Inul berasal dari keluarga biasa yang cukup aktif dalam mengikuti pengajian di
Pasuruan salah satu kota santri di Jatim. Pasuruan sendiri sempat dua kali mencuri
perhatian publik tanah air. Tepatnya ketika Amien Rais dicekal datang di kota tersebut
beberapa tahun lalu, dan ketika fatwa haram memilih pemimpin perempuan tiga bulan
lalu.
Tetapi Inul dan Inulisasi yang berkembang pesat sama sekali tidak merepresentasikan
santri dan berbagai atributnya. Santri yang baru belajar mengeja huruf hijaiyah pun tahu
bahwa goyang ngebor Inul dilarang Islam untuk dipertontonkan. Uniknya, pemuda-
pemuda kampung yang cukup rajin sholat berjamaah di masjid ikut mencemooh Rhoma
Irama lantaran pernah memarahi Inul.
Di sini agama menjadi tidak berdaya menyentuh problem Inul dengan kreasinya. Opini
yang berkembang adalah goyang ngebor merupakan problem seni dan kreativitas
karenanya tidak perlu dilarang. Sesekali diberitakan bahwa Inul adalah alumni sekolah
islam dan pandai membaca al-Qur’an untuk membangun opini bahwa sang ratu ngebor
adalah sosok kreatif-religius.
Di akhir setiap acara AFI selalu ada peserta yang tereliminasi. Di saat perpisahan yang
mengharukan peserta selalu berangkulan satu sama lain sambil –maaf- mengelus-elus
pundak yang tak tertutup kain dan bercium pipi peserta tereliminasi yang lawan jenis
sekalipun. Beberapa menit menjelang acara berakhir ada nasihat dari pembina ruhani
AFI ,”Jangan lupa, rajin sembahyang.” AFI pun tampak bagai tontonan artistik-religius.
Artinya, seni dengan segala asesorisnya termasuk yang menabrak agama maupun
kegiatan ritual seperti sembayang dapat berjalan berbarengan secara damai.
Kasus pemilu mungkin yang paling seru. Para pemuka agama berdiri berseberangan,
saling hajar lalu minta dukungan pada komunitas yang sama. Mereka pun tanpa risih
membicarakan pembagian bakal pendapatan dengan rekan yang kebetulan lain
dukungannya. Padahal pembicaraan itu ditayangkan media elektronik secara luas. Gus
Dur pun terpaksa menjadi makelar dengan meminta orang lain menyoblos pasangan
Wiranto-Solah sementara dia sendiri mengulang-ulang pernyataan akan golput.
Ummat yang selama ini penurut dan patuh mulai berani mengabaikan pimpinan mereka
dan secara bebas menentukan calonnya sendiri. Ummat mulai “rasional” dan tidak takut
kuwalat karena tidak mengikuti saran dan ajakan para kyai. Lebih dari itu, ummat juga
tidak peduli isu “anti islam” yang dihembuskan pada calon pilihannya, pun tak peduli
fatwa haram presiden perempuan.
Peristiwa elit agama selama musim kampanye lalu mengingatkan kita atas perilaku para
agamawan di Eropa abad 19 yang tidak sesuai dengan kaidah agama yang banyak
dikhutbahkannya. Waktu itu Nietsczhe memberontak dengan teriakan terkenal, “Tuhan
telah mati”. Protes Nietsczhe cukup relevan diusung ke negeri ini. Inuliasasi, AFI dan
pemberontakan atas perilaku elit agama serta perilaku elit agama itu sendiri saat pilpres
tentu lebih dari sekedar fenomena sekuler-religius melainkan juga kebangkrutan dan
kecenderungan pada kematian agama.
Atau boleh juga meminjam istilah Comte, masyarakat Indonesia sedang memasuki
jaman ketiga yakni jaman positif. Jaman dengan segala fenomenanya yang tidak lagi
memerlukan penjelasan teologis (agama) maupun metafisis.
Menanti Kesadaran Elit Agama
Ketiga peristiwa di atas jelas memberi pesan yang memprihatinkan dari perspektif
agama. Jepang barangkali dapat dijadikan contoh dari negeri positivistik. Di bulan
Desember denyut perayaan Natal dapat dirasakan di seantero Jepang. Uniknya, mereka
tidak merasa atau mengaku sebagai umat kristiani. Mereka pun mengaku tidak tahu
mengapa harus merayakan Natal selain tahu bahwa Barat melakukan pesta semacam ini
di setiap akhir tahun. Dalam banyak kesempatan penulis bertanya kepada mahasiswa S1
sampai S3 perihal agama mereka. Jawabnya seragam,”tidak tahu” dan mereka merasa
tidak beragama, dan mengalami peristiwa keagamaan hanya dalam tiga kesempatan.
Ketika lahir disambut secara budhis, menikah secara kristiani dan kembali budhis dalam
ritual kematian.
Ketercerabutan cita keagamaan masyarakat Indonesia belum separah masyarakat Jepang.
Namun bila melihat ke belakang misalnya sepuluh tahun lalu kemudian dibandingkan
keadaan saat ini, yang mana perempuan Indonesia berani tampil semi telanjang di
televisi tanpa rasa risih sedikit pun maka tidak terlalu berlebihan bila dibayangkan dan
diprediksi bahwa dalam satu-dua dasawarsa ke depan kita akan lebih dari Jepang dalam
pengasingan agama secara formal dan lebih dari Barat dalam memuja tradisi nudis dan
pergaulan bebas.
Kematian agama tidak berarti ateisme yang meniadakan Tuhan melainkan
dikesampingkannya peran agama dan Tuhan sebagaimana pandangan dunia mekanik
(mechanical world view). Tuhan dan ciptaanNya diibaratkan sebagai clockmaker dan
jam yang dibuatnya. Mulanya sang pembuat jam berfikir keras jam macam apa yang
akan dibuatnya, setelah ide muncul jam pun dibuat dan kemudian dibiarkan berjalan
sendiri sampai rusak. Singkatnya, Tuhan telah pensiun dari kesibukan proses penciptaan
mahluk.
Dalam era kematian agama barangkali Tuhan masih disebut-sebut bahkan secara hiruk-
pikuk. Namun penyebutan itu telah kehilangan makna transendentalnya. Penyebutan itu
pun tak lebih dari sekedar menyebut-nyebut perihal jenazah yang ada di depan kita
sementara kita bebas melakukan apa saja tanpa segan dan malu di depannya.
Itulah gambaran keagamaan masyarakat Indonesia yang terefleksi dari tiga serangkai
peristiwa Inul, AFI dan pilpres. Para elit harus membumikan ajaran agama dan tidak
boleh memperdagangkan dan mempermainkan agama. Elit Muhammadiyah, NU, Persis,
al-Irsyad dan yang lainnya tidak boleh gampang dibeli. Aktifis HMI, PMII, IMM,
KAMMI dan berbagai kelompok pengajian kampus tidak boleh disewa untuk demo
ataupun berebut duduk di belakang saat ujian apalagi nyontek. Sedikit kesalahan mereka
akan mempercepat proses kematian agama di negeri ini. Sebab merekalah simbol dan
bukti doktrin agama terdekat yang dapat dilihat langsung massa kebanyakan.
*) Pekerja di Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS; mantan Vice-
President of Saijou-Hiroshima Association.
PSK, Siapa Peduli?
KOMPAS, 30 April 2004
Oleh: Agus Purwanto*)
Kasus pangkat dan golongan Dr. Terry Mart di jurusan fisika UI jelas kalah populer dari
kasus pemilu dan capres RI, meskipun demikian tetap sangat menarik untuk terus
diangkat. Pasalnya, kasus Terry Mart adalah potret buram dunia ilmu di negeri ini.
Sementara tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan suatu negeri juga berbanding dengan
kemajuan dunia ilmu.
Publikasi Terry Mart di jurnal internasional bias dilihat misalnya di http://xxx.lanl.gov
milik Los Alamos National Laoratory. Ada sekitar empat puluh published paper Terry
Mart bersama koleganya di dalam dan luar negeri. Dengan reputasi tersebut, dia adalah
satu dari amat sangat sedikit the real scientists yang kita miliki. Namun masa kerjanya
yang lebih dari sepuluh tahun dan reputasinya memang tidak serta merta membuatnya
dihargai. Sampai saat ini ia masih golongan 3A, golongannya sepuluh tahun lalu.
Seperti disinggung oleh Liek Wilardjo (Kompas, 9/3/2004) ada prosedur promosi yang
salah di fisika UI khususnya dan Indonesia umumnya. Keruwetan birokrasi, standar
yang tidak sama dan yang tidak kalah pentingnya adalah kepedulian dan kesadaran
pejabat atau atasan merupakan sebabnya.
Keruwetan birokrasi telah menjadi rahasia umum dan terjadi di mana-mana. Birokrasi
kita berpijak pada filosofi jahiliyah “bila dapat dipersulit mengapa harus dipermudah”.
Standar formal memang sama tetapi standar moral berbeda dan sangat bergantung pada
latar belakang kumpulan individu di dalamnya. Staf senior fisika UI Dr. Na Peng Bo
merasa malu untuk menjadi dan mendapat gelar guru besar. Sedangkan satu-satunya
kosmolog kita Jorga Ibrahim, DSc sampai pensiun juga tidak menyandang gelar
tersebut. Sementara di tempat lain gelar ini diperebutkan oleh orang-orang yang relatif
sepi dari prestasi ilmiah.
