Jumat, 23 Agustus 2013

Trensains: Pesantren Alternatif Muhammadiyah

(Menyongsong Musyawarah Ittihadul Ma’ahid al-Muhammadiyah 14-16 September 2012 di Kaliurang)

Agus Purwanto*)

Suara Muhammadiyah, no 18, tahun ke-97, September 2012

Butir amanat muktamar Muhammadiyah ke-45 (2005) di bidang pendidikan, iptek dan litbang menyebutkan:”Membangun kekuatan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya insani, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan eksplorasi aspek-aspek kehidupan yang bercirikan Islam sehingga menjadi alternatif kemajuan dan keunggulan di tingkat nasional atau regional”. (Tanfidz KeputusanMuktamar Muhamadiyah ke-45 di Malang, 2005:61).
Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang dikenal dengan trademark pendidikan. Ribuan sekolah sejak PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah berdiri dari Sabang sampai Merauke. Bukan hanya itu, di setiap kota yang ada sekolah Muhammadiyahnya hampir selalu ada lembaga pendidikan Muhammadiyah yang menjadi terbaik atau favorit. Muhammadiyah pun terus berupaya meningkatkan kualitas terlebih di tengah perubahan yang sangat cepat.
Muhammadiyah dan Pesantren
Amanat muktamar di depan adalah wujud dari sikap antisipatif Muhammadiyah terhadap dinamika perubahan masyarakat. Bagaimanapun kemajuan modernitas bagai mata uang dengan dua sisi, yakni sisi kemajuan material dan sisi degradasi moral. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sedemikian pesat, tetapi pada saat yang sama liberalnya pergaulan membuat para orang tua mencemaskan keadaan putra-putrinya. Di tengah situasi seperti ini sekolah berasrama (boarding school) mulai dilirik masyarakat.
Pondok pesantren atau pesantren saja adalah lembaga pendidikan berasrama yang khas Indonesia dan mengkhususkan diri pada kajian Islam. Pesantren telah ada di Indonesia sejak ratusan tahun lalu sehingga lembaga pendidikan berasrama bukanlah hal baru. Motivasi awal kehadiran pesantren adalah kaderisasi ulama syariah. Memang, para ulama terkemuka di Indonesia lahir dari dunia pesantren.
Mengingat motivasi dan peran tersebut maka Muhammadiyah sebagai gerakan Islam meniscayakan kehadiran pesantren. Muallimin-muallimat Yogjakarta adalah pesantren andalan Muhammadiyah bagi kaderisasi ulama tersebut. Saat ini, sekretaris Itmam (Ittihadul Ma’ahid al-Muhammadiyah, Persatuan Pondok Pesantren Muhammadiyah) mencatat terdapat 102 pesantren Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Muhammadiyah makin merasakan urgensi kehadiran pesantren sebagai lembaga kaderisasi ulama maupun sebagai tuntutan masyarakat. Meskipun demikian, tidak mudah bagi Muhammadiyah untuk mendirikan pesantren karena ciri khas dari pesantren yang berbeda dari lembaga pendidikan umum yang banyak didirikan oleh Muhammadiyah. Pertanyaannya, pesantren model apa yang khas dan dapat direalisasi Muhammadiyah.
Tahun 2009 pondok modern Muhammadiyah yakni Muhammadiyah Boarding School (MBS) berdiri di Klaten. Misi utama MBS adalah mempersiapkan para santri untuk mendalami ilmu syariah di timur tengah. Singkat kata, MBS membidani lahirnya ulama syariah. Meskipun demikian, MBS juga memberi jalan bagi para santri yang ingin melanjutkan studi pada bidang umum seperti kedokteran.
Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo dan pesantren Darul Ihsan Sragen juga berstatus pesantren modern tetapi berbeda dari MBS pada penekanan muatan ajar. Dua pesantren terakhir menekankan pada materi sekolah umum khususnya IPA dan masih terlibat dalam event olimpiade berbagai bidang ilmu. Tipe pesantren modern seperti MBS, Imam Syuhodo dan Darul Ihsan cuku banyak di masyarakat dan bukan t khas Muhammadiyah. Saat ini, ada tipe pesantren yang sedang ngetren tapi belum banyak di Muhammadiyah yaitu pesantren penghafal al-Quran.
Islam vs Sains
Awal tahun 1960an Hossen Nasr intelektual muslim yang tinggal di Amerika memperkenalkan wacana sains Islam dan terus berkembang sampai saat ini. Di Barat, wacana sains Islam berkembang sejalan dengan wacana pergulatan antara agama dan sains. Ian Barbour doktor di bidang teologi dan fisika melakukan analisa dan mendapatkan empat pola hubungan antara gama dan sains. Keempat hubungan tersebut adalah konflik, independensi, dialog dan integrasi antara agama dan sains.
Nasr juga Ismail al-Faruqi, Naquib al-Attas, dan Ziaudin Sardar serta Osman Bakar memandang bahwa ketegangan antara agama khususnya Islam dan sains modern merupakan keniscayaan. Sebabnya, sejak diambil alih Eropa dari pangkuan Islam, sains dikembangkan secara reduksionis dan mengesampingkan transendensi metafisisnya. Karenanya, upaya mengembalikan sains dalam bingkai ilahiah merupakan tugas besar ilmuwan muslim saat ini dan mendatang.
International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Virginia Amerika dan cabang terkemukanya di Kuala Lumpur adalah lembaga bagi realisasi upaya tersebut. Salah satu program IIIT adalah memberi beasiswa mahasiswa pascasarjana bidang sains Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilizations (ISTAC) di International Islamic University Malaysia (IIUM) Kuala Lumpur. ISTAC sendiri awalnya adalah lembaga independen yang didirikan awal 1980an oleh Naquib al-Attas bagi upaya unifikasi Islam dan sains, yang kemudian digabung menjadi program pascasarjana pemikiran Islam IIUM.  
Di Indonesia, gerakan ini mulai dilakukan dengan menata ulang IAIN menjadi UIN dan memasukkan fakultas sains dan teknologi di dalam UIN. Dua UIN paling aktif dalam upaya integrasi Islam dan sains adalah UIN Malang dan Yogjakarta. Beberapa cendekiawan secara independen juga terlibat dalam diskursus ini.
Pesantren Baru
 Sejak buku Ayat-Ayat Semesta (AAS) tahun 2008 penulis terlibat aktif sosialisasi wacana interaksi antara Islam dan sains dari kampus ke kampus, pesantren dan majelis-majelis ta’lim. Setelah empat tahun sosialisasi muncul gagasan trensains, pesantren sains, institusionalisasi AAS atau pun sains Islam.
Trensains mempunyai profil lulusan: i) lancar berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan ii) bahasa Arab, iii) jago IPA dan matematika serta iv) paham diskursus pergulatan Islam dan sains. Transains berorientasi melahirkan ilmuwan, insinyur dan dokter yang basis al-Quran dan filsafat yang kokoh. Moto trensains, Generasi Pecinta al-Quran dan Sains.