Standar moral ini memang kembali kepada sikap dan pilihan individual yang harus
dihormati oleh siapapun sepanjang individu bersangkutan menerima konsekwensi
pilihannya. Ada seorang staf senior yang memperoleh gelar doktornya dari Amerika
belakangan ini rajin mengurusi promosi guru besar setelah tahu salah seorang muridnya
kini telah menjadi professor. Inilah contoh konsekwensi dari pilihan. Menjadi guru
besar bukan karena penghayatan tata nilai dan standar reputasi tetapi karena
pertimbangan subyektif dan lokal.
Masyarakat umum sangat silau pada gelar professor meskipun mereka tidak tahu
menahu kualitas serta jenis keprofesoran seseorang. Adalah fakta, bahwa profesor –
misalnya- di jurusan fisika seringkali sejatinya bukanlah guru besar di bidang fisika.
Namun demikian, seorang professor akan diperlakukan sangat istimewa bila berobat di
rumah sakit. Ia juga bisa mendapat honor sampai lima kali lipat dibanding sebelum
menjadi professor bila diundang ceramah. Jadi gelar professor memberi keuntungan
material yang lumayan.
Mungkin yang perlu kita soal adalah kepedulian pejabat terkait atas proses promosi. Di
salah satu fakultas di UGM proses kenaikan pangkat berjalan otomatis tanpa harus
mengurus sendiri. Para staf tinggal menjalankan tugas mengajar dan meneliti. Suatu
ketika mereka diberi tahu bahwa per tanggal sekian mereka telah naik jenjang. Jurusan
mereka telah membuat tim untuk proses kenaikan pangkat. Proses otomatis ini tidak
berarti mengurangi nilai atau tantangan kompetisi di antara para staf untuk berprestasi.
Tugas tim hanya menangani proses adminstratif dari berkas-berkas penelitian maupun
SK dari para staf.
Semestinya kita meniru langkah proses tersebut. Tetapi langkah ini sangat bergantung
pada wawasan para pejabat terkait. Selama ini bila ada orang mengalami keadaan
seperti Terry Mart kita akan cenderung menyalahkan yang bersangkutan dan memvonis
cuek. Kita yang umumnya mengurus dan membayar orang untuk proses kenaikan
pangkat nyaris tidak pernah menyalahkan para pejabat yang tidak kalah cueknya.
Secara filosofis, kenaikan pangkat sebenarnya merupakan penghargaan yang harus
diterima seseorang atas jerih payah serta prestasinya. Kita pun telah memilih ketua
jurusan, dekan, rektor dan para pembantunya. Mereka telah dikurangi jam mengajarnya,
diberi tempat ber-AC dan beberapa fasilitas termasuk gaji tambahan. Tetapi umumnya
mereka cuek atas sistem dan proses kenaikan pangkat di lingkungannya.
Hal yang juga perlu ditekankan adalah bahwa jenjang kepangkatan bukan sekedar
kebutuhan individu bersangkutan melainkan juga kebutuhan institusi. Salah satu jurusan
di PTN besar hendak membuka program S3. Dari nama staf pengajar yang tertera dalam
proposal terdapat dua doktor yang masih berstatus Asisten Ahli dan golongan 3A
dengan masa kerja delapan dan sepuluh tahun di golongan tersebut. Uniknya, di dalam
proposal keduanya ditulis berstatus lektor. Lagi-lagi cerita manipulasi. Padahal, salah
seorang staf jurusan tersebut yang juga tercatat sebagai salah seorang pengajar dalam
proposal adalah pembantu rektor.
Kasus di atas mengisaratkan ini bahwa para petinggi cuek, tak peduli dan mau
gampangnya saja. Mereka bangga dan puas misalnya dalam periode kepemimpinannya
berdiri program baru meskipun prosesnya melanggar aturan. Dus, peran dan tugas para
petinggi lembaga pendidikan harus diluruskan. Mereka pun harus diingatkan agar
berusaha menciptakan mekanisme birokrasi yang rasional dan memudahkan di
lembaganya masing-masing.
Urusan kenaikan pangkat harus dipermudah bahkan perlu dirombak secara lebih drastis
misalnya membuang beberapa persyaratan semisal pengabdian masyarakat. Sulit
dibayangkan bagaimana seorang seperti Jorga Ibrahim, DSc. yang berkutat dalam
kosmologi dan diferensial geometri harus mengabdi di masyarakat dalam arti
konvensional. Tuntutan ini tampak bagus tetapi mengabaikan pohon ilmu dan
perkembangannya. Akibatnya, persyaratan kenaikan pangkat menjadi kompleks, dunia
ilmu kita pun tidak mengalami kemajuan bahkan menampakkan kemunduran terlebih
bila dibanding negara tetangga. Persyaratan ini pun juga banyak menghasilkan guru
besar tanpa prestasi ilmiah yang berarti.
Mekanisme kenaikan pangkat otomatis asal persyaratan formal telah dipenuhi seperti di
salah satu fakultas di UGM perlu dicontoh. Apa salahnya bila Terry Mart di fisika UI,
Danny dan Permana di jurusan astronomi ITB naik pangkat otomatis dalam artian tidak
mengurus sendiri? Seperti ditulis Liek Wilardjo, Danny dan Permana cuek dengan
pangkatnya dan telah puas dengan pengakuan dalam bentuk lain yakni diundang dalam
seminar internasional. Kasus Permana dan peraih ITSF award Dr. Evvy Kartini adalah
kasus khusus yang tidak mestinya digeneralisir. Permana dan Evvy Kartini berasal dari
keluarga berada dan tidak ada masalah dengan gajinya yang tidak seberapa dan tidak
bertambah. Permana sanggup menyediakan dana sendiri untuk satu tahun pertama
studinya di Texas. Demikian pula Evvy Kartini ketika beberapa kali keluar negeri.
Cukup mendesak bagi lembaga pendidikan untuk berinisiatif membuat kebijakan dan
mekanisme kenaikan pangkat otomatis. Dengan demikian dosen yang gajinya sangat
mepet itu tak perlu lagi dibebani oleh banyak hal. Ironi departemen agama yang dikenal
sebagai lembaga paling korup tidak perlu diulangi dengan membuat departemen
pendidikan khususnya pendidikan tinggi sebagai lembaga paling tidak ilmiah.
Kita pun sepakat bahwa seunggul apapun suatu bibit tidak akan dapat tumbuh baik di
lahan yang tandus dan gersang. Melihat prestasi pelajar Indonesia ketika studi di luar
negeri maka tanpa keraguan sedikitpun kita berani mengatakan bahwa SDM kita setara
dan tidak kalah dari SDM negara manapun. Sayangnya, bibit-bibit yang telah diolah
sedemikian rupa di negeri maju itu sekembalinya di tanah air menjadi layu sebelum
berkembang. Mereka pun diperkosa sedemikian rupa sehingga akhirnya menjadi PSK,
Pekerja SKS Komersial yang mengajar di mana-mana dan tidak lagi mempunyai waktu
untuk riset bahkan sekedar belajar hal baru. Tragis memang, tetapi siapa peduli?
*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS
Oleh: Agus Purwanto*)
Kasus pangkat dan golongan Dr. Terry Mart di jurusan fisika UI jelas kalah populer dari
kasus pemilu dan capres RI, meskipun demikian tetap sangat menarik untuk terus
diangkat. Pasalnya, kasus Terry Mart adalah potret buram dunia ilmu di negeri ini.
Sementara tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan suatu negeri juga berbanding dengan
kemajuan dunia ilmu.
Publikasi Terry Mart di jurnal internasional bias dilihat misalnya di http://xxx.lanl.gov
milik Los Alamos National Laoratory. Ada sekitar empat puluh published paper Terry
Mart bersama koleganya di dalam dan luar negeri. Dengan reputasi tersebut, dia adalah
satu dari amat sangat sedikit the real scientists yang kita miliki. Namun masa kerjanya
yang lebih dari sepuluh tahun dan reputasinya memang tidak serta merta membuatnya
dihargai. Sampai saat ini ia masih golongan 3A, golongannya sepuluh tahun lalu.
Seperti disinggung oleh Liek Wilardjo (Kompas, 9/3/2004) ada prosedur promosi yang
salah di fisika UI khususnya dan Indonesia umumnya. Keruwetan birokrasi, standar
yang tidak sama dan yang tidak kalah pentingnya adalah kepedulian dan kesadaran
pejabat atau atasan merupakan sebabnya.
Keruwetan birokrasi telah menjadi rahasia umum dan terjadi di mana-mana. Birokrasi
kita berpijak pada filosofi jahiliyah “bila dapat dipersulit mengapa harus dipermudah”.
Standar formal memang sama tetapi standar moral berbeda dan sangat bergantung pada
latar belakang kumpulan individu di dalamnya. Staf senior fisika UI Dr. Na Peng Bo
merasa malu untuk menjadi dan mendapat gelar guru besar. Sedangkan satu-satunya
kosmolog kita Jorga Ibrahim, DSc sampai pensiun juga tidak menyandang gelar
tersebut. Sementara di tempat lain gelar ini diperebutkan oleh orang-orang yang relatif
sepi dari prestasi ilmiah.