Kemampuan bahasa Inggris dan Arab merupakan ciri umum pesantren modern. Karena orientasi alumni adalah studi lanjut baik di dalam maupun luar negeri maka diupayakan ketika lulus telah mempunyai skor TOEFL. Pemenuhan profil jago IPA dan matematika selain diterapkan dalam proses selama pendidikan juga diterapkan sejak saringan calon santri. Singkat kata, para calon santri harus mempunyai nalar matematika dan IPA yang kuat. Sampai di sini, trensains masih sama dengan pesantren modern yang telah ada.
Profil keempat paham wacana interaksi agama khususnya Islam dan sains menandai sekaligus membedakan trensains dari pesantren yang telah ada selama ini. Di pesantren modern biasa materi al-Islam, dan sains (biologi, fisika, kimia) juga diberikan tetapi tanpa dibahas hubungan dinamis keduanya. Materi untuk pemahaman topik ini adalah al-Quran dan hadits, logika, filsafat, sains, agama dan sains.
 Materi al-Quran diurai dalam seluk-beluk, pengantar tafsir, tafsir ilmiy, tafsir bil ilmiy dan eksplorasi pada ayat-ayat kauniyah. Materi hadits juga demikian, pengantar studi hadits, jenis dan fungsi hadits, serta eksplorasi hadits-hadits terkait alam dan fenomenanya. Hafalan al-Quran dan hadits dipilihkan bagian kauniyah dan yang terkait.
Materi logika dijabarkan dalam pengantar, jenis dan asas pemikiran. Sedangkan materi filsafat dijabarkan dalam pengertian, sifat dan fungsi serta sejarah kelahiran filsafat, filsafat Islam dan filsafat Barat modern. Kelahiran filsafat untuk memberi pemahaman mengenai proses penalaran sederhana dan terbentuknya teori-teori primitip. Filsafat Barat modern untuk memahami sifat dasar ilmu pengetahuan saat ini.  
Materi sains djabarkan dalam pengertian, sifat, topik tertentu dan sejarah sains sejak jaman Mesir kuno sampai sekarang. Riwayat singkat tokoh filsafat ilmu dan ilmuwan diberikan. Bidang sains yang erat dengan wacana islamisasi sains hanya ada dua yaitu astronomi, biologi dan fisika. Topik di biologi yang harus diberikan adalah asal-usul kehidupan, teori evolusi dan genetika. Sedangkan topik di fisika dan astronomi adalah teori atom, jagat raya dan kelahirannya. Teori relativitas dan kuantum diberikan dalam bentuk semi populer.
Buku The Bible, The Qur’an and Science karya Maurice Bucaille Perancis dan al-‘Ijaz al-‘Ilmiy fi as-Sunnah an-Nabawiyah karya Zaghlu an-Najar Mesir dapat dijadikan sebagai rujukan utama bagi tema kaitan antara al-Quran-Hadits dan sains. The Origin of Species karya Charles Darwin, The First Three Minutes karya Steven Weinberg, Brief History of Time dan The Grand Designer karya Stephen Hawking dapat dijadikan pegangan topik sains. Masih banyak lagi buku asing maupun yang ditulis oleh penulis dalam negeri yang dapat diperoleh di toko-toko buku. Materi-materi di depan tentu harus disesuaikan dengan tingkatan trensains, apakah tingkat SMA atau mahasiswa.
Untuk tahap awal, trensains akan direalisasi di Kesamben Mojoagung Jombang dan pesantren darul Ihsan Sragen. Trensains di Jombang bekerjasama dengan KH Shalahudin Wahid. Program dimulai dari awal, telah tersedia tanah sepuluh hektar dan proses pembangunan gedung dimulai September 2012 dan diupayakan telah menerima santri tahun ajaran 2012/2013. Trensains Darul Ihsan Sragen dilakukan dengan memodifikasi pesantren yang telah berjalan. Kedua trensains ini setingkat SMA. Muhammadiyah sangat mungkin untuk merealisasi trensains, baik level SMA maupun universitas.