Standar moral ini memang kembali kepada sikap dan pilihan individual yang harus
dihormati oleh siapapun sepanjang individu bersangkutan menerima konsekwensi
pilihannya. Ada seorang staf senior yang memperoleh gelar doktornya dari Amerika
belakangan ini rajin mengurusi promosi guru besar setelah tahu salah seorang muridnya
kini telah menjadi professor. Inilah contoh konsekwensi dari pilihan. Menjadi guru
besar bukan karena penghayatan tata nilai dan standar reputasi tetapi karena
pertimbangan subyektif dan lokal.
Masyarakat umum sangat silau pada gelar professor meskipun mereka tidak tahu
menahu kualitas serta jenis keprofesoran seseorang. Adalah fakta, bahwa profesor –
misalnya- di jurusan fisika seringkali sejatinya bukanlah guru besar di bidang fisika.
Namun demikian, seorang professor akan diperlakukan sangat istimewa bila berobat di
rumah sakit. Ia juga bisa mendapat honor sampai lima kali lipat dibanding sebelum
menjadi professor bila diundang ceramah. Jadi gelar professor memberi keuntungan
material yang lumayan.
Mungkin yang perlu kita soal adalah kepedulian pejabat terkait atas proses promosi. Di
salah satu fakultas di UGM proses kenaikan pangkat berjalan otomatis tanpa harus
mengurus sendiri. Para staf tinggal menjalankan tugas mengajar dan meneliti. Suatu
ketika mereka diberi tahu bahwa per tanggal sekian mereka telah naik jenjang. Jurusan
mereka telah membuat tim untuk proses kenaikan pangkat. Proses otomatis ini tidak
berarti mengurangi nilai atau tantangan kompetisi di antara para staf untuk berprestasi.
Tugas tim hanya menangani proses adminstratif dari berkas-berkas penelitian maupun
SK dari para staf.
Semestinya kita meniru langkah proses tersebut. Tetapi langkah ini sangat bergantung
pada wawasan para pejabat terkait. Selama ini bila ada orang mengalami keadaan
seperti Terry Mart kita akan cenderung menyalahkan yang bersangkutan dan memvonis
cuek. Kita yang umumnya mengurus dan membayar orang untuk proses kenaikan
pangkat nyaris tidak pernah menyalahkan para pejabat yang tidak kalah cueknya.
Secara filosofis, kenaikan pangkat sebenarnya merupakan penghargaan yang harus
diterima seseorang atas jerih payah serta prestasinya. Kita pun telah memilih ketua
jurusan, dekan, rektor dan para pembantunya. Mereka telah dikurangi jam mengajarnya,
diberi tempat ber-AC dan beberapa fasilitas termasuk gaji tambahan. Tetapi umumnya
mereka cuek atas sistem dan proses kenaikan pangkat di lingkungannya.
Hal yang juga perlu ditekankan adalah bahwa jenjang kepangkatan bukan sekedar
kebutuhan individu bersangkutan melainkan juga kebutuhan institusi. Salah satu jurusan
di PTN besar hendak membuka program S3. Dari nama staf pengajar yang tertera dalam
proposal terdapat dua doktor yang masih berstatus Asisten Ahli dan golongan 3A
dengan masa kerja delapan dan sepuluh tahun di golongan tersebut. Uniknya, di dalam
proposal keduanya ditulis berstatus lektor. Lagi-lagi cerita manipulasi. Padahal, salah
seorang staf jurusan tersebut yang juga tercatat sebagai salah seorang pengajar dalam
proposal adalah pembantu rektor.
Kasus di atas mengisaratkan ini bahwa para petinggi cuek, tak peduli dan mau
gampangnya saja. Mereka bangga dan puas misalnya dalam periode kepemimpinannya
berdiri program baru meskipun prosesnya melanggar aturan. Dus, peran dan tugas para
petinggi lembaga pendidikan harus diluruskan. Mereka pun harus diingatkan agar
berusaha menciptakan mekanisme birokrasi yang rasional dan memudahkan di
lembaganya masing-masing.
Urusan kenaikan pangkat harus dipermudah bahkan perlu dirombak secara lebih drastis
misalnya membuang beberapa persyaratan semisal pengabdian masyarakat. Sulit
dibayangkan bagaimana seorang seperti Jorga Ibrahim, DSc. yang berkutat dalam
kosmologi dan diferensial geometri harus mengabdi di masyarakat dalam arti
konvensional. Tuntutan ini tampak bagus tetapi mengabaikan pohon ilmu dan
perkembangannya. Akibatnya, persyaratan kenaikan pangkat menjadi kompleks, dunia
ilmu kita pun tidak mengalami kemajuan bahkan menampakkan kemunduran terlebih
bila dibanding negara tetangga. Persyaratan ini pun juga banyak menghasilkan guru
besar tanpa prestasi ilmiah yang berarti.
Mekanisme kenaikan pangkat otomatis asal persyaratan formal telah dipenuhi seperti di
salah satu fakultas di UGM perlu dicontoh. Apa salahnya bila Terry Mart di fisika UI,
Danny dan Permana di jurusan astronomi ITB naik pangkat otomatis dalam artian tidak
mengurus sendiri? Seperti ditulis Liek Wilardjo, Danny dan Permana cuek dengan
pangkatnya dan telah puas dengan pengakuan dalam bentuk lain yakni diundang dalam
seminar internasional. Kasus Permana dan peraih ITSF award Dr. Evvy Kartini adalah
kasus khusus yang tidak mestinya digeneralisir. Permana dan Evvy Kartini berasal dari
keluarga berada dan tidak ada masalah dengan gajinya yang tidak seberapa dan tidak
bertambah. Permana sanggup menyediakan dana sendiri untuk satu tahun pertama
studinya di Texas. Demikian pula Evvy Kartini ketika beberapa kali keluar negeri.
Cukup mendesak bagi lembaga pendidikan untuk berinisiatif membuat kebijakan dan
mekanisme kenaikan pangkat otomatis. Dengan demikian dosen yang gajinya sangat
mepet itu tak perlu lagi dibebani oleh banyak hal. Ironi departemen agama yang dikenal
sebagai lembaga paling korup tidak perlu diulangi dengan membuat departemen
pendidikan khususnya pendidikan tinggi sebagai lembaga paling tidak ilmiah.
Kita pun sepakat bahwa seunggul apapun suatu bibit tidak akan dapat tumbuh baik di
lahan yang tandus dan gersang. Melihat prestasi pelajar Indonesia ketika studi di luar
negeri maka tanpa keraguan sedikitpun kita berani mengatakan bahwa SDM kita setara
dan tidak kalah dari SDM negara manapun. Sayangnya, bibit-bibit yang telah diolah
sedemikian rupa di negeri maju itu sekembalinya di tanah air menjadi layu sebelum
berkembang. Mereka pun diperkosa sedemikian rupa sehingga akhirnya menjadi PSK,
Pekerja SKS Komersial yang mengajar di mana-mana dan tidak lagi mempunyai waktu
untuk riset bahkan sekedar belajar hal baru. Tragis memang, tetapi siapa peduli?
*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS
Mu’tazilah di Negeri Sampah
REPUBLIKA, 14 Pebruari 2004
Oleh: Agus Purwanto*)
Di pergantian tahun 2003-2004 lalu ada fenomena menarik yang mungkin lepas dari
perhatian banyak orang. Fenomena tersebut adalah maraknya tayangan ramal meramal di
beberapa stasiun televisi. Tayangan ini dan tayangan rutin semacam Dunia lain membuat
sebagian insan dari dunia pendidikan tercenung masygul dan sampai pada kesimpulan
Indonesia benar-benar tempat sampah!
Mengurai Sampah
Sedikitnya ada dua hal yang menuntun pada kesimpulan seperti itu. Pertama, pemahaman
dan praktik kebebasan, demokrasi dan HAM kita. Di Barat memang sangat bebas
termasuk berbeda pendapat serta perdebatan. Tetapi kebebasan yang kita ambil justru
kebebasan sampah seperti penampilan dan pose semi telanjang serta pergaulan bebas asal
suka sama suka. Fenomena paling aktual yaitu kriteria poligami bagi politisi busuk juga
merepresentasikan kebebasan sampah.
Di dalam berdemokrasi, dulu Jenderal AH Nasution (alm) pernah diminta menjadi
presiden menggantikan Soekarno tetapi beliau menolaknya. Alasannya sederhana, beliau
merasa bukan orang Jawa. Kini jangankan orang luar Jawa, orang nonmuslim pun maju
sebagai capres di negeri yang mayoritas muslim ini. Fenomena yang belum pernah terjadi
di negeri kampiun demokrasi Amerika sekalipun.
Konon, menghalangi kebebasan bergaul dan melarang warga negara apapun suku dan
agamanya menjadi capres berarti melanggar HAM. Kita pun mengambil HAM sampah,
dan kehilangan kearifan individu maupun kolektif.
Kedua, tayangan ramal meramal di televisi. Beberapa peramal yang ditampilkan adalah
warga Cina yang konon ahli feng shui. Menurut penulis menampilkan ramal meramal ala
Cina dan lainnya di saat masyarakat perlu dibangkitkan etos kerja dan kesadaran
ilmiahnya berarti menampilkan sisi sampah dari suatu tradisi. Banyak kebiasaan
masyarakat Cina yang lebih layak untuk ditayangkan dan disosialisasikan.
L.A. Marschall di dalam “The Supernova Story” menulis cukup lengkap hasil dari tradisi
begadang dan mengamati langit di Cina. Sejarah Cina mencatat setengah lusin pertama
bintang baru yang kini dikenal sebagai supernova, berturut-turut tahun 185, 386, 393,
1006, 1054, dan 1181. Pengamatan yang mendahului sejawatnya di Arab maupun Eropa.
Kini supernova diketahui mempunyai peran dalam menyibak rahasia alam semesta dan
menjadi obyek perburuan para ahli astrofisika.
Tradisi ilmiah hidup terus di Cina; Tsung Dao Lee, Chen Ning Yang dan Chien Shiung
Wu adalah contoh produknya. Dua nama pertama adalah pemenang hadiah nobel fisika
tahun 1957. Lee dan Yang masing-masing kelahiran Shanghai dan Hofei masih berusia
31 dan 35 tahun ketika menerima hadiah tersebut. Sedangkan nama ketiga merupakan
wanita penemu penyimpangan paritas dalam peluruhan beta.
Salah satu akselerator partikel besar dunia ada di Cina. BEPC (Beijing Electron Positron
Collider) adalah kolider versi SLAC (Stanford Linear Accelerator Center) SPEAR yang
diupgrade. Akselerator ini menghasilkan sejumlah besar quark charm, lepton tau, dan
telah membuat pengukuran masa lepton tau.
Reputasi paling aktual dan sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Cina adalah
penerbangan ruang angkasa 15 Nopember 2003 lalu. Prestasi ini telah direkam dalam
video CD dengan judul Flying Dream Fulfilled dan sudah beredar di pasaran. CD ini
meneritakan 20 tahun perjalanan Cina mengejar impian dan ambisi mengarungi ruang
angkasa. Sen Zhou 5 dan awaknya Yang Li Wei meneguhkan Cina sebagai negara ketiga
yang sukses melakukan penerbangan ruang angkasa setelah Rusia dan Amerika.
Banyak tradisi dan semangat masyarakat Cina yang jauh lebih berguna ditampilkan di
negeri kita. Khususnya impian, ambisi serta usaha Cina untuk sejajar dengan negara-
negara maju lainnya. Jauh-jauh hari pun kita dipesan utlubil ilma walau bissin, tuntutlah
ilmu walau sampai di negeri bambu ini.
Perspektif Teologis
Belajar dari pengalaman negeri yang kini lebih maju dari kita seperti Cina, Jepang, Korea,
Malaysia, bahkan Vietnam, kata kuncinya adalah ilmu pengetahuan atau sains. Bangunan
sains kealaman khususnya didirikan di atas pondasi keteraturan jagad raya dan
penerimaan hukum kausalitas.
Namun, penerimaan prinsip kausalitas terkait erat dengan pandangan teologis. Teologi
merupakan bagian utama dari pandangan dunia (world view) yang melukiskan kaitan
antara Sang Pencipta dan yang dicipta. Itu sebabnya masalah pengembangan sains bukan
sekedar persoalan kapital melainkan juga persoalan teologis. Persisnya, efek dari
pandangan teologi.
Teologi atau ilmu kalam yang diajarkan di dunia islam termasuk Indonesia adalah aliran
Asy'ariyah atau sering disebut sebagai ahl sunnah wal jamaah. Padahal pandangan
Asy’ariyah cenderung berseberangan dengan landasan sains yang disebutkan di atas.
Aliran kalam lain yaitu Mu’tazilah cenderung berpandangan rasional liberal. Aliran ini
berpandangan bahwa alam bahkan Tuhan sendiri terikat oleh hukum alam yang tidak
berubah. Mu’tazilah berpandangan setiap benda mempunyai nature-nya sendiri,
menimbulkan efek tertentu dan tidak dapat menghasilkan efek lain. Api tidak
menghasilkan sesuatu kecuali panas, dan es tidak menghasilkan sesuatu kecuali dingin.
Dan, efek yang ditimbulkan oleh setiap benda bukan perbuatan Tuhan. Keseragaman
peristiwa alamiah itulah yang dikenal sebagai hukum kausalitas.
Abu al-Hasan al-Asy’ari yang mulanya pengikut Mu’tazilah tidak setuju ide nature dan
efeknya yang khas. Api tidak mempunyai sifat panas dan daya bakar, buktinya nabi
Ibrahim tidak hangus saat dibakar. Asy’ariyah juga menolak kausalitas; dan menurutnya
keseragaman peristiwa alamiah hanya penampakan dan tidak nyata dalam arti tidak
memiliki eksistensi obyektif. Sebab akibat tidak lebih dari sekedar kontruksi mental atau
kebiasaan dalam pikiran.
Asy’ariyah juga menolak pandangan Mu’tazilah tentang kehendak bebas dan daya
manusia. Ide ini difahami Asy’ariyah sebagai adanya pencipta (daya) selain Tuhan yang
pada gilirannya juga bermakna manusia tidak lagi berhajat kepada Tuhan. Dengan
demikian Mu’tazilah jatuh dalam kekafiran.
Mengenai perbuatan manusia, agar tidak seperti Mu’tazilah tetapi juga tidak jatuh pada
pandangan jabbariyah Asy’ariyah memperkenalkan ide al-kasb (perolehan). Al-kasb
merupakan perbuatan yang terletak di dalam lingkungan daya yang diciptakan, dan
diwujudkan dengan perantara daya yang diciptakan. Dengan demikian daya manusia
turut serta dalam perwujudan manusia, karenanya manusia tidak sepenuhnya pasif.
Konsep ini cukup sulit difahami orang kebanyakan dan simplifikasinya tetap membawa
pada ide fatalistik.
Asy’ariyah memang berangkat dari aksioma superioritas Tuhan. Kausalitas hanya akan
menurunkan peran dan derajat kesakralan Tuhan. Sikap ekstrim ini, menurut perenialis
Frithjof Schuon membawa pada paradoks dan absurditas. Menjadi hampa makna dan
absurd ketika Tuhan menjanjikan surga tetapi Dia dengan sewenang-wenang boleh
melanggarnya sebagaimana ide Asy’ariyah.
Schuon juga memperlihatkan argumen penolakan Asy’ariyah pada nature segala sesuatu
misalnya api yang panas dan membakar tertolak. Seandainya api tidak mempunyai nature
demikian maka Tuhan tidak akan memerintah api menjadi dingin (QS 21:69).
Pengalaman Fisika
Pandangan Mu’tazilah selaras dengan sains secara umum. Sungguhpun demikian,
penerimaan kausalitas dan Mu’tazilah tidak berarti harus membuang Asy’ariyah seperti
saat ini yaitu menerima Asy’ariyah tetapi mengkafirkan serta menolak Mu’tazilah.
Atomisme Asy’ariyah yang sepenuhnya berangkat dari teks kitab suci, orisinil dan unik.
Al-Baqillani menyatakan bahwa alam terdiri dari atom-atom yang tidak mempunyai
ukuran, homogen dan berjumlah berhingga. Meskipun tak berdimensi atom-atom terpadu
membentuk benda yang berdimensi. Atom-atom juga tercipta dan musnah seketika
karenanya tidak ada konsep jarak. Tuhan terus menerus mencipta (QS 30:11) atom-atom
dengan sifat yang sama selama Dia menginginkan benda yang sama. Ternyata gagasan
ini dekat dengan atomisme kuantum.
Mu’tazilah dan Asy’ariyah berseberangan tetapi keduanya juga menawarkan kebenaran.
Fisika dapat mendamaikan antara kausalitas yang mengikat Tuhan ala Mu’tazilah dan
penciptaan serta pemusnahan oleh kesewenang-wenangan Tuhan versi Asy’ariyah. Dunia
makroskopik memenuhi hukum kausalitas deterministik Newtonian sedangkan di dunia
mikro berlaku hukum probabilistik. Mekanika klasik tidak mampu mendiskripsikan
perilaku mikro sedangkan mekanika kuantum tidak efektif menjelaskan penampakan
makro. Keduanya dikaitkan oleh prinsip korespondensi Bohr, wilayah makro merupakan
limit ekstrim gambaran mikro.
Keduanya mampunyai domain berbeda, saling melengkapi dan dalam bahasa teologi
sama-sama memerlukan kehadiran aktor tunggal yaitu Tuhan. KemunculanNya saja yang
berbeda, pada wilayah makro muncul dalam bentuk sunnatullah yang tetap, sedangkan di
wilayah mikro dalam ketentuan yang tak dapat dipastikan kecuali kemungkinanNya.
Selanjutnya untuk mengejar ketertinggalan dalam banyak aspek kita perlu membuat
breakthrough ala Bacon yang sangat anti metafisika dan logika Aristotelian yang hanya
bertumpu pada silogisme dan menggantinya dengan metoda ilmiah yang bertumpu pada
eksperimen. Caranya, kita luruskan pemahaman teologi seperti uraian di depan dan
berhenti ramal-meramal ala paranormal dan sejenisnya yang sulit dikonfirmasi oleh akal
sehat.
Dalam keadaan seperti saat ini, pemilu depan kita tidak perlu memilih presiden tetapi
pengelola sampah. Kita butuh sosok yang memahami betul jenis, manajemen dan proses
daur ulang serta mau berkotor-kotor menangani sampah, baik demokrasi, kebebasan
maupun tradisi sampah. Tentu, agar negeri ini tidak menjadi keranjang sampah.