*) Penulis, Anggota MTT PP 2010-2015, Pengajar Pascasarjana Fisika ITS, Visiting Fellow ISTAC-IIUM. Penulis buku BestSeller Ayat-Ayat Semesta

Insentif Berbasis Publikasi Internasional

Kompas, 19 Nopember 2011

Dunia riset kita masih carut-marut dan derita para periset belum akan berakhir karena gaji dan penghargaan masih jauh dari memadai. Demikian isi utama laporan Kompas selama sepekan sejak 24/10/2011 tentang riset dan aneka masalahnya di tanah air. Dari sekian banyak masalah riset yang disorot, diulas dan diusulkan oleh Liek Wilardjo (Kompas, 30/9/2011), Tri Ratnawati dan Satryo BS (Kompas, 1/11/2011), ada satu yang masih belum mendapat perhatian yakni ilmuwan sejati yang telah eksis. Di tengah keadaan yang jauh dari kondusif, dengan berbagai cara dan komitmennya mereka berhasil membuktikan kerja sebagai ilmuwan sejati.
Jurnal Internasional
Ilmuwan sesuai dengan namanya adalah orang yang melakukan pencarian sesuatu yang baru atau orisinil dengan kerja ilmiah.  Ilmuwan lekat dengan orisinalitas. Inilah yang membedakan ilmuwan dengan yang bukan ilmuwan. Teknisi dan laboran juga melakukan kerja ilmiah tetapi sifatnya rutin dengan prosedur dan hasil yang telah diketahui.
Seorang dosen bergelar doktor atau bahkan professor dapat saja sangat piawai menjelaskan teori-teori rumit. Tetapi selama belum mempunyai kontribusi orisinal yang tertulis dan dimuat di jurnal internasional maka ia belum ilmuwan tetapi hanya teknisi teoritis. Ia dosen atau pengajar biasa yang mungkin sangat pintar atau hafal di luar kepala karena telah mengajar subyek tersebut bertahun-tahun.
Barometer kerja ilmuwan hanya dua, publikasi di jurnal internasional atau patent. Di suatu universitas, bisa jadi ada seribu dosen, sekian ratus doktor dan sekian puluh guru besar tetapi hanya beberapa yang mampu eksis sebagai ilmuwan. Sebagai contoh di UI, menurut Terry Mart (Kompas 24/9/2011), dari sekitar 3000 dosen (bidang eksakta dan humaniora) hanya 200 yang diklasifikasi sebagai dosen inti penelitian, sedangkan sisanya adalah dosen pengajar dan struktural. Dari 200 dosen ilmuwan ini UI berharap menghasilkan 150 publikasi internasional per tahun.
Ilmuwan dalam negeri dengan publikasi internasional jelas merupakan orang hebat bahkan mungkin setengah gila. Dengan berbagai kendala yang ada mereka masih mampu bertahan bahkan menghasilkan karya orisinal. Sekian ratus bahkan sekian ribu orang pintar dikirim studi lanjut di luar negeri setiap tahunnya. Mereka pun mendapatkan gelar akademik tertinggi doktor tetapi hanya sedikit yang terus eksis sebagai ilmuwan ketika telah kembali ke tanah air.
Penelitian yang dipublikasi di jurnal internasional, selain membuktikan kualitas sang peneliti juga memperkenalkan peneliti dan institusinya ke tingkat internasional. Pengakuan internasional (international recognition) secara substansial suatu perguruan tinggi otomatis akan meningkat dengan jumlah publikasi internasional ini. 
Pada saatnya, normal tidaknya perguruan tinggi harus diukur dari output publikasi internasionalnya. Atase pendidikan Indonesia di India, Dr Son Kuswadi,  beberapa waktu lalu menemani beberapa rektor PTN berkunjung ke Indian Institute of Technology di New Delhi. Fasilitas di IIT ini relatif terbatas dan lebih kuno dari fasilitas PTN besar di Indonesia. Di balik keterbatasan ini IIT ternyata tergolong luar biasa, IIT menghasilkan 1958 publikasi internasional per tahun dari total 500 dosennya.
Keadaan tersebut terbalik dengan ITB, Rektor ITB yang bergabung dalam rombongan tersebut berkomentar, ITB hanya mempunyai 500 publikasi internasiomal per tahun dari sekitar 1200 dosen yang dimilikinya. Sedangkan ITS baru 103 publikasi  per tahun dari sekitar 1100 dosen yang dimiliki.
Insentif Khusus
Kemenristek perlu membuat program insentif khusus dan besar bagi akademisi atau peneliti yang telah menghasilkan produk berupa publikasi di jurnal internasional. Besar insentif untuk satu publikasi internasional dengan semua penulis Indonesia adalah Rp 100 juta. Program insentif telah ada tetapi baru sekedar cukup untuk membayar biaya muat publikasi ketika artikel diterima suatu jurnal.
Angka dosen ilmuwan dan angka harapan publikasi per tahun UI cukup menggambarkan kemampuan umum ilmuwan kita. Angka-angka tersebut secara kasar menyatakan satu ilmuwan menghasilkan satu publikasi dalam satu tahun empat bulan. Artinya, insentif Rp 100 juta menjadi tambahan gaji sebesar 6 juta rupiah per bulan. Angka yang belum seberapa jika dibanding gaji peneliti di Malaysia yang sekitar Rp 45 juta per bulan, tetapi sangat berarti bagi para dosen ilmuwan di Indonesia. Kalau pun ada dosen mampu menghasilkan dua atau tiga publikasi internasional per tahun maka insentif tetap harus diberikan secara utuh karena memang layak diberikan atas kemampuannya.
Setiap tahun, pemerintah telah menggelontorkan dana hibah penelitian pada perguruan tinggi yang diperebutkan dan dibagikan berdasar proposal penelitian. Masalahnya, hasil penelitian yang dibiayai dana hibah ini hanya berupa laporan yang sifatnya formalitas tidak sampai pada taraf publikasi internasional. Tidak ada mekanisme penilaian yang efektif atas hasil penelitian. Barangkali inilah alasan mengapa kemenristek belum berencana menaikkan gaji para peneliti (Kompas, 26/10/2011).
Pemberian insentif berbasis karya berupa publikasi di jurnal internasional akan memotong rantai penelitian basa-basi. Program ini sekilas terasa aneh, bagaima mungkin seseorang dapat berkarya jika tidak ada anggaran dan fasilitas seperti dikeluhkan selama ini. Kenyataannya memang ada periset atau ilmuwan yang eksis dalam berbagai keterbatasan ini. Mereka harus diapresiasi secara khusus. Merekalah ilmuwan sekaligus pahlawan sejati yang mampu menghidupkan tradisi riset secara signifikan dan meningkatkan pengakuan internasional bagi lembaga riset dan pendidikan tinggi Indonesia.