*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS dan mantan Vice-President
of Saijo-Hiroshima Moslem Association.
Oleh: Agus Purwanto*)
Di pergantian tahun 2003-2004 lalu ada fenomena menarik yang mungkin lepas dari
perhatian banyak orang. Fenomena tersebut adalah maraknya tayangan ramal meramal di
beberapa stasiun televisi. Tayangan ini dan tayangan rutin semacam Dunia lain membuat
sebagian insan dari dunia pendidikan tercenung masygul dan sampai pada kesimpulan
Indonesia benar-benar tempat sampah!
Mengurai Sampah
Sedikitnya ada dua hal yang menuntun pada kesimpulan seperti itu. Pertama, pemahaman
dan praktik kebebasan, demokrasi dan HAM kita. Di Barat memang sangat bebas
termasuk berbeda pendapat serta perdebatan. Tetapi kebebasan yang kita ambil justru
kebebasan sampah seperti penampilan dan pose semi telanjang serta pergaulan bebas asal
suka sama suka. Fenomena paling aktual yaitu kriteria poligami bagi politisi busuk juga
merepresentasikan kebebasan sampah.
Di dalam berdemokrasi, dulu Jenderal AH Nasution (alm) pernah diminta menjadi
presiden menggantikan Soekarno tetapi beliau menolaknya. Alasannya sederhana, beliau
merasa bukan orang Jawa. Kini jangankan orang luar Jawa, orang nonmuslim pun maju
sebagai capres di negeri yang mayoritas muslim ini. Fenomena yang belum pernah terjadi
di negeri kampiun demokrasi Amerika sekalipun.
Konon, menghalangi kebebasan bergaul dan melarang warga negara apapun suku dan
agamanya menjadi capres berarti melanggar HAM. Kita pun mengambil HAM sampah,
dan kehilangan kearifan individu maupun kolektif.
Kedua, tayangan ramal meramal di televisi. Beberapa peramal yang ditampilkan adalah
warga Cina yang konon ahli feng shui. Menurut penulis menampilkan ramal meramal ala
Cina dan lainnya di saat masyarakat perlu dibangkitkan etos kerja dan kesadaran
ilmiahnya berarti menampilkan sisi sampah dari suatu tradisi. Banyak kebiasaan
masyarakat Cina yang lebih layak untuk ditayangkan dan disosialisasikan.
L.A. Marschall di dalam “The Supernova Story” menulis cukup lengkap hasil dari tradisi
begadang dan mengamati langit di Cina. Sejarah Cina mencatat setengah lusin pertama
bintang baru yang kini dikenal sebagai supernova, berturut-turut tahun 185, 386, 393,
1006, 1054, dan 1181. Pengamatan yang mendahului sejawatnya di Arab maupun Eropa.
Kini supernova diketahui mempunyai peran dalam menyibak rahasia alam semesta dan
menjadi obyek perburuan para ahli astrofisika.
Tradisi ilmiah hidup terus di Cina; Tsung Dao Lee, Chen Ning Yang dan Chien Shiung
Wu adalah contoh produknya. Dua nama pertama adalah pemenang hadiah nobel fisika
tahun 1957. Lee dan Yang masing-masing kelahiran Shanghai dan Hofei masih berusia
31 dan 35 tahun ketika menerima hadiah tersebut. Sedangkan nama ketiga merupakan
wanita penemu penyimpangan paritas dalam peluruhan beta.
Salah satu akselerator partikel besar dunia ada di Cina. BEPC (Beijing Electron Positron
Collider) adalah kolider versi SLAC (Stanford Linear Accelerator Center) SPEAR yang
diupgrade. Akselerator ini menghasilkan sejumlah besar quark charm, lepton tau, dan
telah membuat pengukuran masa lepton tau.
Reputasi paling aktual dan sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Cina adalah
penerbangan ruang angkasa 15 Nopember 2003 lalu. Prestasi ini telah direkam dalam
video CD dengan judul Flying Dream Fulfilled dan sudah beredar di pasaran. CD ini
meneritakan 20 tahun perjalanan Cina mengejar impian dan ambisi mengarungi ruang
angkasa. Sen Zhou 5 dan awaknya Yang Li Wei meneguhkan Cina sebagai negara ketiga
yang sukses melakukan penerbangan ruang angkasa setelah Rusia dan Amerika.
Banyak tradisi dan semangat masyarakat Cina yang jauh lebih berguna ditampilkan di
negeri kita. Khususnya impian, ambisi serta usaha Cina untuk sejajar dengan negara-
negara maju lainnya. Jauh-jauh hari pun kita dipesan utlubil ilma walau bissin, tuntutlah
ilmu walau sampai di negeri bambu ini.
Perspektif Teologis
Belajar dari pengalaman negeri yang kini lebih maju dari kita seperti Cina, Jepang, Korea,
Malaysia, bahkan Vietnam, kata kuncinya adalah ilmu pengetahuan atau sains. Bangunan
sains kealaman khususnya didirikan di atas pondasi keteraturan jagad raya dan
penerimaan hukum kausalitas.
Namun, penerimaan prinsip kausalitas terkait erat dengan pandangan teologis. Teologi
merupakan bagian utama dari pandangan dunia (world view) yang melukiskan kaitan
antara Sang Pencipta dan yang dicipta. Itu sebabnya masalah pengembangan sains bukan
sekedar persoalan kapital melainkan juga persoalan teologis. Persisnya, efek dari
pandangan teologi.
Teologi atau ilmu kalam yang diajarkan di dunia islam termasuk Indonesia adalah aliran
Asy'ariyah atau sering disebut sebagai ahl sunnah wal jamaah. Padahal pandangan
Asy’ariyah cenderung berseberangan dengan landasan sains yang disebutkan di atas.
Aliran kalam lain yaitu Mu’tazilah cenderung berpandangan rasional liberal. Aliran ini
berpandangan bahwa alam bahkan Tuhan sendiri terikat oleh hukum alam yang tidak
berubah. Mu’tazilah berpandangan setiap benda mempunyai nature-nya sendiri,
menimbulkan efek tertentu dan tidak dapat menghasilkan efek lain. Api tidak
menghasilkan sesuatu kecuali panas, dan es tidak menghasilkan sesuatu kecuali dingin.
Dan, efek yang ditimbulkan oleh setiap benda bukan perbuatan Tuhan. Keseragaman
peristiwa alamiah itulah yang dikenal sebagai hukum kausalitas.
Abu al-Hasan al-Asy’ari yang mulanya pengikut Mu’tazilah tidak setuju ide nature dan
efeknya yang khas. Api tidak mempunyai sifat panas dan daya bakar, buktinya nabi
Ibrahim tidak hangus saat dibakar. Asy’ariyah juga menolak kausalitas; dan menurutnya
keseragaman peristiwa alamiah hanya penampakan dan tidak nyata dalam arti tidak
memiliki eksistensi obyektif. Sebab akibat tidak lebih dari sekedar kontruksi mental atau
kebiasaan dalam pikiran.
Asy’ariyah juga menolak pandangan Mu’tazilah tentang kehendak bebas dan daya
manusia. Ide ini difahami Asy’ariyah sebagai adanya pencipta (daya) selain Tuhan yang
pada gilirannya juga bermakna manusia tidak lagi berhajat kepada Tuhan. Dengan
demikian Mu’tazilah jatuh dalam kekafiran.
Mengenai perbuatan manusia, agar tidak seperti Mu’tazilah tetapi juga tidak jatuh pada
pandangan jabbariyah Asy’ariyah memperkenalkan ide al-kasb (perolehan). Al-kasb
merupakan perbuatan yang terletak di dalam lingkungan daya yang diciptakan, dan
diwujudkan dengan perantara daya yang diciptakan. Dengan demikian daya manusia
turut serta dalam perwujudan manusia, karenanya manusia tidak sepenuhnya pasif.
Konsep ini cukup sulit difahami orang kebanyakan dan simplifikasinya tetap membawa
pada ide fatalistik.
Asy’ariyah memang berangkat dari aksioma superioritas Tuhan. Kausalitas hanya akan
menurunkan peran dan derajat kesakralan Tuhan. Sikap ekstrim ini, menurut perenialis
Frithjof Schuon membawa pada paradoks dan absurditas. Menjadi hampa makna dan
absurd ketika Tuhan menjanjikan surga tetapi Dia dengan sewenang-wenang boleh
melanggarnya sebagaimana ide Asy’ariyah.
Schuon juga memperlihatkan argumen penolakan Asy’ariyah pada nature segala sesuatu
misalnya api yang panas dan membakar tertolak. Seandainya api tidak mempunyai nature
demikian maka Tuhan tidak akan memerintah api menjadi dingin (QS 21:69).
Pengalaman Fisika
Pandangan Mu’tazilah selaras dengan sains secara umum. Sungguhpun demikian,
penerimaan kausalitas dan Mu’tazilah tidak berarti harus membuang Asy’ariyah seperti
saat ini yaitu menerima Asy’ariyah tetapi mengkafirkan serta menolak Mu’tazilah.
Atomisme Asy’ariyah yang sepenuhnya berangkat dari teks kitab suci, orisinil dan unik.