Oleh: Agus Purwanto, fisikawan teoritik ITS 


Jumat, 28 Oktober 2011

Sidang Itsbat Sudah Tidak Relevan

Wawancara Deny al-Asy’ari dari Suara Muhammadiyah (SM) dan Agus Purwanto, DSc.,(AP) doktor fisika teori ITS dan instruktur falak hisab

dimuat dalam kolom DIALOG Suara Muhammadiyah NO 19 Oktober Tahun 2011

di sini ditampilkan sebelum diedit

<<< Politisasi Idhul Fitri >>>

Sidang Itsbat Sudah Tidak Relevan

SM: Walaupun Perayaan idul fitri telah selesai dilaksanakan umat Islam, namun perbedaan pelaksanaaan hari raya idul fitri tersebut masih menyisakan polemik dan persoalan tersendiri, khususnya menyangkut kontroversi kriteria penetapan 1 Syawal bagi umat Islam. Bagaimana sesungguhnya anda melihat persoalan perbedaan kriteria dalam penetapan 1 Syawal ini?

AP: Pertama, masalah ini harus disampaikan kepada umat secara jujur, jernih dan apa adanya.

Kedua, bicara masalah kriteria berarti bicara metoda hisab sebagai titik awal bulan baru.

Ketiga, masalah perbedaan kriteria juga terjadi di tingkat internasional antar negara, sedangkan di Indonesia terjadi antara ormas Muhammadiyah dan PERSIS.

Keempat, masalah perbedan awal bulan qamariyah juga muncul dari kelompok-kelompok kecil maupun kelompok yang lebih besar yang menerima rukyat global yang tidak bergantung pada keputusan sidang itsbat pemerintah Indonesia.

SM: Betulkah motode Hisab wujudul Hilal Muhammadiyah sebagaimana yang dinilai oleh pakar astronomi Prof. Thomas Djamaluddin merupakan metode usang yang tidak relevan dengan konteks keilmuan sekarang? Bagaimana penjelasan anda?

AP: Ini yang juga harus dijernihkan. Wujudul hilal bukan metoda tetapi kriteria. Metoda hisab Muhammadiyah, PERSIS dan kemenag sekarang relatif sama, sistem atau metoda ephemeris dengan data-data Bulan dan Matahari sudah dikemas dalam software winhisab.

Seperti yang telah saya tulis di email yang sudah menyebar di dunia maya. Kalau wujudul hilal dikaitkan dengan keterlihatan hilal, tudingan Thomas benar. Imkanurrukyat memang merupakan jalan tengah dalam arti menampung rukyat di ranah hisab. Kira-kira berapa derajat sih ketinggian hilal yang bisa dilihat dengan mata.

Masalahnya, imkanur rukyat sendiri (khususnya) secara internasional belum seragam dan ketidak seragaman itu juga tidak menghasilkan kesamaan awal bulan. Nah, karena kriteria visibilitas minimum (ketinggian minimum yang memungkinkan hilal terlihat) belum jelas dan terus bergerak, setahu saya, membuat Muhammadiyah berfikir ulang tentang apa yang mendasar dari masalah ini. Muhammadiyah pun sampai pada pemahaman eksistensi atau wujud hilal dan itu berarti NOL derajat.

Masalah timbul ketika eksistensi hilal kurang dari angka visibilitas atau imkanur rukyat. Muhammadiyah sebagai penganut kriteria wujudul hilal menerima esok sebagai bulan baru sedangkan kelompok imkanurrukyat menggenapkan bulan menjadi 30 hari atau dengan kata lain bulan baru masih lusa.

SM: Bagaimana pula sebaliknya anda melihat dengan pendekatan rukyat (imkanur Rukyat) yang diagung-agungkan oleh pemerintah dan kelompok tertentu dalam menentukan 1 Syawal, Sempurnakah metode tersebut?

AP: Sekali lagi, bukan metodanya lho tetapi kriterianya. Kriteria 2 derajat belum sempurna, yang saya tahu kriteria 2 derajat akan dinaikkan menjadi 4 derajat. Dalam makalah yang ditulis wakil PERSIS ketika konferensi kalender Islam internasional tahun 2007 di Jakarta bahkan mau menaikkan sampai 9 derajat.

Dari sidang itsbat 29 Agustus lalu juga mulai dapat dilihat bahwa pemerintah sebenarnya tidak mengagung-agungkan rukyat tetapi diam-diam telah menerima hisab imkanurrukyat. Jadi, menurut saya, Prof Thomas Djamaluddin telah sukses merobah cara berfikir orang-orang kemenag yang awalnya penganut rukyat murni menjadi penganut hisab imkanurrukyat. Saya fikir hal ini juga harus diapresiasi warga Muhammadiyah sebagai lokomotif hisab di Indonesia.

SM: Dalam sidang Istbat di kementerian Agama tanggal 29 Agustus yang lalu, ada kesan pemerintah memaksakan keputusannya dengan mendeskreditkan keputusan yang diambil oleh kelompok atau ormas yang berbeda dengan pemerintah, kenapa pemerintah bisa demikian? Ada apa sebenarnya dengan sikap pemerintah tersebut?