Al-Baqillani menyatakan bahwa alam terdiri dari atom-atom yang tidak mempunyai
ukuran, homogen dan berjumlah berhingga. Meskipun tak berdimensi atom-atom terpadu
membentuk benda yang berdimensi. Atom-atom juga tercipta dan musnah seketika
karenanya tidak ada konsep jarak. Tuhan terus menerus mencipta (QS 30:11) atom-atom
dengan sifat yang sama selama Dia menginginkan benda yang sama. Ternyata gagasan
ini dekat dengan atomisme kuantum.
Mu’tazilah dan Asy’ariyah berseberangan tetapi keduanya juga menawarkan kebenaran.
Fisika dapat mendamaikan antara kausalitas yang mengikat Tuhan ala Mu’tazilah dan
penciptaan serta pemusnahan oleh kesewenang-wenangan Tuhan versi Asy’ariyah. Dunia
makroskopik memenuhi hukum kausalitas deterministik Newtonian sedangkan di dunia
mikro berlaku hukum probabilistik. Mekanika klasik tidak mampu mendiskripsikan
perilaku mikro sedangkan mekanika kuantum tidak efektif menjelaskan penampakan
makro. Keduanya dikaitkan oleh prinsip korespondensi Bohr, wilayah makro merupakan
limit ekstrim gambaran mikro.
Keduanya mampunyai domain berbeda, saling melengkapi dan dalam bahasa teologi
sama-sama memerlukan kehadiran aktor tunggal yaitu Tuhan. KemunculanNya saja yang
berbeda, pada wilayah makro muncul dalam bentuk sunnatullah yang tetap, sedangkan di
wilayah mikro dalam ketentuan yang tak dapat dipastikan kecuali kemungkinanNya.
Selanjutnya untuk mengejar ketertinggalan dalam banyak aspek kita perlu membuat
breakthrough ala Bacon yang sangat anti metafisika dan logika Aristotelian yang hanya
bertumpu pada silogisme dan menggantinya dengan metoda ilmiah yang bertumpu pada
eksperimen. Caranya, kita luruskan pemahaman teologi seperti uraian di depan dan
berhenti ramal-meramal ala paranormal dan sejenisnya yang sulit dikonfirmasi oleh akal
sehat.
Dalam keadaan seperti saat ini, pemilu depan kita tidak perlu memilih presiden tetapi
pengelola sampah. Kita butuh sosok yang memahami betul jenis, manajemen dan proses
daur ulang serta mau berkotor-kotor menangani sampah, baik demokrasi, kebebasan
maupun tradisi sampah. Tentu, agar negeri ini tidak menjadi keranjang sampah.
*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS dan mantan Vice-President
of Saijo-Hiroshima Moslem Association.
Selasa, 20 Mei 2008
Al-Qur'an: Sumber Inspirasi Ilmu Pengetahuan
REPUBLIKA, 12 Nopember 2003
Oleh: Agus Purwanto*)
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia, penjelasann mengenai petunjuk itu dan pembeda …”(QS 2:185).
Al-Qur’an bersama sunnah rasul saw merupakan dua pegangan utama ummat Islam
dalam mengarungi hidup di masa dan pasca kehidupan rasul saw. Mengingat fungsinya
yang demikian maka banyak karya tulis dibuat dalam rangka mempertahankan spirit dan
inti pesan agar tidak keluar konteks tetapi tetap sesuai dengan situasi ruang-waktu.
Berdasarkan kenyataan itu pula, kita perlu menguji pemahaman kita selama ini atas
pesan-pesan keduanya. Kini, kita hidup di era cyber, era TI, di era teknologi skala nano
(sepermilyar meter). Bahkan mungkin juga era angkasa luar setelah negeri dengan
penduduk terpadat di dunia yang konon tidak terlalu kaya berhasil meneguhkan dirinya
menjadi negara ketiga yang berhasil meluncurkan manusia ke ruang angkasa. Negeri itu
adalah Cina yang kita kenal dengan pesan “utlubil ilma walau bissin”. Cina mampu
meluncurkan pesawat ruang angkasa Shenzhou 5 berawak satu yakni Yang Liwei yang
berusia 38 tahun. Singkatnya, era ilmu pengetahuan yang bertumpu pada keruntutan
berfikir yang secara teologis lebih condong pada teologi Mu’tazilah yang selama ini
justru kita jauhi.
Bagaimana pesan al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan? Apa makna petunjuk dan
pembeda dalam konteks bangunan ilmu pengetahuan? Syekh Jauhari Thonthowi guru
besar universitas Kairo penulis kitab tafsir al-Jawahir membuka tafsirnya dengan
mengungkap fakta sekaligus menggugat ulama islam. Di dalam al-Qur’an hanya terdapat
sekitar 150 ayat hukum sementara ayat kauniyah lima kali lipatnya, yakni sekitar 750
ayat. Ulama islam telah mengerahkan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk menulis
ribuan kitab fikih tetapi nyaris tidak satu pun buku tentang alam ditulis.
Jelas, selama ini kita terlalu berorientasi pada fiqih meskipun dalam praktek
kesehariannya amalan fiqih kita sangat amburadul. Kita perlu menyeimbangkan orientasi
dalam memahami dan menangkap pesan kitab suci dan sunnah rasul saw. Syair-syair
semisal al-fiqhu anfusu syaiin, fiqih adalah segalaanya atau fiqih adalah ilmu yang paling
berharga; idza maa’ tazza dzu ilmin bi ilmin fa ilmul fiqhi aula bi’ tizaazin, bila orang
berilmu mulia lantaran ilmunya maka ilmu fiqih membuatnya lebih mulia, perlu
didekontruksi maknanya. Kita kini berada di dalam kurun interdepedensi, saling
kebergantungan satu dengan yang lain tanpa harus merasa yang satu lebih dari yang lain,
tak terkecuali ilmu fiqih.
Kembali ke pertanyaan bagaimana pesan al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan. Jawabnya
sangat jelas, Allah akan meninggikan derajat orang beriman di antara kalian dan berilmu
(QS 58:11). Ringkasnya, kata kunci bagi kebangkitan islam yang didengung-dengungkan
sejak memasuki abad 15 hijriyah adalah iman dan ilmu. Tentu, yang dimaksud ilmu di
sini termasuk juga ilmu material seperti matematika, fisika, kimia, biologi, komputer dan
berbagai terapannya. Tanpa ilmu material ini kekuatan kita tidaklah maksimal dan tidak
akan mampu menembus bumi seperti yang dilakukan Jepang dalam membangun
laboratorium SuperKamiokande, pendeteksi neutrino, di kedalaman satu kilometer di
bawah permukaan bumi. Kita juga tak bakal mampu menembus langit seperti yang
dilakukan oleh para astronot Rusia, Amerika dan Cina meskipun kita telah hafal di luar
kepala teks al-Qur’an surat ar-Rahman ayat 33. Kekuatan kita tidak maksimal sebab sulit
disangkal bahwa knowledge is power.
Kunci berikutnya sebagai pedoman praktisnya adalah tradisi membaca dan berfikir kritis
sebagaimana surat yang pertama turun yaitu iqra’ bismirabbika alladi khalaq, khalaqal
insana min ‘alaq. Kita harus membangun tradisi membaca ayat-ayat tertulis maupun
ayat-ayat yang terhampar di jagad raya. Karena bangunan ilmu khususnya ilmu modern
sudah didirikan sejak enam abad lalu, kita tak perlu lagi membangun ilmu dari nol
dengan mengamati perilaku alam satu demi satu. Adalah cukup dengan menyimak secara
seksama apa yang telah dilakukan oleh Copernicus, Kepler, Newton, Laplace, Gauss,
Maxwell, Planck, Schrodinger, Feynman, Einstein, Hawking dan banyak lagi lainnya via
artikel atau uraiannya dalam berbagai buku teks. Buku-buku yang memuat ilmu-ilmu
yang telah dikembangkan para ilmuwan tersebut telah memenuhi perpustakaann besar di
seluruh dunia. Ilmunya telah menjadi milik semua orang tanpa kecuali. Persoalannya, kita
ingin memiliki dan menguasainya atau tidak. Atau sebaliknya, kita justru ingin
dikuasainya?
Setelah menguasai dan mengenali pondasi bangunan ilmu tersebut, kita mungkin melihat
adanya bagian-bagian yang perlu ditata ulang dan menjadikan al-Qur’an sebagai sumber
inspirasinya. Sebagai contoh, dalam tataran epistemologi, ilmu modern telah menolak
memasukkan wahyu sebagai sumber ilmu. Di sinilah kita dapat menyodorkan wahyu
sebagai salah satu sumber perolehan ilmu.
Ada contoh yang sangat menarik di dalam kitab suci berkaitan dengan ide wahyu sebagai
sumber irformasi ilmu di atas. Ada dua hewan kecil yang diabadikan menjadi nama surat
sekaligus kandungan ayatnya di dalam al-Qur’an. Hewan tersebut adalah lebah dan semut
Lebah atau an-Nahl menjadi nama surat ke-16 sedangkan semut (an-Naml) surat ke-27.
Keduanya dapat dijadikan starting point dalam riset biologi khususnya zoologi.