AP: Tidak tahu. Kemungkinan begini, bintang sidang itsbat lalu khan Prof Thomas Djamaluddin. Tadi saya sebutkan, Prof Thomas telah berhasil merobah cara berfikir orang-orang kemenag tetapi belum berhasil merayu orang Muhammadiyah untuk merubah kriteria wujudul hilal menjadi imkanurrukyat. Secara manusiawi, sepertinya beliau gemes juga. Apalagi sekarang beliau telah Guru Besar.

SM: Pemerintah maupun lembaga ilmiah seperti LAPAN seharusnya menjadi institusi yang obyektif dalam kepentingan ummat, namun kenapa terkesan justru terjadi politisasi dari keputusan tersebut? Sehingga banyak data dan fakta diabaikan karena berseberangan dengan keputusan pemerintah.

AP: Dengan ditayangkannya sidang itsbat secara luas masyarakat menjadi tahu kalau yang bersidang ternyata hanya seperti itu. Selanjutnya, Sidang itsbat 29 Agustus 2011 lalu menjadi momen penting untuk evaluasi total karena publik luas tahu sidang para ulama tersebut ternyata tidak ubahnya seperti sidang partai politik. Kasar dan naif, tidak merepresentasikan keutamaan dan kewibawaan ulama.

SM: Masyarakat sebenarnya sangat santun dalam perbedaan, namun justru pemerintah (kementerian agama) terkesan belum menunjukkan contoh yang bisa ditauladani dalam menyikapi perbedaan ini, bagaimana seharusnya rakyat bersikap?

AP: Warga Muhammadiyah relatif tidak bingung karena telah diberitahu jauh hari sebelumnya, idhul fitri 1432 bertepatan dengan 30 Agustus 2011. Warga PERSIS juga tidak bingung karena akan idhul fitri 31 Agustus 2011. Warga NU masih wait and see hasil rukyat. Sayangnya, hasul rukyat Jepara dan Cakung ditolak. Masyarakat yang tidak berafiliasi pada ormas-ormas ini bingung karena pemerintah tidak segera membuat pengumuman kapan idhul fitri.

SM: Bagaimana menurut anda signifikansi siding istbat yang dilakukan pemerintah, apakah siding seperti ini masih perlu dan penting bagi umat Islam?

AP: Jika kita telah menerima hisab dengan berbagai kriterianya, sidang itsbat menjadi tidak relevan dan mubadzir. Contohnya, sidang itsbat untuk Dzulhijjah 1431 tahun lalu, dan yang terbaru 29 Agustus. Karena hasil hisab menyatakan tinggi hilal kurang dari 2 maka kesaksian berhasil merukyat ditolak dan ditetapkan idhul fitri 31 Agustus. Itu artinya, tim ahli kemenag khan tahu kalau hilal tidak mungkin terlihat jadi seharusnya mereka tidak mengijinkan orang-orang merukyat. Mereka juga tahu jauh sebelumnya kalau mereka (kemenag, PERSIS dan lainnya) akan idhul fitri 31 Agustus.

Untuk apa menunggu berkumpul untuk sidang yang seharusnya sakral tapi malah berubah menjadi sidang penghakiman bahkan dengan kata dan ungkapan yang tidak menunjukkan derajat keulamaan. Sidang itsbat itu selain cacat logika tetapi juga mubadzir serta menjadi sumber kebingungan umat.

Jika siding itsbat diperthankan, apa alasannya? Untuk apa? Kita tidak dapat mencegah orang berimajinasi dan menduga-duga sendiri bahwa sidang itsbat adalah sidang politik minimum politik anggaran yang berkedok sidang keagamaan. Maklum, sidang itsbat pasti tidak gratis dan tidak murah.

SM: Bagaimana pula anda melihat keberadaan bulan pada tanggal 12 Agustus, apakah keberadaan bulan purnama ini bisa dijadikan indikasi kebenaran keputusan Muhammadiyah dalam menentukan 1 Syawal 30 Agutus yang lalu?

AP: Tahun 2007 saya dapat masukan dari beberapa nelayan dan penambak ikan di daerah pantai timur Kenjeran Surabaya, bahwa mereka bisa menentukan sendiri kapan tanggal satu bulan qamariyah. Mereka bahkan curhat, mengapa mereka tidak pernah ditanya menteri agama tentang awal bulan.

Dari info mereka saya coba cari landasan nash tentang Bulan Purnama apakah bisa menjadi hakim atas perbedaan. Ada satu ayat tentang purnama, QS 84:18. Ayat ini hanya mengisyaratkan urgensi karena muncul dalam redaksi sumpah. Info lebih spesifik kita temukan pada hadits shaum tiga hari setiap bulan yakni shaum pada ayyamul biidh yang secara spesifik disebutkan sebagai tanggal 13, 14 dan 15. Masalahnya, apa makna hari-hari yang putih di hadits ini? Saya memahami sebagai hari yang terang terus tanpa jeda gelap ketika pergantian siang ke malam. Artinya, ketika maghrib tanggal 13, 14 dan 15 Bulan ada di atas ufuk timur sehingga hari tetap terang meskipun Matahari telah tenggelam. Tanggal 16 dan 17 meski malamnya juga terang tetapi saat maghrib Bulan belum muncul di ufuk timur sehingga ada jeda gelap. Secara umum, ini lebih mendukung wujudul hilal.

Tetapi ada juga yang memahami bahwa hari-hari putih adalah hari-hari dengan malam paling terang karena Bulan paling bundar. Bila demikian, ini terjadi tanggal 14, 15 dan 16 menurut hisab criteria wujudul hilal tetapi bergeser menjadi tanggal 13, 14 dan 15 menurut imkanurrukyat dan tetap sesuai dengan redaksi hadits.

Jadi masih sulit ketemu juga.

SM: Agenda apa seharusnya yang mesti dilakukan oleh Umat Islam termasuk pemeritah ke depannya, agar penyatuan terhadap penanggalan Islam bisa dilakukan, sekaligus mampu bersikap bijaksana dan santun jikalaupun terjadi perbedaan?

AP: Pertama, bagi saya pribadi, mohon maaf, masalah awal bulan qamariyah merupakan masalah yang paling menggelikan dan seolah memperlihatkan muslim dunia termasuk Indonesia itu stupid. Betapa tidak, 15 abad kita tidak pernah mempunyai kalender qamariyah. Sebagian bertahan dengan keyakinan keharusan rukyat, sebagian lagi telah menerima hisab tetapi masih juga berbeda awal bulannya. Untuk masalah ini harus dikembangkan paradigma kesatuan awal bulan global apapun kriteria hisabnya. Konsekwensinya, harus menerima aneka kriteria, yang penting satu tanggal satu.

Kedua, sampai tahun 1440 tidak ada perbedaan idul ftri tetapi beda idul adha, 1435 dan 1436. Ada juga perbedaan awal Ramadlan tetapi khan tidak ada ibadah massif di tanah lapang. Sekali lagi, sidang itsbat tidak diperlukan, pemerintah tinggal mengumumkan waktu-waktu awal bulan versi yang ada jauh hari sebelumnya. Misalkan di awal tahun masehi agar masyarakat siap dengan jadwal mudiknya juga jauh hari sebelumnya. Jadi masyarakat perlu diajak berfikir rasional.

Ketiga, yang berbeda dari pemerintah bukan hanya Muhammadiyah tetapi beberapa kelompok lain termasuk jamaah Hizbut Tahrir yang secara umum menerima rukyat global. Karena secara umum, makin ke barat maghrib makin kemudian dan hilal makin tinggi maka meskipun di Indonesia masih kurang dari dua, di negeri sebelah barat sudah lebih tinggi dan lebih memungkinkan untuk merukyat. Artinya, hisab global justru lebih cenderung bersamaan dengan criteria wujul hilal bila di Indonesia ada perbedaan.