Keistimewaan lebah cukup jelas diuraikan di dalam surat an-Nahl ayat 68-69. Pertama,
Allah memberi wahyu kepada lebah agar membangun rumah-rumah mereka di gunung-
gunung dan pepohonan dan makan buah-buahan. Kedua, Allah menginformasikan bahwa
dari perut lebah keluar cairan yang dapat diminum dan berfungsi sebagai obat. Dari ayat-
ayat ini rahasia kelebihan dan keutamaan lebah relatif jelas dan mudah difahami.
Tetapi Allah menggunakan pendekatan lain ketika memaparkan keistimewaan semut.
Allah tidak menggunakan pendekatan apa adanya seperti kasus lebah melainkan
menggunakan pendekatan keindahan atau kekuatan bahasa Arab. Di dalam kasus lebah,
an-nahl menjadi nama surat sekaligus kata yang digunakan di ayat 68. Pengualangan kata
ini juga terjadi tetapi dalam pola yang berbeda dalam kasus semut. An-naml menjadi
nama surat dan bagian dari frasa di dalam ayat 18 yakni waadin namli, lembah semut.
Tetapi lanjutan ayat ini menggunakan istilah yang berbeda untuk semut yakni an-namlatu
bukan an-namlu. Kata an-namlatu berasal dari an-namlu dan mendapat tambahan huruf
ta’ marbutoh (ta’ bulat). Lanjutan ayat ini kembali menggunakan an-namlu sehingga bila
kita bariskan dari nama surat kemudian tiga kata semut di ayat 18 ini adalah an-namlu,
an-namlu, an-namlatu, an-namlu. Sedangkan untuk lebah, an-nahlu dan an-nahlu bukan
an-nahlu dan an-nahlatu. Apa artinya ini?
Ayat lain menyatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan (QS
44:38-39) dan ukuran tertentu (QS 25:2). Dengan demikian pemilihan kata an-namlu, an-
namlu, an-namlatu, an-namlu juga mempunyai tujuan. Tetapi tujuan apa? Kaidah bahasa
Arab mengatakan bahwa ta’ marbutoh adalah tanda isim muannats, kata benda feminin
atau kata benda berjenis perempuan. Penerapan kaidah ini menghasilkan terjemahan
“…telah berkata seekor semut betina …” yang belum pernah penulis temukan dalam al-
Qur’an terjemahan bahasa Indonesia. Semua hanya menerjemahkan dengan “…telah
berkata seekor semut …” tanpa tambahan kata betina.
Penerjemahan semut betina bagi an-namlatu memberi implikasi lebih lanjut yaitu bila
kita perhatikan kalimat lanjutannya yang berupa kalimat perintah (fi’il amr). Singkatnya
sang semut betina dalam keadaan sedang memberi instruksi kepada semut (jantan) yang
berjumlah banyak. Bila kasus ini kita personifikasi sejenak maka dapat dengan mudah
disimpulkan bahwa sang semut betina yang memberi instruksi tidak lain adalah pimpinan
komunitas semut. Artinya, menurut kaidah bahasa dan personifikasi, pimpinan semut
adalah ratu, ratu semut. Karena kesimpulan ini berasal dari interpretasi bukan informasi
langsung yakni kata al-malikatu (ratu) dalam ayat maka sementara kita ambil sebagai
hipotesis yang harus dibuktikan oleh penelitian lapangan.
Riset yang dilakukan oleh para biolog (Barat) memang membuktikan bahwa pimpinan
semut adalah ratu semut. Artinya, interpretasi linguistik dan personifikasi di atas absah
dan terbukti benar. Tetapi yang menjadi perhatian utama dalam pembahasan di sini
adalah bagaimana ayat kitab suci diolah dan dijadikan hipotesis suatu riset ilmiah yang
pada akhirnya melahirkan sebuah teori yang indah dan komprehensif.
Pertanyaan kritis lebih lanjut, semisal mengapa dipilih semut bukan nyamuk, kecoak,
cacing, orong-orong atau hewan kecil lainnya dapat diajukan. Jawabnya juga sudah
dikuak oleh para ilmuwan. Majalah Reader Diggest yang terbit di akhir dasawarsa 70-an
pernah menguraikan panjang lebar keistimewaan semut dibanding hewann lainnya.
Pertama, komunitas semut mempunyai sistem atau struktur kemasyarakatan lengkap
dengan pembagian tugasnya. Kedua, masyarakat semut mengenal sistem peperangan
kolektif. Artinya kelompok semut tertentu yang dipimpin seekor ratu semut dapat
berperang dengan komunitas semut yang dipimpin oleh ratu lainnya. Hewan lain
umumnya bertarung individu-individu. Ketiga, semut mengenal sistem perbudakan. Telur
sebagai harta benda utama dari pihak semut yang kalah perang akan dikuasai dan
diangkut oleh pihak semut pemenang. Telur-telur ini akan dijaga sampai menetas dan
bayi semut ini akan dijadikan budak-budak mereka yang menang. Keempat, semut
mengenal sistem peternakan. Pada daun pohon jambu, mangga, rambutan atau lainnya
kadang terdapat jamur putih lembut. Di sana ada hewan kecil berwarna putih yang
menghasilkan cairan manis. Semut tahu hewan ini malas berpindah karena itu semut
membantu memindahkannya ke tempat baru bila lahan di sekitar itu telah mulai tandus
dan setelah semut memerah cairannya setiap perioda waktu tertentu. Sampai saat ini
belum diketahui hewan lain yang mengenal sistem perbudakan dan peternakan. Kelima,
semut mengenal sistem navigasi yang baik.
Itulah salah satu contoh bagaimana ayat al-Qur’an dapat dijadikan sumber ilmu
pengetahuan dalam contoh ini biologi. Banyak ayat lainnya yang dapat dijadikan sumber
informasi ilmu seperti fisika, kimia dan lainnya selain fiqih yang telah ditulis dalam
ribuan buku. Persoalannya kini adalah perubahan orientasi seperti yang disinggung di
depan, dari yang sekedar fiqih ke oriantasi ayat kauniyah yang melahirkan sains eksakta
yang terbukti mampu menguasai dan mengendalikan peradaban dunia.
*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam)-ITS, mantan Vice-President of
Saijo-Hiroshima Moslem Association.
Oleh: Agus Purwanto*)
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia, penjelasann mengenai petunjuk itu dan pembeda …”(QS 2:185).
Al-Qur’an bersama sunnah rasul saw merupakan dua pegangan utama ummat Islam
dalam mengarungi hidup di masa dan pasca kehidupan rasul saw. Mengingat fungsinya
yang demikian maka banyak karya tulis dibuat dalam rangka mempertahankan spirit dan
inti pesan agar tidak keluar konteks tetapi tetap sesuai dengan situasi ruang-waktu.
Berdasarkan kenyataan itu pula, kita perlu menguji pemahaman kita selama ini atas
pesan-pesan keduanya. Kini, kita hidup di era cyber, era TI, di era teknologi skala nano
(sepermilyar meter). Bahkan mungkin juga era angkasa luar setelah negeri dengan
penduduk terpadat di dunia yang konon tidak terlalu kaya berhasil meneguhkan dirinya
menjadi negara ketiga yang berhasil meluncurkan manusia ke ruang angkasa. Negeri itu
adalah Cina yang kita kenal dengan pesan “utlubil ilma walau bissin”. Cina mampu
meluncurkan pesawat ruang angkasa Shenzhou 5 berawak satu yakni Yang Liwei yang
berusia 38 tahun. Singkatnya, era ilmu pengetahuan yang bertumpu pada keruntutan
berfikir yang secara teologis lebih condong pada teologi Mu’tazilah yang selama ini
justru kita jauhi.
Bagaimana pesan al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan? Apa makna petunjuk dan
pembeda dalam konteks bangunan ilmu pengetahuan? Syekh Jauhari Thonthowi guru
besar universitas Kairo penulis kitab tafsir al-Jawahir membuka tafsirnya dengan
mengungkap fakta sekaligus menggugat ulama islam. Di dalam al-Qur’an hanya terdapat
sekitar 150 ayat hukum sementara ayat kauniyah lima kali lipatnya, yakni sekitar 750
ayat. Ulama islam telah mengerahkan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk menulis
ribuan kitab fikih tetapi nyaris tidak satu pun buku tentang alam ditulis.
Jelas, selama ini kita terlalu berorientasi pada fiqih meskipun dalam praktek
kesehariannya amalan fiqih kita sangat amburadul. Kita perlu menyeimbangkan orientasi
dalam memahami dan menangkap pesan kitab suci dan sunnah rasul saw. Syair-syair
semisal al-fiqhu anfusu syaiin, fiqih adalah segalaanya atau fiqih adalah ilmu yang paling
berharga; idza maa’ tazza dzu ilmin bi ilmin fa ilmul fiqhi aula bi’ tizaazin, bila orang
berilmu mulia lantaran ilmunya maka ilmu fiqih membuatnya lebih mulia, perlu
didekontruksi maknanya. Kita kini berada di dalam kurun interdepedensi, saling
kebergantungan satu dengan yang lain tanpa harus merasa yang satu lebih dari yang lain,
tak terkecuali ilmu fiqih.
Kembali ke pertanyaan bagaimana pesan al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan. Jawabnya
sangat jelas, Allah akan meninggikan derajat orang beriman di antara kalian dan berilmu
(QS 58:11). Ringkasnya, kata kunci bagi kebangkitan islam yang didengung-dengungkan
sejak memasuki abad 15 hijriyah adalah iman dan ilmu. Tentu, yang dimaksud ilmu di
sini termasuk juga ilmu material seperti matematika, fisika, kimia, biologi, komputer dan
berbagai terapannya. Tanpa ilmu material ini kekuatan kita tidaklah maksimal dan tidak
akan mampu menembus bumi seperti yang dilakukan Jepang dalam membangun
laboratorium SuperKamiokande, pendeteksi neutrino, di kedalaman satu kilometer di
bawah permukaan bumi. Kita juga tak bakal mampu menembus langit seperti yang
dilakukan oleh para astronot Rusia, Amerika dan Cina meskipun kita telah hafal di luar
kepala teks al-Qur’an surat ar-Rahman ayat 33. Kekuatan kita tidak maksimal sebab sulit
disangkal bahwa knowledge is power.
Kunci berikutnya sebagai pedoman praktisnya adalah tradisi membaca dan berfikir kritis
sebagaimana surat yang pertama turun yaitu iqra’ bismirabbika alladi khalaq, khalaqal
insana min ‘alaq. Kita harus membangun tradisi membaca ayat-ayat tertulis maupun
ayat-ayat yang terhampar di jagad raya. Karena bangunan ilmu khususnya ilmu modern
sudah didirikan sejak enam abad lalu, kita tak perlu lagi membangun ilmu dari nol
dengan mengamati perilaku alam satu demi satu. Adalah cukup dengan menyimak secara
seksama apa yang telah dilakukan oleh Copernicus, Kepler, Newton, Laplace, Gauss,
Maxwell, Planck, Schrodinger, Feynman, Einstein, Hawking dan banyak lagi lainnya via
artikel atau uraiannya dalam berbagai buku teks. Buku-buku yang memuat ilmu-ilmu
yang telah dikembangkan para ilmuwan tersebut telah memenuhi perpustakaann besar di
seluruh dunia. Ilmunya telah menjadi milik semua orang tanpa kecuali. Persoalannya, kita
ingin memiliki dan menguasainya atau tidak. Atau sebaliknya, kita justru ingin
dikuasainya?
Setelah menguasai dan mengenali pondasi bangunan ilmu tersebut, kita mungkin melihat
adanya bagian-bagian yang perlu ditata ulang dan menjadikan al-Qur’an sebagai sumber
inspirasinya. Sebagai contoh, dalam tataran epistemologi, ilmu modern telah menolak
memasukkan wahyu sebagai sumber ilmu. Di sinilah kita dapat menyodorkan wahyu
sebagai salah satu sumber perolehan ilmu.
Ada contoh yang sangat menarik di dalam kitab suci berkaitan dengan ide wahyu sebagai
sumber irformasi ilmu di atas. Ada dua hewan kecil yang diabadikan menjadi nama surat
sekaligus kandungan ayatnya di dalam al-Qur’an. Hewan tersebut adalah lebah dan semut
Lebah atau an-Nahl menjadi nama surat ke-16 sedangkan semut (an-Naml) surat ke-27.
Keduanya dapat dijadikan starting point dalam riset biologi khususnya zoologi.
Keistimewaan lebah cukup jelas diuraikan di dalam surat an-Nahl ayat 68-69. Pertama,
Allah memberi wahyu kepada lebah agar membangun rumah-rumah mereka di gunung-
gunung dan pepohonan dan makan buah-buahan. Kedua, Allah menginformasikan bahwa
dari perut lebah keluar cairan yang dapat diminum dan berfungsi sebagai obat. Dari ayat-
ayat ini rahasia kelebihan dan keutamaan lebah relatif jelas dan mudah difahami.
Tetapi Allah menggunakan pendekatan lain ketika memaparkan keistimewaan semut.
Allah tidak menggunakan pendekatan apa adanya seperti kasus lebah melainkan
menggunakan pendekatan keindahan atau kekuatan bahasa Arab. Di dalam kasus lebah,
an-nahl menjadi nama surat sekaligus kata yang digunakan di ayat 68. Pengualangan kata
ini juga terjadi tetapi dalam pola yang berbeda dalam kasus semut. An-naml menjadi
nama surat dan bagian dari frasa di dalam ayat 18 yakni waadin namli, lembah semut.
Tetapi lanjutan ayat ini menggunakan istilah yang berbeda untuk semut yakni an-namlatu
bukan an-namlu. Kata an-namlatu berasal dari an-namlu dan mendapat tambahan huruf
ta’ marbutoh (ta’ bulat). Lanjutan ayat ini kembali menggunakan an-namlu sehingga bila
kita bariskan dari nama surat kemudian tiga kata semut di ayat 18 ini adalah an-namlu,
an-namlu, an-namlatu, an-namlu. Sedangkan untuk lebah, an-nahlu dan an-nahlu bukan
an-nahlu dan an-nahlatu. Apa artinya ini?
Ayat lain menyatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan (QS
44:38-39) dan ukuran tertentu (QS 25:2). Dengan demikian pemilihan kata an-namlu, an-
namlu, an-namlatu, an-namlu juga mempunyai tujuan. Tetapi tujuan apa? Kaidah bahasa
Arab mengatakan bahwa ta’ marbutoh adalah tanda isim muannats, kata benda feminin
atau kata benda berjenis perempuan. Penerapan kaidah ini menghasilkan terjemahan
“…telah berkata seekor semut betina …” yang belum pernah penulis temukan dalam al-
Qur’an terjemahan bahasa Indonesia. Semua hanya menerjemahkan dengan “…telah
berkata seekor semut …” tanpa tambahan kata betina.
Penerjemahan semut betina bagi an-namlatu memberi implikasi lebih lanjut yaitu bila
kita perhatikan kalimat lanjutannya yang berupa kalimat perintah (fi’il amr). Singkatnya
sang semut betina dalam keadaan sedang memberi instruksi kepada semut (jantan) yang
berjumlah banyak. Bila kasus ini kita personifikasi sejenak maka dapat dengan mudah
disimpulkan bahwa sang semut betina yang memberi instruksi tidak lain adalah pimpinan
komunitas semut. Artinya, menurut kaidah bahasa dan personifikasi, pimpinan semut
adalah ratu, ratu semut. Karena kesimpulan ini berasal dari interpretasi bukan informasi
langsung yakni kata al-malikatu (ratu) dalam ayat maka sementara kita ambil sebagai
hipotesis yang harus dibuktikan oleh penelitian lapangan.
Riset yang dilakukan oleh para biolog (Barat) memang membuktikan bahwa pimpinan
semut adalah ratu semut. Artinya, interpretasi linguistik dan personifikasi di atas absah
dan terbukti benar. Tetapi yang menjadi perhatian utama dalam pembahasan di sini
adalah bagaimana ayat kitab suci diolah dan dijadikan hipotesis suatu riset ilmiah yang
pada akhirnya melahirkan sebuah teori yang indah dan komprehensif.
Pertanyaan kritis lebih lanjut, semisal mengapa dipilih semut bukan nyamuk, kecoak,
cacing, orong-orong atau hewan kecil lainnya dapat diajukan. Jawabnya juga sudah
dikuak oleh para ilmuwan. Majalah Reader Diggest yang terbit di akhir dasawarsa 70-an
pernah menguraikan panjang lebar keistimewaan semut dibanding hewann lainnya.
Pertama, komunitas semut mempunyai sistem atau struktur kemasyarakatan lengkap
dengan pembagian tugasnya. Kedua, masyarakat semut mengenal sistem peperangan
kolektif. Artinya kelompok semut tertentu yang dipimpin seekor ratu semut dapat
berperang dengan komunitas semut yang dipimpin oleh ratu lainnya. Hewan lain
umumnya bertarung individu-individu. Ketiga, semut mengenal sistem perbudakan. Telur
sebagai harta benda utama dari pihak semut yang kalah perang akan dikuasai dan
diangkut oleh pihak semut pemenang. Telur-telur ini akan dijaga sampai menetas dan
bayi semut ini akan dijadikan budak-budak mereka yang menang. Keempat, semut
mengenal sistem peternakan. Pada daun pohon jambu, mangga, rambutan atau lainnya
kadang terdapat jamur putih lembut. Di sana ada hewan kecil berwarna putih yang
menghasilkan cairan manis. Semut tahu hewan ini malas berpindah karena itu semut
membantu memindahkannya ke tempat baru bila lahan di sekitar itu telah mulai tandus
dan setelah semut memerah cairannya setiap perioda waktu tertentu. Sampai saat ini
belum diketahui hewan lain yang mengenal sistem perbudakan dan peternakan. Kelima,
semut mengenal sistem navigasi yang baik.
Itulah salah satu contoh bagaimana ayat al-Qur’an dapat dijadikan sumber ilmu
pengetahuan dalam contoh ini biologi. Banyak ayat lainnya yang dapat dijadikan sumber
informasi ilmu seperti fisika, kimia dan lainnya selain fiqih yang telah ditulis dalam
ribuan buku. Persoalannya kini adalah perubahan orientasi seperti yang disinggung di
depan, dari yang sekedar fiqih ke oriantasi ayat kauniyah yang melahirkan sains eksakta
yang terbukti mampu menguasai dan mengendalikan peradaban dunia.
*) Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam)-ITS, mantan Vice-President of
Saijo-Hiroshima Moslem Association.
Langganan:
Komentar (Atom)
